-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Ekspor Korea Selatan cetak rekor tertinggi sepanjang sejarah berkat AI, capai US$120,9 miliar

Kamis, 08 Oktober 2026 , 09.46 WIB Last Updated 2026-10-08T03:35:02Z

JAKARTA - Korea Selatan mengumumkan ekspor September 2026 mencapai US$120,9 Miliar atau sekitar Rp2.160 triliun, meningkat 83,5% dari tahun sebelumnya serta menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi pendorong utama rekor ekspor Korea tersebut.


Dilansir dari laman resmi Kementerian Perdagangan, Industri dan Sumber Daya Korea Selatan atau Ministry of Trade, Industry and Resources (MOTIR), nilai ekspor September 2026 ini menjadi yang pertama kali bagi ekspor Korea Selatan mampu melampaui US$120 miliar. Adapun secara akumulatif, ekspor Januari sampai September 2026 menyentuh US$814,5 miliar, melebihi rekor tahunan 2025 sebesar $709,3 miliar.


Menteri Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Republik Korea Selatan Kim Jung-Kwan menyampaikan, rekor ini membuktikan kekuatan ekonomi Korea Selatan yang didorong kerja keras para pengusaha.


"Ini merupakan pencapaian yang berarti yang sekali lagi menunjukkan kekuatan industri dan dunia usaha Korea Selatan, yang terwujud berkat kerja keras dan dedikasi para pengusaha Korea Selatan yang bersaing di pasar global," tulis Kim dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (8/10/2026).


Secara rincian, ekspor semikonduktor Korea Selatan meningkat 263%, sedangkan ekspor non-semikonduktor meningkat 23%. Ekspor harian rata-rata yang disesuaikan dengan hari kerja, meningkat 105% menjadi US$5,63 miliar, yang melebihi US$5 miliar untuk pertama kalinya.


Ditinjau dari jenis barang, 11 dari 20 barang ekspor utama Korea Selatan mengalami peningkatan. Pada sektor information technology (IT), ekspor semikonduktor meningkat 262,8% menjadi US$60,30 miliar, melampaui US$60 miliar untuk pertama kalinya. Hal ini didorong permintaan memori yang terus tumbuh, dengan volume ekspor yang menunjukkan peningkatan dan harga kontrak yang mempertahankan tren kenaikannya.


Sementara itu, ekspor komputer meningkat 435,3% menjadi US$7 miliar, sejalan dengan meluasnya adopsi AI berbasis agen dan terus meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur AI, termasuk chip AI.


Lebih lanjut, ekspor perangkat komunikasi nirkabel meningkat 23,4% menjadi US$2,14 miliar, yang mengindikasikan terdapat pertumbuhan selama 11 bulan berturut-turut. Adapun hal ini didukung dengan kuatnya penjualan alat komunikasi model premium seperti seri Samsung Galaxy Z8 dan Galaxy S26 Ultra, serta meningkatnya ekspor komponen untuk iPhone.


Di sisi lain, ekspor mobil turun tipis 5,5% menjadi US$6,05 miliar, menggambarkan efek dari liburan Chuseok, yaitu libur nasional sebagai bentuk perayaan hasil panen yang melimpah, bergeser dari Oktober ke September 2026. Tak hanya itu, penurunan ekspor mobil turut disebabkan melemahnya ekspor mobil bekas. Meski turun, rata-rata ekspor mobil secara harian naik 5,5%.


Kemudian terdapat ekspor kapal yang naik 29,9% menjadi US$3,76 miliar sebab terjadi peningkatan pengiriman melalui LNG carriers and Very Large Gas Carriers (VLGCs), atau kapal pengangkut gas dalam jumlah besar lewat laut.


Lebih lanjut, ekspor produk minyak bumi Korea Selatan naik 72% menjadi US$7,22 miliar, sedangkan ekspor petrokimia meningkat 5,1% menjadi US$3,95 miliar. Faktor peningkatan ini adalah melonjaknya harga minyak internasional secara signifikan di tengah berkurangnya lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dan meningkatnya risiko pengiriman di Laut Merah.


