PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menjadikan perayaan Idul Fitri 1447 H sebagai momentum untuk memperkuat nilai kesetaraan dan harmoni sosial melalui tradisi Makan Saprahan. Digelar di Pendopo Gubernur pada Minggu (21/3), tradisi khas Melayu ini bukan sekadar jamuan makan bersama, melainkan simbol runtuhnya sekat antara pemimpin dan rakyat dalam semangat "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi."
Dalam pelaksanaannya, Gubernur Ria Norsan tampak membaur dengan duduk bersila di atas lantai bersama tokoh agama, pejabat daerah, hingga masyarakat umum. Pola makan komunal yang melibatkan enam orang dalam satu kelompok hidangan ini dipilih secara sengaja untuk menunjukkan bahwa di hari yang suci, setiap individu memiliki kedudukan yang sama dalam balutan persaudaraan.
"Makan Saprahan ini adalah cerminan jati diri masyarakat Kalimantan Barat. Tidak ada sekat antara pemimpin dan rakyat, semua duduk bersama menikmati berkah yang sama," tegas Ria Norsan di sela-sela kegiatan.
Gubernur menekankan bahwa pelestarian tradisi ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan budaya daerah di tengah arus modernisasi. Menurutnya, Saprahan mengajarkan adab, tata krama, dan gotong royong yang menjadi fondasi utama kehidupan sosial yang harmonis di Bumi Khatulistiwa. Ia berharap semangat kebersamaan ini tidak hanya berhenti di meja makan, tetapi meresap ke dalam pola kerja dan interaksi sosial sehari-hari.
Sajian khas seperti Pacri Nenas, Ketupat Patlau, hingga sayur dalca yang disajikan di atas kain seprah menambah kekentalan nuansa kearifan lokal. Kehadiran para Kepala OPD, tokoh adat, dan ribuan warga yang memenuhi pendopo hingga siang hari membuktikan bahwa tradisi ini tetap menjadi magnet sekaligus perekat persatuan masyarakat Kalimantan Barat dalam merayakan kemenangan Idul Fitri. (arya)
