
MEDIAHARIANDIGITAL - Merencanakan perjalanan jauh-jauh hari sering dianggap berlebihan oleh sebagian orang. Ada yang mengira bahwa liburan seharusnya bersifat spontan, alami, dan tanpa banyak persiapan.
Namun, dari perspektif psikologi, kebiasaan merencanakan perjalanan beberapa bulan sebelumnya justru memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kondisi mental dan emosional seseorang.
Orang-orang yang menyukai proses perencanaan liburan biasanya tidak hanya mencari tujuan wisata, tetapi juga menikmati tahapan tersebut sebagai bagian dari kebahagiaan mereka.
Mulai dari menentukan tujuan perjalanan, merencanakan jadwal, mencari tempat menginap, hingga membayangkan pengalaman yang akan datang—semua hal tersebut memiliki dampak psikologis yang nyata.
Dilaporkan oleh Geediting pada Senin (9/2), terdapat tujuh dampak psikologis kepuasan yang biasanya dirasakan oleh orang-orang yang senang merencanakan perjalanan jauh sebelum keberangkatan:
1. Kebahagiaan yang Diharapkan (Happiness Antisipatif)
Dalam bidang psikologi, terdapat istilah yang dikenal sebagai anticipatory happiness, yakni rasa bahagia yang timbul bukan ketika kejadian tersebut terjadi, melainkan saat seseorang sedang menantikan peristiwa tersebut.
Orang yang menyusun rencana perjalanan beberapa bulan sebelumnya merasakan kebahagiaan yang berlapis: bahagia saat merencanakan, bahagia saat menunggu, dan bahagia saat menjalani perjalanan.
Setiap kali mereka merencanakan liburan, otak melepaskan dopamin—hormon yang berkaitan dengan perasaan bahagia dan semangat. Artinya, liburan belum terjadi, namun rasa bahagia sudah mulai dirasakan jauh sebelumnya.
2. Perasaan Kendali atas Kehidupan
Perencanaan jangka panjang memberikan perasaan memiliki kendali terhadap kehidupan. Dalam bidang psikologi, rasa memiliki kontrol ini sangat penting bagi keseimbangan emosional.
Orang yang suka merencanakan perjalanan biasanya merasa hidupnya lebih teratur, kurang rentan cemas terhadap ketidakpastian, serta lebih tenang menghadapi masa depan. Perjalanan bukan hanya sekadar liburan, tetapi juga melambangkan bahwa kehidupan mereka memiliki tujuan, arah, dan sesuatu yang diharapkan.
3. Reduksi Stres Sehari-hari
Kehidupan yang rutin dan membosankan sering kali menyebabkan stres jangka panjang. Berdasarkan psikologi kognitif, memiliki sesuatu yang diharapkan di masa depan berperan sebagai "pemegang emosional".
Saat seseorang menghadapi hari yang sulit, ia mungkin berpikir: “Nanti aku akan liburan.” Pikiran seperti ini sudah cukup untuk mengurangi tekanan mental, meningkatkan kemampuan menangani stres, dan membantu otak bertahan dari kelelahan emosional.
4. Kebahagiaan melalui Proses, Bukan Hanya Hasil
Orang yang menyukai perencanaan umumnya memiliki fokus pada kepuasan proses (process-oriented satisfaction). Mereka tidak hanya memperhatikan tujuan akhir (perjalanan), tetapi juga menikmati setiap tahap persiapan yang dilalui.
Dalam psikologi positif, hal ini menggambarkan kemampuan keterlibatan sadar—menikmati kegiatan kecil dengan kesadaran penuh. Hal ini membuat mereka lebih mudah merasa puas terhadap kehidupan secara keseluruhan, bukan hanya saat terjadi momen penting.
5. Identitas Pribadi yang Lebih Konsisten
Merencanakan perjalanan juga membentuk identitas psikologis. Seseorang mulai mengenali dirinya sebagai:
Saya merupakan seseorang yang menyukai penjelajahan
"Aku adalah perencana"
"Aku adalah pencari pengalaman"
Dalam teori psikologi identitas, memiliki sebuah cerita pribadi yang jelas membantu seseorang menjadi lebih stabil secara emosional, tidak mudah kehilangan tujuan, serta lebih percaya diri dalam mengambil keputusan dalam hidup.
6. Peningkatan Perasaan Makna Hidup (Rasa Arti Kehidupan)
Bagi banyak orang, perjalanan bukan hanya sebagai hiburan, melainkan simbol makna kehidupan: belajar, berkembang, mengenal dunia, serta memahami diri sendiri.
Orang yang merencanakan perjalanan jauh sering menganggap hidup sebagai sebuah perjalanan panjang, bukan hanya kegiatan sehari-hari. Dalam psikologi eksistensial, hal ini memperkuat rasa makna—keyakinan bahwa kehidupan memiliki nilai dan arah.
7. Kebahagiaan Emosional yang Lebih Berkelanjutan
Berbeda dengan kebahagiaan yang datang secara instan (seperti belanja impulsif atau hiburan sementara), kepuasan yang diperoleh dari perencanaan perjalanan bersifat jangka panjang. Terdapat tiga tahap kebahagiaan:
Bahagia saat merencanakan
Bahagia saat menjalani perjalanan
Bahagia saat mengenangnya
Ini menghasilkan siklus kepuasan emosional yang terus-menerus dan bertahan lama. Dalam bidang psikologi, hal ini dikenal sebagai penghargaan emosional yang berkelanjutan.
Penutup
Berdasarkan psikologi, seseorang yang suka merencanakan perjalanan beberapa bulan sebelumnya bukan hanya termasuk dalam kategori "tipe perencana", melainkan individu yang secara tidak sadar sedang menciptakan sistem kebahagiaan mental yang baik.
Mereka membentuk harapan, struktur, makna, dan tujuan kehidupan melalui hal yang sederhana: sebuah rencana perjalanan.
Oleh karena itu, jika kamu termasuk orang yang senang membuka kalender, menandai hari libur, menyusun rencana perjalanan, dan menghitung hari keberangkatan itu bukan sekadar kebiasaan biasa. Itu merupakan cara alami psikologis untuk menjaga kebahagiaan, kesehatan mental, dan kepuasan dalam hidup.