Namun, volume ekspor turun 6,9% untuk produk minyak bumi dan 19,1% untuk petrokimia. Di sisi lain, ekspor baterai sekunder naik 14% menjadi US$0,72 miliar. Hal ini mencerminkan pertumbuhan selama lima bulan berturut-turut lantaran volume ekspor meningkat seiring dengan perluasan pasar Energy Storage System (ESS) atau sistem penyimpanan energi dan harga satuan yang naik karena harga mineral lebih tinggi.


Sementara itu, saat pengetatan pembatasan impor di pasar-pasar utama, termasuk tarif AS dan kuota tarif Uni Eropa, ekspor baja mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,3% menjadi US$2,24 miliar. Pertumbuhan ini terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan dari pusat data AI, khususnya di Amerika Serikat (AS).


Beralih ke ekspor mesin umum yang sedikit mengalami penurunan sebesar 3,2% menjadi US$4,07 miliar. Sebenarnya, perbaikan Purchasing Managers' Index (PMI) di AS dan China serta peningkatan investasi di pabrik-pabrik luar negeri mendorong ekspor suku cadang mesin dan barang-barang lainnya menjadi lebih tinggi. Namun, hari kerja yang berkurang dan biaya logistik yang tinggi membuat ekspor terbebani secara keseluruhan.


Berikutnya, ekspor kosmetik meningkat 31,4% menjadi US$1,51 miliar, mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah sebab terjadi peningkatan pengiriman di pasar-pasar utama, termasuk Tiongkok, AS, negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa.


Di sisi lain, ekspor produk pertanian dan perikanan turun 4,7% menjadi US$1,11 miliar. Sementara ekspor mie, saus, dan produk lainnya tetap kokoh, tetapi faktor-faktor seperti berkurangnya hari kerja menjadi beban utama ekspor ini.


Ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan China Tertinggi

Ekspor Korea Selatan ke AS melesat 137% menjadi US$24,33 miliar, dengan peningkatan signifikan terdapat pada barang-barang utama seperti semikonduktor, produk minyak bumi, dan mesin umum. Selain itu, ekspor otomotif turut meningkat, ditopang permintaan AS yang lebih kuat dan peluncuran model-model otomotif baru.


Selanjutnya, ekspor ke China menyusul dengan meningkat 122,7% menjadi US$26,01 miliar, melebihi US$20 miliar selama empat bulan berturut-turut. Walaupun ekspor sejumlah barang termasuk petrokimia tetap menunjukkan pelemahan, tetapi pertumbuhan ekspor semikonduktor, perangkat komunikasi nirkabel, dan komputer memimpin capaian.


Adapun ekspor Korea Selatan ke negara-negara ASEAN naik 92,6% menjadi US$21,29 miliar, melampaui US$20 miliar untuk pertama kalinya karena didorong peningkatan terhadap ekspor barang-barang utama, termasuk semikonduktor, produk minyak bumi, dan kapal.


Lalu ekspor ke Uni Eropa naik 20,9% menjadi US$8,65 miliar, mencerminkan pertumbuhan selama sepuluh bulan berturut-turut karena didukung penguatan ekspor pada sejumlah barang, termasuk semikonduktor, mobil, dan produk minyak bumi.


Terakhir, ekspor ke Timur Tengah merosot 14,1% menjadi US$1,60 miliar lantaran terjadi hambatan pelayaran melalui Selat Hormuz yang akhirnya membebani ekspor sebagian besar barang utama, termasuk mobil, suku cadang mobil, dan mesin umum.


Adapun untuk impor, Korea Selatan mencatatkan impor energi meningkat 38% menjadi US$12,96 miliar, sedangkan impor non-energi naik 23,6% menjadi US$58,13 miliar. Kemudian volume impor minyak mentah naik 2% dan harga impor meningkat 35,7%, imbasnya nilai impor minyak mentah meningkat 38,4% menjadi US$8 miliar.


Pada kategori impor non-energi, impor peralatan semikonduktor naik 50,8% menjadi US$3,44 miliar, sedangkan impor perangkat komunikasi nirkabel meningkat 27,3% menjadi US$2,01 miliar.


