Harga tembaga turun, konflik AS-Iran memicu kekhawatiran inflasi


Harga tembaga mengalami penurunan pada awal pekan ini, dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi dan inflasi global muncul akibat eskalasi konflik yang berdampak pada stabilitas pasar.

Pada perdagangan Senin (13/7/2026), harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun sebesar 0,72% menjadi US$ 13.387 per metrik ton. Di sisi lain, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) juga melemah 0,75% ke level 103.030 yuan per ton.

Ketegangan antara AS dan Iran memicu serangan rudal dan drone yang terjadi sepanjang akhir pekan. Di samping itu, Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi energi global. Hal ini menyebabkan kenaikan harga minyak dan memperburuk kekhawatiran inflasi global. Akibatnya, pelaku pasar mulai memperkirakan bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Suku bunga tinggi biasanya memperlambat aktivitas ekonomi, yang berpotensi menekan permintaan logam industri seperti tembaga. Di sisi lain, dolar AS menguat sedikit sepanjang akhir pekan. Penguatan dolar membuat komoditas yang diperdagangkan dalam dolar, termasuk tembaga, lebih mahal bagi pembeli dari negara lain.

Berbeda dengan tembaga, harga aluminium relatif stabil meski sempat terpengaruh oleh risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Di LME, harga aluminium naik sedikit 0,05%, sedangkan di SHFE turun 0,35%.

Pasokan aluminium mulai pulih setelah Emirates Global Aluminium, produsen besar, kembali mengoperasikan kilang alumina di Uni Emirat Arab pada Jumat (11/7). Namun, stok aluminium yang tersimpan di gudang terdaftar LME masih berada di level terendah sejak 2022. Data bursa juga menunjukkan bahwa pasokan aluminium asal Rusia di gudang LME meningkat menjadi 95% pada Juni.

Konsumen dinilai berhasil mengurangi dampak potensi kekurangan pasokan dengan mencari sumber alternatif. Selain itu, logam dasar lainnya juga mengalami penurunan. Di LME, harga seng turun 0,71%, timbal merosot 1,08%, nikel melemah 1,02%, dan timah turun 0,24%. Sementara di SHFE, harga seng terkoreksi 0,64%, timbal turun 0,78%, timah merosot 1,38%, sedangkan nikel menjadi satu-satunya logam yang menguat tipis 0,05%.

Dengan situasi geopolitik yang terus memengaruhi pasar, para analis memperkirakan bahwa volatilitas harga logam akan tetap tinggi dalam beberapa waktu mendatang. Pasar terus mengamati perkembangan konflik antara AS dan Iran serta respons dari bank sentral terhadap tekanan inflasi.

Lebih baru Lebih lama