Solar Subsidi Langka, Pengusaha Kapal Klotok di Kubu Raya Hentikan Operasional

 

Foto : Istimewa

KUBU RAYA - Krisis bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar di Pelabuhan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, telah melumpuhkan aktivitas transportasi kapal klotok selama dua hari terakhir dan memicu efek domino bagi mobilitas masyarakat. Kelumpuhan ini terjadi akibat para pengusaha kapal kesulitan mendapatkan solar dengan harga normal. Dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat yang hendak menuju wilayah pesisir seperti Padang Tikar dan Kabupaten Kayong Utara, yang kini terisolasi dari pilihan transportasi murah.

Pengalihan paksa ke moda transportasi alternatif seperti speedboat menjadi konsekuensi pahit yang harus ditanggung warga demi mengejar waktu. Penumpang yang memiliki urusan mendesak terpaksa merogoh kocek lebih dalam karena tarif speedboat jauh lebih mahal dibanding kapal klotok. Salah satu warga Kubu Raya, Saifudin, mengaku terpaksa membayar tarif speedboat sebesar Rp110 ribu demi menghadiri acara keluarga di Sponti, Kabupaten Kayong Utara. Padahal, jika menggunakan kapal klotok yang biasa ia tumpangi, tarifnya hanya berkisar Rp90 ribu. Pengalaman pertama menggunakan speedboat ini terpaksa ia jalani karena tidak adanya pilihan lain, sembari berharap operasional kapal klotok bisa segera normal kembali.

Sektor pendidikan di wilayah pesisir juga ikut terdampak serius akibat lumpuhnya transportasi sungai ini, terutama bagi para tenaga pendidik yang harus kembali bertugas. Para guru dari luar daerah kini terjebak di pelabuhan karena kapal reguler sama sekali tidak menjual tiket dan berhenti beroperasi sejak hari Minggu hingga Senin pagi. Kepala SMP Negeri 3 Batu Ampar di Desa Sungai Jawi, Kastono, adalah salah satu yang terdampak. Dirinya tidak menduga bahwa aksi mogok operasional kapal klotok ini akan berlanjut hingga hari Senin, sehingga menyulitkannya untuk mencapai lokasi mengajar tepat waktu.

Moda transportasi alternatif seperti speedboat dinilai sama sekali tidak efektif dan tidak solutif bagi kebutuhan operasional para guru di tempat tugas. Hal ini dikarenakan speedboat tidak mampu mengangkut sepeda motor, padahal kendaraan pribadi tersebut sangat krusial untuk menempuh jarak puluhan kilometer dari pelabuhan menuju sekolah. Selain masalah fungsional, faktor biaya yang membengkak drastis juga menjadi beban berat; tarif speedboat mencapai Rp140 ribu per orang dibandingkan tarif kapal klotok yang hanya Rp60 ribu, belum lagi ditambah ongkos ojek pelabuhan menuju sekolah yang mencapai Rp75 ribu.

Kondisi kelangkaan transportasi ini pada akhirnya mengancam kedisiplinan dan kinerja para guru akibat diterapkannya sistem absensi berbasis lokasi digital. Banyak tenaga pendidik di Batu Ampar dan Padang Tikar yang berdomisili di Pontianak maupun Sungai Raya kini terancam dianggap tidak masuk kerja karena tertahan di perjalanan. Persoalan pasokan solar di Pelabuhan Rasau Jaya ini pun tidak lagi sekadar masalah teknis transportasi, melainkan telah meluas menjadi ancaman nyata bagi kelancaran dunia pendidikan di wilayah pelosok Kubu Raya. (arya)

Lebih baru Lebih lama