Analisis Politik: Israel, AS, Iran, dan Peran Selat Hormuz

Analisis Politik: Israel, AS, Iran, dan Peran Selat Hormuz

MEDIAHARIANDIGITAL - Berikut ini analisis mengenai politik Israel AS melawan Iran oleh Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam.

Peningkatan ketegangan konflik bersenjata antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel pada tahun 2026 menarik perhatian mendalam dari para akademisi dan ahli hubungan internasional.

Perang ini dianggap bukan hanya sebagai sengketa antar negara, tetapi juga taruhan besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah serta kredibilitas pesan perdamaian dunia.

Kepala Sekolah Pascasarjana Diplomasi Paramadina (PGSD), Ahmad Khoirul Umam, mengatakan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terjadi pada bulan suci Ramadan memperkuat ketidakselarasan antara ucapan tentang stabilitas dengan tindakan militer yang dilakukan.

Ia menilai serangan tersebut mengangkat pertanyaan penting tentang komitmen Washington dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Dari sudut pandang Coercive Diplomacy, menurutnya, ketika kekuatan militer digunakan sebagai alat utama dalam geopolitik, norma multilateralisme dan hukum internasional berisiko menjadi sekadar simbol belaka.

Umam juga menyoroti sikap AS yang cenderung unilateral dalam dua bulan terakhir, yang menurutnya melakukan serangan terhadap negara-negara berdaulat, mulai dari Venezuela hingga Iran.

Menurutnya, kondisi ini juga menguji kredibilitas lembaga seperti Board of Peace (BOP).

Ia berpendapat bahwa momentum ini seharusnya menjadi kesempatan untuk merefleksikan strategi bagi negara-negara Islam yang relatif mandiri seperti Indonesia dan Turki dalam meninjau kembali kerja sama BOP dalam struktur diplomasi regional.

Selanjutnya, Umam menilai bahwa sasaran utama Amerika Serikat dan Israel bukan hanya sekadar menguasai Iran sebagai negara.

Ia menyebut Iran dianggap sebagai poros dari jaringan kekuatan non-negara seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi yang selama ini menjadi penyeimbang dominasi Amerika Serikat-Israel di kawasan.

Menurutnya, perubahan pemerintahan di Teheran akan berdampak pada jatuhnya salah satu fondasi perlawanan regional di Timur Tengah serta menjadi bagian dari upaya mengubah kembali keseimbangan kekuatan wilayah.

Namun, ia memperingatkan bahwa upaya tersebut tidak terlepas dari risiko yang sangat besar.

Umam mengingatkan potensi balasan Iran dengan memanfaatkan Selat Hormuz sebagai senjata dapat memicu krisis energi global.

Ia menekankan bahwa sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari, sehingga gangguan yang berlangsung lama dapat mengganggu harga, rantai pasok, dan stabilitas ekonomi global.

Ia juga mengatakan kondisi akan semakin sulit diatasi jika Iran mampu bertahan lebih dari dua minggu.

Berdasarkan simulasi perang Millennium Challenge 2002 yang dilakukan militer Amerika Serikat, ia menjelaskan bahwa jika Iran terus-menerus menyerang pangkalan militer AS di negara-negara sekitar seperti Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi, konflik berisiko berkembang menjadi perang skala regional.

Pada situasi tersebut, negara-negara Teluk dianggap akan menghadapi tantangan strategis antara mempertahankan hubungan keamanan dengan Amerika Serikat atau menghindari keterlibatan langsung sebagai medan perang sehingga risiko eskalasi menjadi tidak terkendali.

Di sisi lain, Umam juga mengangkat isu mengenai kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Imam Ali Khamenei.

Ia mengatakan jika berita tersebut benar, Iran akan memasuki tahap peralihan kepemimpinan yang rentan, di mana arah kebijakan luar negeri sangat bergantung pada penguatan konsolidasi antara lembaga agama dan Pasukan Garda Revolusi Iran.

Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa masa transisi sering kali memperbesar kemungkinan kebijakan luar negeri yang lebih provokatif untuk mempertahankan kredibilitas dalam negeri.

Selanjutnya, Umam meminta seluruh komponen kekuatan dunia segera mengambil langkah untuk menurunkan ketegangan.

Ia menegaskan bahwa pengabaian terhadap tindakan sepihak di kawasan Timur Tengah berisiko menimbulkan contoh negatif bagi sistem dunia yang multipolar.

Menurutnya, jika kondisi tersebut dianggap biasa dan komunitas internasional tidak bertindak, tindakan sepihak serupa berisiko menargetkan daerah lain seperti Greenland, Kanada, serta wilayah Eropa dan Amerika Latin. 

Lebih baru Lebih lama