Selain itu, surplus perdagangan mencapai US$49,85 miliar, naik US$40,37 miliar dari tahun sebelumnya serta melampaui $40 miliar untuk pertama kalinya. Secara kumulatif, surplus perdagangan dari Januari hingga September 2026 mencapai US$252,5 miliar, naik US$202,7 miliar dari periode yang sama pada 2025.


Menurut Menteri Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Republik Korea Selatan Kim Jung-Kwan mengatakan ekspor keseluruhan Korea Selatan pada 2026 diperkirakan menyentuh US$1 triliun. Namun, peningkatan pengawasan global dan konflik di Timur Tengah tetap menjadi sumber utama ketidakpastian bagi ekspor Korea Selatan.


Kim menambahkan, pemerintah Korea Selatan akan terus berkomunikasi dengan otoritas perdagangan di negara-negara ekonomi utama serta memantau perkembangan pembatasan ekspor. Selain itu, pemerintah turut akan mengantisipasi faktor eksternal yang tidak terduga agar tidak berdampak buruk pada ekspor Korea Selatan dan momentum peningkatan ekspor akan terus terjadi hingga kuartal IV 2026.


Ekspor Melesat karena Permintaan Chip AI

Ekonomi Korea Selatan telah berkembang pesat pada 2026 karena dunia sedang kekurangan global chip memori yang digunakan dalam AI. Mengutip Al Jazeera, negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia ini merupakan pusat salah satu industri semikonduktor terbesar di dunia, yang dipimpin oleh produsen chip memori ternama SK Hynix dan Samsung Electronics.


Berdasarkan Counterpoint Research, SK Hynix dan Samsung Electronics mengendalikan sekitar 80% pasar global untuk memori bandwidth tinggi, yaitu kapasitas maksimal untuk mentransfer data dalam jangka waktu tertentu, serta 60% pasar dynamic random-access memory (DRAM).


Adapun Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Selatan mencapai level tertinggi dalam lima dekade terakhir pada kuartal April-Juni, meningkat 26,4% dibandingkan tahun sebelumnya.


Kementerian Keuangan dan Perekonomian Korea Selatan memperkirakan jika tidak menghitung kondisi tidak biasa imbas pandemi COVID-19, PDB riil akan tumbuh 3% pada 2026, dan akan menjadi kinerja terkuat sejak 2017.


Lebih lanjut, tren AI telah mendorong pasar saham Korea Selatan ke jajaran bursa dengan kinerja terbaik pada 2026, dengan Korea Selatan Composite Stock Price Index indeks (KOSPI) atau indikator gabungan yang mengukur pergerakan seluruh harga saham di pasar utama Korea Selatan Exchange (KRX), tercatat naik nyaris 60%.


Melansir CNA, saham perusahaan pembuat chip Korea Selatan, Samsung Electronics, naik 2,79%. Di sisi lain, saham pesaingnya, yakni SK Hynix, tampak menguat 3,21% sehingga mendorong indeks acuan lebih tinggi.


Dari 916 saham yang diperdagangkan di bursa Korea Selatan, sebanyak 542 saham menguat, sedangkan 332 saham melemah. Di sisi lain, investor asing mencatatkan penjualan bersih saham senilai US$402,93 juta.


Sementara itu, dikutip dari The Finansial News, bank global seperti Morgan Stanley menilai ekspor semikonduktor yang menyumbang setengah dari total ekspor pada September 2026, mengindikasikan tren ekspor akan semakin berlanjut dengan didorong permintaan semikonduktor terkait AI dan kenaikan harga memori.


Hal ini juga didukung dengan kontrak pasokan memori jangka panjang yang berlaku sampai 2028 sehingga meningkatkan potensi permintaan dalam beberapa tahun mendatang.


Menurut kepala ekonom Morgan Stanley untuk Korea Selatan dan Taiwan Kathleen Oh, permintaan semikonduktor untuk AI dan meningkatnya harga memori akan mendorong penguatan industri semikonduktor.


Dia menambahkan, masih terdapat potensi kenaikan terhadap proyeksi pertumbuhan ekspor Korea Selatan pada 2026, yang saat ini berada di kisaran 40%. Untuk ke depannya, momentum ekspor diperkirakan akan tetap kuat selama permintaan memori dan belanja modal semikonduktor tetap tinggi.

×
Berita Terbaru Update