Wisata Akhir Tahun di Karimunjawa Jepara, Arif: Berjuang Hadapi Cuaca

MediaHarianDigital, JEPARA -Setiap liburan akhir tahun bagi penduduk Karimunjawa, Kabupaten Jepara, bukan hanya tentang ramai atau sepi pengunjung.

Selain itu, segalanya tergantung pada satu hal yang tidak dapat dinegosiasikan, yaitu kondisi cuaca.

Kepala Desa Karimunjawa, Arif Setiawan menyebut situasi ini sebagai permainan nasib yang terulang setiap tahun.

Jika cuaca baik, rezeki akan datang, tetapi ketika gelombang dan angin baratan tidak bisa diperlakukan lunak, para pelaku wisata harus siap menerima kenyataan pahit dengan mengembalikan uang muka tamu yang membatalkan perjalanan.

Seperti tahun lalu. Jika cuaca baik makan, jika cuaca buruk tidak makan.

"Kemungkinan besar harus mengembalikan uang muka," kata Arif kepadaMediaHarianDigital, Minggu (21/12/202/).

Kekacauan kembali dirasakan menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Hanya pada hari ini, jadwal kapal mengalami perubahan terus-menerus.

Rencana keberangkatan yang awalnya dijadwalkan pukul 11.00 kini digeser menjadi pukul 07.00. Bahkan, sampai saat ini belum ada kepastian apakah perjalanan akan dilakukan atau tidak.

"Pukul 07.00 belum tahu apakah akan berangkat atau tidak. Hal ini membuat segalanya terasa menunggu," katanya.

Menurutnya, BMKG masih belum mampu memperkirakan kondisi cuaca dengan akurat selama lebih dari seminggu ke depan.

Akurasi tertinggi hanya sekitar seminggu. Sisanya masih menjadi pertanyaan.

Meskipun demikian, antusiasme para wisatawan sebenarnya sangat besar.

Pemesanan penginapan dan paket liburan, khususnya untuk malam tahun baru, sudah mulai banyak diterima.

Namun, pada dasarnya semua kembali kepada rezeki dan kondisi alam.

"Banyak yang sudah memesan. Namun kembali kepada rezeki. Jika ada, Alhamdulillah, jika tidak, maka sudah, siap mengembalikan uang tanda jadi," katanya.

Di tengah ketidakpastian yang ada, Arif menekankan perlunya persiapan bersama dalam menghadapi musim barat.

Bukan hanya mengenai kapal, tetapi juga ketersediaan kebutuhan pokok bagi masyarakat dan para wisatawan.

"Yang perlu ditingkatkan adalah kesiapan Karimunjawa menghadapi musim kemarau. BBM, LPG, kebutuhan pokok, harus dalam kondisi terjaga," katanya.

Ia juga berharap Pemkab Jepara lebih aktif dalam mengantisipasi, khususnya ketika para wisatawan sudah sampai di Karimunjawa dan cuaca tiba-tiba memburuk saat waktu pulang tiba.

Jika wisatawan sudah masuk dan ingin pulang karena cuaca buruk, jangan hanya memberi banyak komentar. Harus jelas peran masing-masing.

"Di mana peran wisatawan, di mana peran pemerintah," katanya.

Arif memperingatkan agar para pelaku pariwisata tidak memanfaatkan situasi wisatawan yang terjebak dalam cuaca buruk.

Justru, menurutnya, kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk menunjukkan sikap ramah dan perhatian.

"Jangan dimanfaatkan. Wisatawan perlu tetap merasa nyaman. Mungkin bisa diberikan pengurangan harga penginapan, pengurangan biaya sewa sepeda motor," katanya.

Ia juga menyebut peran pemerintah daerah yang memiliki penginapan milik kabupaten di Karimunjawa, yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif akomodasi dengan biaya terjangkau bagi para wisatawan yang terjebak cuaca.

"Pemerintah memiliki penginapan. Tempat itu mampu menampung para wisatawan dengan harga terjangkau," katanya.

Bagi penduduk Karimunjawa, liburan akhir tahun bukan hanya tentang jumlah pengunjung, tetapi juga tentang kebersamaan dalam menghadapi alam yang tidak selalu ramah.

Di antara harapan kedatangan para pengunjung dan persiapan menerima kenyataan jika ombak mengatakan sebaliknya.(*)

Lebih baru Lebih lama