JAKARTA- Bandung termasuk salah satu kota yang sering menjadi tujuan liburan favorit di Jawa Barat.
Mungkin hampir seluruh penduduk telah mengunjungi kota yang memiliki julukan 'Paris Van Java' itu.
Jika ada di antara kalian yang rencananya akan ke Bandung namun bingung dengan tempat wisata yang itu-itu saja, coba ikutlah perjalanan 'Nostalgic Parahyangan Escape'.
'Perjalanan Nostalgia Parahyangan' menyajikan pengalaman perjalanan khusus yang menghidupkan kembali romansa jalur legendaris Jakarta–Bandung dengan menggabungkan warisan budaya, tempat-tempat bersejarah, masakan khas Nusantara, serta transportasi ikonik dari berbagai era.
Kerja sama antara PT Kereta Api Pariwisata, Whoosh, dan Plataran Indonesia ini terinspirasi oleh Kereta Parahyangan yang mulai beroperasi pada 31 Juli 1971 dan telah menjadi bagian dari perjalanan lintas generasi masyarakat Indonesia.
Bagi banyak orang, terutama yang memiliki ikatan dengan Kota Bandung sebagai kota pendidikan dan pusat intelektual, Kereta Parahyangan bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari kenangan dan perjalanan hidup.
Melalui Nostalgic Parahyangan Escape, Plataran Indonesia, KAI Wisata, dan
Whoosh menyajikan pengalaman yang menghubungkan masa lalu dan masa depan dalam sebuah perjalanan yang disusun secara khusus.
Tribun pernah mengikuti perjalanan tersebut.
Perjalanan dimulai dari Lounge VIP KAI di Jakarta, lalu peserta naik kereta api Panoramic Private menuju Bandung sambil menikmati pemandangan jalur legendaris Parahyangan, hidangan istimewa dari Teras by Plataran, serta sesi storytelling yang dipandu tentang sejarah dan budaya Jawa Barat.
Saat tiba di Bandung, peserta akan diajak menjelajahi berbagai tempat ikonik seperti Museum Gedung Sate, Villa Isola, Observatorium Bosscha, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta menikmati tur kota dengan menggunakan Bandros.
Pengalaman ini juga diiringi dengan makan siang khusus di Plataran Bandung serta menjelajahi karya seni dan budaya setempat di Lorong Gallery Bandung.
Sebagai destinasi premium tempat acara dan penyajian makanan yang mengusung semangat The
Jantung kebudayaan Jawa Barat, Plataran Bandung menyajikan pengalaman layanan yang lebih tinggi dalam pelayanan Indonesia dengan menggabungkan budaya setempat, standar layanan Plataran, serta suasana khas Jawa Barat.
Pengalaman Nostalgic Parahyangan akan tersedia secara rutin dua kali setiap bulan sepanjang tahun 2026 hingga 2027.
Melalui inisiatif ini, Plataran Indonesia bekerja sama dengan KAI Wisata dan Whoosh mengajak masyarakat menikmati perjalanan yang tidak hanya menghubungkan Jakarta dengan Bandung, tetapi juga menggabungkan sejarah budaya serta kemajuan Indonesia dalam sebuah pengalaman yang tulus dan mengesankan.
Pemimpin Perusahaan Plataran Indonesia, Yozua Makes menyampaikan bahwa bagi banyak orang, khususnya yang memiliki ikatan dengan Kota Bandung sebagai pusat pendidikan dan intelektual, Kereta Parahyangan bukan hanya alat transportasi, tetapi bagian dari kenangan dan perjalanan hidup mereka.
Melalui Nostalgic Parahyangan Escape, Plataran Indonesia, KAI Wisata, dan Whoosh menyajikan pengalaman yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan dalam sebuah perjalanan yang dirancang khusus.
"Pada saat kita melihat Parahyangan, saya teringat sekitar tahun 80-an ketika saya lulus, saat itu sangat terkenal. Terlebih pada tahun 70-an saat kuliah di ITB, kita sering menggunakan kereta api Parahyangan. Kami ingin menjadikan perjalanan kereta bukan hanya sebagai alat transportasi, tetapi menjadi sebuah pengalaman wisata yang mampu membuat pariwisata Indonesia semakin dikenal secara global," kata Yozua.
Pengalaman Nostalgic Parahyangan akan tersedia secara rutin dua kali setiap bulan sepanjang tahun 2026 hingga 2027.
Beberapa tempat yang dikunjungi antara lain akan mengajak para wisatawan untuk menjelajahi berbagai destinasi terkenal seperti Museum Gedung Sate, Villa Isola, Observatorium Bosscha, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta menikmati tur kota dengan menggunakan Bandros.
Di antara berbagai destinasi tersebut, perjalanan yang paling menarik adalah ketika mengunjungi Villa Isola.
Villa Isola merupakan bangunan bergaya Art Deco yang terkenal di wilayah utara Bandung, dibuat oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker pada tahun 1932 hingga 1933.
Dibangun sebagai tempat tinggal pribadi oleh pengusaha D.W. Berretty, lokasi ini memiliki riwayat panjang yang pernah berubah fungsi menjadi sebuah hotel, markas militer, dan sekarang digunakan sebagai kantor rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Kepala Museum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Leli Yulifar menyampaikan bahwa ketika mengunjungi Villa Isola, para pengunjung akan diajak ke bioskop untuk menyaksikan sejarah dari Villa Isola.
Film yang diputar tersebut telah mendapatkan pengakuan dari negara Belanda terkait sejarah panjang jurnalis sekaligus konglomerat D.W. Berretty.
"Saat ini kami sedang menyiapkan film episode berikutnya. Yang ditampilkan di sini hanya episode 1 dan 2. Tunggu saja kelanjutannya agar penasaran dan kembali ke sini," ujar Leli.