Foto : Istimewa
JAKARTA - Pasar keuangan domestik saat ini tengah dibayangi kekhawatiran baru seiring dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Di pasar spot, mata uang Garuda terpantau anjlok sebesar 30 poin atau melorot 0,20 persen ke level Rp 17.704 per dollar AS. Depresiasi ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya, di mana rupiah ditutup di level Rp 17.668 per dollar AS setelah melemah signifikan hingga 71 poin atau 0,40 persen pada perdagangan Senin. Posisinya yang terus menembus rekor terendah ini langsung memicu alarm kewaspadaan di kalangan pelaku pasar modal.
Anjloknya nilai tukar rupiah ke zona merah ini secara otomatis meningkatkan persepsi risiko investor terhadap aset-aset finansial di Indonesia. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengonfirmasi bahwa pelemahan tajam mata uang Garuda yang melampaui kisaran Rp 17.668 hingga Rp 17.681 per dollar AS telah menjadi sentimen negatif utama. Situasi ini tidak hanya memukul pasar valuta asing, tetapi juga ikut menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hingga saat ini posisinya terpantau masih berada dalam tren volatilitas tinggi akibat respons negatif para pelaku pasar.
Menyikapi tekanan mata uang yang kian berat, pasar kini mulai memprediksi secara kuat adanya potensi intervensi agresif dari bank sentral melalui kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) dispekulasikan memiliki peluang besar untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin hingga menyentuh level 5 persen. Kebijakan darurat ini dinilai sebagai langkah strategis yang paling rasional untuk meredam gejolak pasar yang sedang berlangsung, sekaligus membentengi rupiah dari gempuran sentimen negatif dan tekanan makroekonomi global yang kian meningkat.
Kepastian mengenai langkah intervensi moneter ini diharapkan akan segera terjawab melalui hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Pertemuan krusial yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026 tersebut diposisikan sebagai penentu arah kebijakan pasar keuangan dalam jangka pendek. Menurut analisis Nafan Aji Gusta, apabila keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan tersebut nantinya direspons positif oleh pasar, maka strategi pengetatan moneter ini diproyeksikan akan efektif menahan kejatuhan IHSG agar tidak merosot lebih dalam lagi. (arya)
