
Ringkasan Berita:
- Bencana hidrometeorologi yang menimpa kawasan Linge pada akhir tahun 2025 menjadi pukulan terberat dalam ingatan penduduk.
- Ratusan rumah di Desa Pertik terbawa, hanya tersisa dua bangunan yang masih utuh.
- Banjir datang dengan ganas, membawa lumpur, kayu, serta potongan-potongan kehidupan.
Jurnalis Tribun Gayo Fikar W Eda | Aceh Tengah
MediaHarianDigital, TAKENGON -Hamdan, Reje Kampung Kute Reje, Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, bukan hanya seorang pemimpin desa.
Ia juga seorang seniman didong, sutradara, dan pembina Grup Didong Persedia, salah satu kelompok seni didong tertua di Kecamatan Linge yang memiliki akar kuat di Dusun Pertik.
Bencana hidrometeorologi yang menimpa kawasan Linge pada akhir 2025 menjadi dampak terparah yang pernah dirasakan oleh penduduk.
Belasan rumah di Desa Pertik terbawa, hanya tersisa dua rumah yang masih utuh.
Banjir datang tanpa belas kasihan, membawa lumpur, kayu, dan puing-puing kehidupan.
Namun bagi Hamdan, terdapat rasa kehilangan yang lebih mendalam.
Buku-buku puisi didong yang menjadi warisan antar generasi ikut terbawa oleh air.
"Satu tas. Isinya seluruh buku dongeng," ujar Hamdan pelan.
Karya puisi dari kakek (awan), ayah (ama), dan kami saat ini.
Bagi masyarakat Gayo, didong bukan hanya sekadar bentuk seni pertunjukan. Ia merupakan dokumen hidup, di mana sejarah tersimpan dalam bentuk puisi dan irama.
Di dalam buku-buku yang terbawa arus tersimpan kisah desa, sejarah Linge, hingga peristiwa penting yang pernah mengguncang wilayah ini.
"Kekayaan bisa hilang. Rumah bisa berantakan. Yang paling menyedihkan bagi saya, buku syair didong itu," kata Hamdan.
Di antara lirik yang hilang, terdapat cerita tentang banjir bandang pada tahun 2006, yang terjadi pada hari Selasa, 24 Desember 2006, diciptakan oleh Aman Syukri.
Ironisnya, buku karya Aman Syukri juga ikut hilang bersamaan dengan kumpulan buku milik ayah Hamdan, Safaruddin Aman Syamsir, ceh Didong Persedia, serta M Yusuf Aman Suhar, seniman didong lainnya.
Bencana Kembali Datang
Dua puluh tahun kemudian, kembali terjadi bencana.
"Airnya sebesar yang terjadi pada 2006," ujar Hamdan.
Tetapi dahulu desa tidak rusak. Sekarang, rumah-rumah telah hancur.
Desa Kute Reje dilalui oleh sungai yang bermuara dari Gayo Lues, mengalir melalui Jamat, Delung, hingga Wih Samar Kilang.
Sungai ini adalah sumber kehidupan, sekaligus pembawa bencana. Nama Wih Dusun Jamat kemudian dijadikan sebagai nama tempat tinggal.
Rumah Hamdan dalam keadaan aman. Namun rumah saudaranya dan rumah orang tuanya terbawa oleh air.
Setelah bencana, Hamdan mengakui belum mampu menghasilkan puisi yang baru.
"Kata-kata saya habis. Belum mampu menciptakan lagi," katanya pelan.
Di Kecamatan Linge, terdapat paling sedikit tiga kelompok didong utama.
Salah satu contohnya adalah Persedia, singkatan dari Persatuan Seni Didong Aseli Gayo yang telah berdiri sejak generasi kakek, diwariskan kepada para ayah mereka, dan kini berada di tangan generasi Hamdan.
Awalnya Persedia berkembang dari Pertik, Delung, dan Sekinel, kemudian berkembang menjadi kelompok didong Kampung Kute Reje.
Sampai saat ini, Persedia masih tetap ada, sering mengadakan pertunjukan bersama grup dari Siner Pagi, Pegasing Jaya, dan daerah lainnya.
Anggota Kelompok Didong Persedia saat ini terdiri dari 42 orang, yaitu Ceh Rudiana Aman Furkan, Ali Sadikin Aman Alfan, Ayatsyah Aman Sejahtera, Jarwandi, Saipun, dan Hamdan Aman Arsyal.
Kampung Kute Reje berisi 284 penduduk atau 87 kepala keluarga, sebagian besar bekerja sebagai petani kopi, durian, pinang, mengelola sawah, beternak, serta beberapa di antaranya melakukan penyadapan.
Di tengah puing-puing bencana, Hamdan menegaskan satu tekad:
“Kami siap bangkit kembali.
Namun, masalahnya adalah bagaimana mengembalikan semangat syair-syair didong yang telah hilang.
Di dalamnya terdapat sejarah Linge, kisah DI/TII, masa PKI—hal-hal yang saat ini tidak lagi diketahui oleh orang tua kita.
Jika bisa saya kumpulkan kembali, itu sudah menjadi kebahagiaan yang besar.
Banjir telah menghancurkan rumah dan barang milik.
Namun yang paling rentan menghilang adalah ingatan bersama—yang selama ini bertahan melalui puisi didong, kini lenyap terbawa arus sungai. (*)