KUALA LUMPUR – Pemerintah Malaysia berhasil mendapatkan jaminan keamanan dan akses gratis bagi kapal-kapalnya untuk melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke Siew Fook, menegaskan bahwa keistimewaan ini diberikan langsung oleh pemerintah Iran sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan diplomatik yang kuat antar kedua negara. Langkah ini menjadi krusial mengingat Selat Hormuz saat ini menjadi titik panas strategi Iran untuk menekan blok AS-Israel melalui kontrol jalur perdagangan maritim.
Konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan AS telah memaksa Pemerintah Malaysia beralih ke "mode krisis" guna menghadapi volatilitas ekonomi global yang ekstrem. Dalam pertemuan Dewan Aksi Ekonomi Nasional (MTEN) pada Selasa (31/3/2026), Perdana Menteri Malaysia menekankan pentingnya jalur aman ini untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan ekonomi nasional. Iran secara tegas menyatakan bahwa Malaysia dianggap sebagai negara sahabat, sehingga kapal-kapalnya tidak akan dikenakan pungutan tol atau hambatan militer yang biasanya diterapkan di wilayah konflik tersebut.
Setidaknya tujuh kapal besar milik perusahaan Malaysia, termasuk Petronas dan MISC Bhd, kini dilaporkan bersiap melanjutkan pelayaran mereka dengan aman di bawah jaminan tersebut. Menteri Luar Negeri, Datuk Seri Mohamad Hasan, mengonfirmasi bahwa kapal-kapal yang mengangkut minyak mentah ini sempat menunggu sinyal resmi untuk menghindari risiko salah sasaran dalam zona perang. Penegasan dari Duta Besar Iran, Valiollah Mohammadi Nasrabadi, memastikan bahwa kapal-kapal Malaysia memiliki "tiket gratis" melewati Teluk Persia, sebuah posisi yang sangat menguntungkan di saat jalur internasional lainnya terancam oleh blokade atau serangan terkait konflik Iran-Israel. (arya)
