PONTIANAK - Kendati sebaran titik panas di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) sempat menunjukkan tren penurunan, ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) rupanya belum sepenuhnya mereda.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalbar secara tegas memperingatkan masyarakat hingga pihak korporasi agar menahan diri dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dalam situasi cuaca yang rentan saat ini.
Peringatan krusial tersebut dilayangkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi Kalbar, Ridwan, menyusul rilis data prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Berdasarkan analisis pemetaan BMKG, tingkat kemudahan terjadinya karhutla di wilayah Kalbar diprediksi masih bertahan cukup tinggi setidaknya hingga 5 Oktober 2026 mendatang.
Ridwan menyoroti dua tanggal yang dinilai paling riskan, yakni pada 4 dan 5 Oktober, di mana kondisi atmosfer serta kekeringan lahan berpotensi memicu eskalasi api secara cepat.
Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak, mulai dari pemilik lahan mandiri hingga manajemen perusahaan skala besar, untuk mematuhi larangan pembakaran demi menjaga kondusivitas lingkungan yang mulai membaik.
Menurutnya, kedisiplinan bersama dalam menahan diri dari membuka lahan dengan cara membakar menjadi kunci utama agar insiden karhutla yang merugikan pada periode-periode sebelumnya tidak kembali berulang.
Kelalaian kecil dalam kondisi cuaca yang mendukung penyebaran api dapat berdampak fatal dan memperburuk kualitas udara di daerah tersebut.
BPBD Kalbar juga menekankan pentingnya pendekatan pencegahan dini daripada penanganan darurat saat api sudah membesar.
Ridwan mengimbau partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat untuk saling mengawasi lingkungan sekitar, mematuhi instruksi keselamatan, serta segera melaporkan potensi titik api agar Kalbar terhindar dari ancaman bencana kabut asap.