MEMPAWAH-Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) menegaskan komitmennya dalam mempercepat pemerataan pembangunan dari tingkat akar rumput melalui peluncuran program strategis bertajuk “Gema Membangun Desa”. Langkah nyata ini diwujudkan lewat aksi jemput bola yang dipusatkan di Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah pada Kamis (7/5/2026). Agenda ini merupakan manifestasi konkret dari visi pembangunan inklusif yang diusung oleh Gubernur Ria Norsan dan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan untuk periode 2025–2030, dengan tujuan utama menggeser poros pembangunan agar tidak lagi terpusat di wilayah perkotaan melainkan langsung menyentuh sentra perekonomian desa.
Pengembangan ekonomi bersumber dari potensi lokal desa menjadi prioritas utama yang dikejar oleh duet kepemimpinan Ria Norsan dan Krisantus Kurniawan melalui program ini. Gubernur Ria Norsan menegaskan bahwa "Gema Membangun Desa" dirancang sebagai instrumen untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara masif sekaligus mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat. Melalui kebijakan ini, pemerintah provinsi ingin memastikan warga pedesaan tidak lagi merasa terisolasi atau jauh dari jangkauan fasilitasi negara.
Pemotongan jalur birokrasi dan penyediaan solusi instan di lapangan sukses dilakukan dengan mengerahkan belasan kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) provinsi ke Desa Sambora. Dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kalbar, Hironimus Hero, Pemprov Kalbar menyediakan sedikitnya 19 jenis pelayanan terpadu, baik secara cuma-cuma maupun bersubsidi. Intervensi pelayanan tersebut mencakup operasi pasar murah dan bazar telur untuk meredam inflasi, pemeriksaan kesehatan fisik dan jiwa, pengurusan administrasi kependudukan (KTP dan Akta), hingga pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) gratis bagi para pelaku UMKM.
Kemandirian finansial desa menjadi target jangka panjang yang ingin dicapai Pemprov Kalbar melalui optimalisasi sektor kelembagaan lokal. Mengingat sebagian besar sumber daya alam seperti pertanian, perikanan, pertambangan, hingga pariwisata berada di wilayah pedesaan, pemerintah daerah terus mendorong penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kini diintegrasikan melalui Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdeskel). Transformasi ini diharapkan mampu mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes) secara signifikan, sehingga desa dapat tumbuh mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada kucuran Dana Desa dari pemerintah pusat.
Aksi taktis pemprov ini menuai apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Mempawah karena dinilai menjawab langsung ekspektasi dan kebutuhan riil warga di daerah. Bupati Mempawah, Erlina, mengungkapkan bahwa tingginya antusiasme warga yang memadati lokasi kegiatan menjadi bukti sahih betapa rindunya masyarakat akan kehadiran dan perhatian langsung dari jajaran pemerintah provinsi di tengah-tengah mereka.
Keberhasilan acara ini juga membawa kebanggaan tersendiri bagi pihak pemerintah desa sekaligus membuka peluang kolaborasi strategis untuk pengembangan potensi wisata lokal yang unik. Kepala Desa Sambora, Fransiskus, menyebutkan bahwa momentum ini adalah pertama kalinya desa mereka menjadi pusat kegiatan berskala provinsi. Ia optimistis kehadiran pemprov dapat menjadi katalisator bagi pengembangan destinasi wisata olahraga paralayang yang sedang dirintis oleh pihak desa, sebuah potensi unggulan yang sebelumnya sempat memikat perhatian Gubernur Ria Norsan saat melakukan kunjungan kerja ke wilayah tersebut.(arya)
