Foto : Istimewa
PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menegaskan bahwa pengelolaan zakat yang profesional, amanah, dan transparan merupakan instrumen sosial yang sangat vital dalam menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada pelantikan jajaran pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kalimantan Barat periode 2026-2031 di Balai Petitih Kantor Gubernur, Jumat (9/1/2026).
Menurut Gubernur, zakat memiliki peran strategis yang melampaui sekadar kewajiban ibadah, yaitu sebagai kekuatan besar untuk mendorong kemandirian dan pemberdayaan ekonomi umat. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kepemimpinan Baznas yang visioner, inklusif, dan responsif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat.
Gubernur juga menyoroti potensi besar dari kalangan pengurus muda yang energik di tubuh Baznas Kalbar saat ini. Ia optimistis mereka mampu menghadirkan inovasi-inovasi segar dalam menghimpun dan mengelola zakat secara lebih optimal.
“Saya mengajak seluruh pengurus untuk mengedepankan integritas dan profesionalisme guna memperkuat kepercayaan publik, sehingga manfaat zakat dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” ujar Ria Norsan.
Sebagai langkah konkret dari pihak pemerintah, Gubernur berfokus pada optimalisasi program payroll system zakat sebesar 2,5 persen bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Muslim di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalbar. Program yang sejatinya telah diluncurkan sejak pertengahan 2025 tersebut dinilai belum berjalan secara maksimal. Pemprov Kalbar berencana mengumpulkan seluruh bendahara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memastikan pemotongan zakat ASN Muslim dilakukan secara langsung, sistematis, dan berkelanjutan, yang kemudian dananya akan dikelola sepenuhnya oleh Baznas untuk kepentingan umat.
Selain penguatan internal, Gubernur mendorong Baznas Kalbar untuk melakukan studi banding ke daerah yang telah terbukti berhasil mengelola zakat secara produktif, salah satunya adalah Kuching, Sarawak, Malaysia. Ia berbagi pengalaman melihat pengelolaan zakat di Kuching yang mampu menghasilkan aset produktif, bahkan memiliki pusat perbelanjaan sendiri, di mana keuntungannya digunakan untuk membantu masyarakat kurang mampu.
“Tidak perlu jauh-jauh. Kita bisa belajar dari Kuching, bagaimana kesadaran masyarakatnya tinggi dan pengelolaan zakatnya maju serta terbuka,” katanya.
Menutup arahannya, Gubernur berharap program-program Baznas Kalbar dapat bersinergi erat dengan kebijakan pembangunan daerah menuju Kalimantan Barat yang adil, demokratis, religius, sejahtera, dan berwawasan lingkungan. Kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan Baznas diharapkan mampu memberikan dampak nyata, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.(arya)
