Destinasi Wisata Baru Karimunjawa, Desa Tempur Jepara Unggulkan Alam Pegunungan

JEPARA -Kabupaten Jepara memiliki sebuah desa khas yang dikenal dengan nama Desa Tempur, yang menyimpan kekayaan alam di kaki Pegunungan Muria.

Tempur adalah desa yang memiliki posisi geografis paling tinggi di Kabupaten Jepara, terletak di Kecamatan Keling.

Sebuah permukiman yang padat penduduk berada di sebuah lembah di kawasan hutan lereng Muria yang terpencil dari pusat kota.

Lokasi Desa Tempur berbatasan langsung dengan Kabupaten Kudus di sisi Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Pati di sisi Timur.

Jarak dari Tempur ke pusat Kota Jepara mencapai 52 hingga 60 kilometer, dengan estimasi waktu perjalanan lebih dari satu jam tiga puluh menit.

Sebagai satu-satunya desa di Jepara yang dikelilingi oleh kawasan hutan pegunungan Muria, Tempur justru menyimpan beribu kisah alam yang menakjubkan.

Bahkan Desa Tempur sering disebut sebagai 'negeri di atas awan' karena posisi geografisnya yang berada pada ketinggian 800-1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl)

).

Lingkungan yang hijau dan indah dikelilingi oleh hutan yang lebat semakin memperkuat Desa Tempur sebagai surga wisata alam di Jepara.

Setiap sudut desa menjadi destinasi wisata, setiap sudut permukiman menjadi pengobatan, dan setiap sudut tempat tinggal masyarakat adalah kenangan.

Pemukiman tertinggi di Desa Tempur terletak di Dukuh Duplak, yang dikenal sebagai kawasan situs candi kuno.

Lokasi geografis Tempur sangat luas, mencapai 904,672 hektar, sebagian besar berupa lahan pertanian, sedangkan wilayah permukiman hanya sekitar 80 hektar.

Tempur juga dikenal karena produksi dan hasil olahan kopi yang cukup terkenal dengan merek "Kopi Tempur". Hampir setiap keluarga pasti memiliki lahan pertanian kopi sebagai sumber penghidupan utama.

Beberapa warga juga memiliki lahan pertanian berupa sawah dan ladang jagung, serta menjalani aktivitas lain seperti menjadi pedagang atau pemilik usaha yang mendukung sektor pariwisata. Luas lahan pertanian kopi di Tempur mencapai 352 hektar, sedangkan sisanya ditanami komoditas pertanian lainnya.

Tempur terdiri dari enam dusun, 6 wilayah RW dan 25 lingkungan RT dengan jumlah penduduk saat ini sebanyak 3.642 jiwa.

Di bagian timur Pegunungan Muria, Tempur menyimpan seribu kisah. Permata Jepara yang menggabungkan keindahan alam, sejarah leluhur, dan kearifan lokal tetap bertahan dari masa ke masa.

Desa yang memiliki potensi pariwisata alam, warisan sejarah, wisata budaya, religius, edukasi, serta kuliner yang tidak kalah menarik.

Wisata Alam

Keanekaragaman potensi alam Desa Tempur menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung dan menikmati pemandangan pegunungan Muria. Pengunjung akan dijamu dengan berbagai spot foto yang unik sebagai tanda sapa dari Tempur. Mulai dari tulisan "Selamat Datang Wisata Tempur", jembatan berwarna-warni, serta berbagai tempat foto yang memiliki latar belakang sawah, sungai, hutan, permukiman warga, dan juga pegunungan sekitar.

Tidak kalah menarik, terdapat beberapa titik foto lain yang menampilkan latar belakang puncak Gunung Muria sebagai tempat yang cocok untuk merekam momen favorit yang dapat dinikmati oleh para pengunjung.

Tempur juga memiliki titik foto terbaik yang dikelilingi oleh bukit dan hutan. Dinamakan Bejagan, berada di puncak Bukit Bejagan, tepatnya di Dukuh Duplak.

Tempat ini memiliki ciri khas lokasi foto yang mirip dengan menara pandang alami yang sangat berharga.

Dengan mengunjungi tempat tersebut, setiap pasangan akan disuguhkan dengan keindahan pegunungan yang mengelilingi Desa Tempur.

