:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1644064/original/000642000_1499669689-PENDAKIAN-Muhamad_Ridlo.jpeg)
MediaHarianDigital, PURBALINGGA- Penutupan operasi pencarian oleh Tim SAR terhadap pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Slamet, dilakukan pada 7 Januari lalu.
Namun, relawan Gunung Slamet terus melakukan usaha sendiri dalam mencari siswa SMAN 5 Kota Magelang tersebut.
Harapan untuk menemukan Syafiq Ridhan Ali Razan (18), siswa yang hilang di Gunung Slamet, masih belum sepenuhnya sirna.
Syafiq menghilang di Gunung Slamet setelah melakukan pendakian melalui Jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Beberapa relawan yang tergabung dalam Basecamp Slamet Jalur Bambangan, Purbalingga, memutuskan untuk tetap bergerak dan melakukan pencarian secara mandiri.
Mereka melalui medan yang semakin sulit dan cuaca yang sering kali tidak ramah, demi menemukan Syafiq.
Koordinator Basecamp Slamet Jalur Bambangan, Syaiful Amri menyampaikan, keputusan untuk melakukan pencarian mandiri ini diambil berdasarkan pertimbangan kemanusiaan.
Sebagai pengelola jalur pendakian dan masyarakat yang tinggal di kawasan kaki Gunung Slamet, mereka merasa memiliki tanggung jawab etis untuk terus berupaya.
Syaiful mengatakan, usaha pencarian mandiri terhadap Syafiq sudah dilakukan sejak Jumat (9/1/2026) minggu lalu.
Pada saat itu, pihaknya mengirimkan tiga Unit Pencarian dan Pertolongan (SRU) ke lokasi yang telah ditentukan dan diatur oleh Basarnas.
Tiga hari yang lalu kami kembali melakukan penelusuran di wilayah sesuai peta yang diberikan oleh Basarnas, bahkan kami berusaha memaksimalkannya. Namun, hingga hari Minggu (11/1/2026) kemarin, belum ada tanda-tanda (keberadaan Syafiq—Red)," kata Syaiful kepada Tribun Jateng, Senin (12/1/2026).
Jalur Baturraden
Namun, Syaiful menyatakan bahwa upaya masih terus dilakukan hingga saat ini, dengan memperluas wilayah pencarian.
"Kemarin malam (Minggu malam—Red), kami telah berkoordinasi dengan Basecamp Bambangan. Dari sana, kami sepakat untuk memperluas pencarian ke Jalur Baturaden," ujar Syaiful.
"Karena secara historis, seringkali pendaki tersesat ke jalur tersebut," tambahnya.
Dalam operasi ini, dua tim turun dengan jumlah total 57 personel, hasil kerja sama relawan dari Basecamp Bambangan dan Basecamp Baturraden.
Selanjutnya, pemeriksaan dilakukan mulai pagi hari hingga dibatasi maksimal pukul 15.00, dengan memperhatikan kondisi cuaca yang buruk pada siang hari.
Di sisi lain, mengenai informasi yang pernah beredar di media sosial tentang adanya bau tidak sedap di jalur pendakian, Syaiful memastikan bahwa informasi tersebut bukan tanda keberadaan korban.
"Benar ada bau, tetapi bukan dari Pos 7. Setelah kami periksa, ternyata bau itu berasal dari daging ayam yang dibuang oleh pendaki. Jadi, bukan tanda-tanda korban," ujar Syaiful.
Selain itu, banyaknya informasi tentang ditemukannya korban bukanlah sesuatu yang benar.
Hingga Senin siang, pihaknya mengatakan belum menerima laporan terkini dan belum ada tanda-tanda adanya korban yang ditemukan.
Sampai saat ini kami masih menantikan informasi terbaru mengenai pencarian karena sinyal di daerah tersebut sangat minim. Sejak kemarin, kami juga belum menemukan adanya petunjuk tentang penemuan korban," katanya.
Cuaca ekstrem
Sampai saat ini, Syaiful melanjutkan, tantangan utama yang dihadapi tim selama pencarian adalah cuaca buruk yang menghambat area penyisiran, terutama di daerah tebing dan medan yang curam.
Namun demikian, pihak terkait tetap berkomitmen untuk memaksimalkan realisasi dana, hingga besok Rabu (14/1/2026).
Di tengah keterbatasan dan medan yang sulit, Syaiful berharap seluruh relawan yang sedang berjuang tetap diberi kekuatan, dan upaya ini menjadi tempat ibadah bagi semua pihak.
"Semoga teman-teman dan relawan tetap bersemangat, serta semoga secepatnya muncul harapan agar anak ajaran Syafiq segera ditemukan," tambahnya.(Farah Anis Rahmawati)