-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Anomali Penjual Telur: Harga Baik, Daya Beli Menurun

Selasa, 18 Agustus 2026 , 14.59 WIB Last Updated 2026-08-20T08:16:06Z


JAKARTA - Di tengah situasi pasar yang dinilai stabil, para pedagang telur justru menghadapi tantangan berupa penurunan daya beli masyarakat. Hal ini berdampak pada menurunnya volume penjualan hingga 60 persen dibandingkan sebelumnya.

Tio, seorang pedagang telur di Pasar Pos Pengumben, Jakarta Barat, mengungkapkan bahwa penjualannya turun sekitar 60 persen dibandingkan kondisi sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa penurunan tersebut mulai terasa setelah Lebaran tahun ini. Meskipun awalnya aktivitas penjualan masih berjalan normal dan permintaan cukup stabil, kini situasinya berubah drastis.

"Kondisi sangat menurun," kata Tio saat ditemui, Senin (17/8). Ia menjelaskan bahwa penurunan pembelian paling terasa dari pelanggan yang merupakan pelaku usaha makanan, seperti warteg dan pedagang nasi goreng. Sebelumnya, pelanggan ini biasanya membeli lima hingga enam kilogram telur per hari, namun kini hanya membeli sekitar dua hingga tiga kilogram.

"Rata-rata berubah semua Mas. Dari warteg, dari tukang nasi goreng yang tadinya beli 5 kilo 6 kilo, sekarang cuma 3 kilo, 2 kilo. Sangat menurun sekali," ujarnya.

Menurut Tio, kondisi ini membuat para pedagang telur ikut terdampak karena penjualan sangat bergantung pada aktivitas para pelanggan. Sementara itu, pembeli rumah tangga cenderung tidak berbelanja telur setiap hari. Terlebih, kondisi serupa juga terjadi dengan kawan-kawan pedagang lainnya yang ada di sejumlah pasar di Jakarta.

"Semua merasakan mas, teman-teman saya (pedagang telur) lainnya di Kebayoran Lama, sama," katanya.


Di tengah penurunan permintaan, Tio menyebutkan bahwa harga telur justru relatif stabil selama sekitar sebulan terakhir. Harga dari distributor berada di kisaran Rp21 ribuan dan belum mengalami perubahan berarti.

"Bagus harganya sebenernya, cuma daya beli masyarakatnya itu yang berkurang," ujarnya. Ia menilai harga telur saat ini sebenarnya cukup terjangkau jika dibandingkan dengan sejumlah biaya produksi dan distribusi. Namun, kemampuan masyarakat membeli justru melemah.

"Malah daya belinya yang turun, kan aneh. Berarti ekonomi semua lagi pada sulit sepertinya," kata Tio.

Untuk mempertahankan penjualan, Tio mengaku harus menyesuaikan margin keuntungan. Persaingan antarpedagang membuatnya tidak bisa mempertahankan margin seperti sebelumnya.

"Tetap ada Mas. Kita menyesuaikan. Kalau kita tetep kekeuh kayak yang pertama kita ngambil untung segitu, nggak bisa. Saingannya banyak sekarang, apalagi kalau kita tetep harganya di atas semua, kita malah makin turun entar," katanya.


Meski penjualan melemah, pasokan telur menurut Tio masih aman. Ia biasanya mengambil sekitar 100 ikat atau 1,5 ton telur yang kemudian didistribusikan ke dua lokasi.

"Pokoknya aman. Kalau stok aman banget kalau untuk telur ya. Paling aman pokoknya dah," sambungnya.

Telur ayam negeri menjadi jenis yang paling banyak dicari konsumen. Sementara telur bebek dan telur ayam kampung lebih banyak menjadi pilihan tambahan.


Di momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Tio berharap kondisi ekonomi nasional lebih stabil sehingga aktivitas masyarakat dan pedagang kembali berjalan lebih baik.

"Semoga ekonomi Indonesia makin stabil dah pokoknya Mas. Nyari duit enak, biar sama-sama enak," katanya. Dia juga berharap kondisi ekonomi yang lebih baik dapat membuat masyarakat lebih mampu memenuhi kewajiban, termasuk membayar pajak.

"Kita taat bayar pajak juga enak. Kalau ekonomi susah, kita mau bayar pajak gimana coba? Logikanya begitu," ujarnya.

×
Berita Terbaru Update