5 Kuliner Kaki Limah Ikonik yang Layak Diantre di Bandung

MEDIAHARIANDIGITAL - Bandung tidak pernah kehabisan kisah tentang rasa. JulukanParis van Javatidak hanya mengacu pada keindahan kota dan kesejukan udaranya, tetapi juga pada keragaman masakan yang muncul dari perpaduan budaya Sunda dan Tionghoa selama ratusan tahun.

Di kota ini, makanan bukan hanya untuk mengisi perut, tetapi merupakan bagian dari identitas seseorang. Tidak heran jika pemandangan antrian yang panjang sejak pagi hari menjadi hal yang biasa.

Warga setempat dan para pengunjung siap menunggu hingga satu jam hanya untuk mendapatkan satu porsi makanan kaki lima yang dianggap "terbaik".

Dari bubur ayam yang legendaris hingga mi yamin yang manis dan menghangatkan, berikut lima makanan khas Bandung yang menjadi ikon kuliner jalanan Kota Kembang, yang sering dianggap sebagai fondasi gastronomi kota ini, seperti yang dilaporkan oleh kanal YouTube 10 BEST ID.

1. Bubur Ayam Ihsan, Tradisi Pagi Penduduk Bandung

Di Jalan Banceuy, tidak jauh dari kawasan bersejarah Braga, terdapat Bubur Ayam Ihsan yang sering habis terjual sebelum pukul 09.00 WIB.

Warung kecil ini telah berkembang menjadi tempat sarapan yang terkenal di kalangan warga Bandung.

Bubur Ihsan mencerminkan gaya bubur khas Bandung yang berbeda dengan daerah lain.

Tidak ada kuah berwarna kuning yang kental. Rasanya gurih karena campuran kecap asin, lada, dan kaldu bening yang sudah menyatu dengan nasi. Teksturnya kental, lembut, dan memuaskan.

Keunikan bubur ini berada pada inovasi tekstur pelengkapnya.

Selain keripik, Bubur Ihsan menyediakan dua jenis cakwe, yaitu cakwe basah yang kenyal dan cakwe kering yang digoreng hingga renyah seperti keripik.

Cakwe kering ini menjadi jawaban untuk masalah umum bubur, yaitu taburan yang mudah lembek.

Bubur Ihsan menunjukkan bahwa fokus pada menu khusus dan kecepatan pelayanan menjadi faktor utama keberhasilan usaha kuliner pinggir jalan di Bandung, dengan penjualan yang mencapai ratusan porsi hanya dalam empat jam.

2. Lontong Cibadak, Warisan Rasa Oncom yang Tetap Bertahan

Jalan Cibadak terkenal sebagai surganya makanan malam.

Namun pada pagi hari, area ini dikuasai oleh Lontong Cibadak, hidangan sarapan khas Sunda yang penuh dengan nilai tradisional.

Ciri khas dari lontong ini adalah kuah sambal oncom berwarna merah.

Oncom yang dihasilkan dari fermentasi ampas tahu memiliki rasa umami khas, sedikit rasa kacang, dan beraroma tanah.

Kaldu yang encer, bukan santan kental, mengandung rasa manis, gurih, dan pedas yang terasa menyengat di ujung lidah.

Lontong yang disajikan bukan lontong biasa, tetapi lontong berisi dengan pilihan isian seperti oncom, ayam, atau kacang merah.

Upacara makan semakin sempurna dengan pastel ikoniknya.

Kulit pastel renyah yang mengembang direndam dalam kuah oncom yang pedas dan manis, menghasilkan kombinasi tekstur lembut dan renyah yang menjadi ciri khas sarapan khas Bandung.

3. Ayam Mas Iman, Adaptasi Halal yang Cerdas

Berpindah ke Jalan Nanas, Cihapit, terdapat Kuo Tie Ayam Mas Iman, contoh keberhasilan penyesuaian kuliner Tionghoa terhadap pasar setempat.

Kuo tie atau pot stickeryang biasanya mengandung daging babi diolah kembali menjadi versi halal tanpa kehilangan ciri rasa.

Isian daging ayam giling dicampur dengan bihun dan tahu.

Bihun berperan menyerap cairan daging sehingga tetap lembut, sedangkan kucai memberikan aroma khas Tionghoa yang khas.

Proses pengolahan menggunakan metode tiga tahap, yaitu digoreng, dikukus, dan kemudian digoreng lagi.

Akibatnya, bagian bawah kering, sedangkan bagian atas lembut dan mengandung uap.

Meski dijual dengan harga yang cukup mahal untuk ukuran kaki lima, antrean yang panjang menunjukkan bahwa kualitas tinggi dan penyesuaian yang tepat masih memiliki permintaan yang kuat di Bandung.

4. Cuanki Choy Erik Brebet, Rasa Pedas Zaman Media Sosial

Masih berada di kawasan Cibadak, muncul sebuah fenomena terbaru yang dikenal dengan nama Cuanki Choy Erik Brebet.

Cuanki, singkatan dari cari uang jalan kaki, berubah dari makanan ringan biasa menjadi tempat yang viral.

Keunggulan utamanya berada pada tingkat kepedasan yang luar biasa.

Menggunakan cabai cengek domba lokal yang terkenal pedas dan beraroma buah, cuanki ini menjadi tantangan kuliner yang diminati para pembuat konten.

Sarapan kaldu yang terkenal harum dan bebas bau amis, menyembunyikan kelemahan cuanki murah yang biasanya.

Dengan harga mulai dari Rp10 ribu per porsi, cuanki ini bersifat inklusif dan menunjukkan bahwa pengalaman rasa yang kuat tidak selalu berkaitan dengan harga yang tinggi.

5. Mie Yamin Abut, Penutup Manis yang Menyegarkan

Perjalanan perasaan berakhir di Jalan Rangga Gading, Tamansari, wilayah yang ramai dengan mahasiswa.

Mie Yamin Abut dikenal sebagai salah satu warung mi yang paling konsisten di Bandung.

Yamin disajikan dengan cara khusus: mi panas dicampurkan bersama bumbu, minyak ayam, dan kecap langsung di mangkuk.

Saus kaldu disajikan terpisah, memungkinkan pelanggan menyesuaikan tingkat kelembapan mi.

Rasa manis yamin menjadi favorit utama.

Saus manis mengalami proses karamelisasi ketika bersentuhan dengan mi yang panas, menghasilkan aroma asap dan rasa yang manis.

Tekstur mi yang lembut tetapi kenyal, dicampur dengan bakso, pangsit, babat, dan ceker ayam yang dimasak hingga lunak.

Strategi harga yang bijak membuat paket lengkap terasa "lebih menguntungkan", menjadikan Mie Yamin Abut sebagai pilihan favorit berbagai kalangan.


Lebih baru Lebih lama