Saat ini juga tersedia lokasi foto terbaru yang tidak kalah menarik berada di Dukuh Petung, yang menawarkan pemandangan alam persawahan, sungai, serta puncak 29 Gunung Muria.

Tempat favorit lainnya yang menampilkan kekayaan alam Tempur adalah titik foto terbaru yang diberi nama Kaldera Muria.

Pemandangan yang menarik tersaji di lokasi tersebut, dengan latar belakang perkampungan Desa Tempur dan bentuk-bentuk Pegunungan Muria.

Beberapa fasilitas wisata alam lain yang dapat dinikmati oleh pengunjung adalah Jeep Wisata yang memiliki rute perjalanan selama satu jam.

Berdasarkan namanya, jalur perjalanan Jeep mengunjungi berbagai destinasi wisata yang terdapat di Tempur.

Terdapat pula wahana wisata river tubing di Sungai Tempur yang memakan waktu hingga satu jam. Terdapat juga fasilitas pendakian ke puncak 29 Gunung Muria yang dilengkapi dengan empat pos pendakian.

Kami juga menyediakan Camping Ground Kopi Tempur di Dukuh Glagah. Terdapat fasilitas sewa tenda, spot foto kafe kopi, pusat souvenir, serta suasana alam sungai dan pegunungan. Pengunjungnya bahkan sudah datang dari berbagai kabupaten/kota lain, seperti Demak, Rembang, Kudus, dan Pati.

Pernah juga terjadi kunjungan wisatawan asing yang datang setelah berlibur di Karimunjawa," ujar Sekretaris Desa Tempur, Mahfud Aly, saat diwawancarai Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Tristan Alfian SSn MSn, Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Unisnu Jepara menilai Desa Tempur memiliki potensi wisata alam yang sangat luar biasa. Desa yang paling indah di Jepara, khususnya di kawasan lereng pegunungan Muria.

Sejak dulu pemerintah kabupaten telah memberikan perhatian dalam mengembangkan Tempur berdasarkan potensi alam dan hasil kopinya. Budaya di Tempur masih sangat kental.

"Ini tidak dimiliki oleh desa-desa lain di Kabupaten Jepara. Dukungan terus diberikan agar Tempur bisa dikenal melalui daya tarik wisatanya, promosi, branding, infrastruktur, serta CSR juga turut berpartisipasi," katanya.

Dengan hadirnya Desa Tempur, Jepara memiliki ciri khas lain yang menarik, meskipun memiliki potensi ukir dan laut yang sudah dikenal.

Jepara memiliki kaki Gunung Muria yang masih alami dan layak dikunjungi. Terdapat pula daya tarik berupa puncak ke-29 dari Gunung Muria, yang menunjukkan bahwa Jepara tidak hanya terkenal dengan laut dan industri saja.

Desa Tempur yang memiliki potensi alam dan produk kopi perlu dikembangkan menjadi paket wisata yang menarik. Dalam paket tersebut harus tersedia infrastruktur yang jelas, termasuk paket edukasi wisata. Jika hanya menawarkan wisata alam, pengunjung akan bingung untuk bertemu siapa atau mencari apa. Paket edukasi wisata ini sangat baik ditambahkan, seperti cara menanam kopi dengan baik dan merawatnya. Selain itu, sejarah Desa Tempur juga perlu ditampilkan.

Sebagai desa pariwisata, Tempur juga perlu menyediakan makanan dan cinderamata khas. Potensi kopi bisa diubah menjadi oleh-oleh yang menarik.

Maknanya kopi bukan hanya sebagai teman berbicara, kopi juga bukan sekadar produk minuman.

Namun kopi juga dapat digunakan sebagai bahan untuk kerajinan lainnya," tambahnya.

Contohnya, kami mahasiswa Unisnu pernah melakukan edukasi dalam pembuatan briket dari limbah kopi, sabun batang dari kopi, serta memiliki potensi untuk membuat keripik dari daun atau kulit buah kopi.

Ini adalah tugas masyarakat Tempur, selanjutnya tugas bersama bagaimana mempromosikan dengan baik produk yang telah dijalankan.

Desa wisata seharusnya memiliki pusat oleh-oleh khas Tempur. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan inovasi berupa produk yang menjadi ciri khas Tempur. Agar tersedia paket yang lengkap dan jelas. Sehingga nantinya terdapat rancangan besar yang jelas dan terarah dalam pengembangan Tempur.(Saiful)

Lebih baru Lebih lama