YOGYAKARTA – Ribuan abdi rakyat dari seluruh penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta memadati kawasan Titik Nol Kilometer hingga Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk menggelar kirab budaya dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (2/4/2026). Momentum ini menjadi simbol kesetiaan dan rasa syukur para Lurah, Pamong, serta Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) se-DIY melalui persembahan "Gelondong Pangarem-arem" atau upeti hasil bumi dari tanah-tanah kas desa. Gelaran ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud terima kasih kolektif atas penggunaan tanah milik Keraton (Sultan Ground) yang selama ini menjadi penopang Pendapatan Asli Desa (PAD) di wilayah masing-masing.
Pagi itu, suasana khidmat terasa menyelimuti udara Yogyakarta saat jarum jam menunjukkan pukul 07.45 WIB. Sri Sultan HB X tiba di lokasi didampingi permaisuri GKR Hemas, serta kelima putri dan menantunya. Sultan tampak bersahaja mengenakan batik bernuansa hijau, warna yang senada dengan kebaya GKR Hemas, memberikan kesan sejuk di tengah ribuan pasang mata yang menanti. Di barisan undangan, para Wali Kota dan Bupati se-DIY tampil kompak dengan setelan beskap putih bersih, menambah wibawa prosesi yang berlangsung di Kagungan Dalem Pagelaran.
Tak lama setelah laporan Ketua Umum Paguyuban Nayantaka, Gandang Hardjanata disampaikan, iring-iringan kirab pun dimulai. Kelompok lurah dari Kota Jogja menjadi pembuka jalan, mengarak gunungan jajan pasar dan aneka produk UMKM unggulan. Di belakang mereka, mengikuti rombongan dari berbagai kabupaten dengan membawa kekayaan buminya masing-masing. Ada aroma durian yang semerbak dari rombongan Kulon Progo, tumpukan kelapa dari pesisir, hingga ketela yang dibawa dengan bangga oleh para pamong dari perbukitan Gunungkidul.
"Apa yang kami bawa adalah simbol dari potensi daerah masing-masing. Yang punya durian bawa durian, yang punya ketela bawa ketela. Intinya, kami ingin menghaturkan sebagian kecil hasil dari tanah-tanah Keraton yang selama ini telah menghidupi masyarakat desa," ujar Gandang Hardjanata dengan nada penuh haru.
Sepanjang jalur kirab, sekitar 12 ribu peserta berpakaian adat Jawa berbaur dengan masyarakat umum yang mengenakan batik. Meski jumlah massa membludak, prosesi tetap berjalan tertib. Warga yang menonton di pinggir jalan seolah menjadi saksi bisu dari sebuah tradisi kuno yang masih bernapas lega di era modern: sebuah pertalian batin antara rakyat, tanah, dan rajanya yang kini genap berusia delapan dekade. (surya)
