Di balik kostum seram dan riasan pekat para cosplayer hantu di Jalan Asia Afrika Kota Bandung, tersimpan kisah perjuangan hidup yang menyentuh hati. Dari aksi dikejar Satpol PP hingga perjuangan menafkahi keluarga, keberadaan mereka kini menjadi magnet wisata yang siap menembus layar lebar.
Tatkala matahari surut di atas langit Kota Bandung, trotoar bersejarah di Jalan Asia Afrika perlahan berubah menjadi panggung drama. Wajah berselimut cat hijau pekat, rambut legam yang terurai berantakan, serta gaun lusuh melambai-lambai kini menyapa setiap pasang mata pengendara. Sekilas, sesosok Nenek Lampir itu tampak menakutkan tatkala memekik kecil di pinggir jalan. Namun, jangan terburu-buru bergidik atau membuang muka. Di balik riasan seram yang memaksa siapa pun menjauh itu, ada tubuh yang sedang bermandi peluh.
Sosok di dalam kostum Nenek Lampir itu adalah Andi (46). Sejak tahun 2018, Andi saban hari memilih "menjelma" menjadi hantu demi mengais rezeki di jantung Kota Kembang.

Bagi Andi dan puluhan rekannya, berdandan menjadi makhluk astral bukan sekadar gimik untuk menakut-nakuti pengguna jalan, melainkan ladang pengabdian seorang kepala keluarga. Di tengah terik udara yang menyengat di bawah lipatan kostum tebal, Andi terus melepas senyum—meski wajahnya tersembunyi rapat di balik riasan. Tak jarang, kaca jendela mobil terbuka, memunculkan lambaian tangan hangat dari para wisatawan yang justru penasaran ingin berswafoto bersama sang Nenek Lampir.
"Sebenarnya gerah sekali. Tapi ada satu prinsip yang selalu saya pegang: jangan pernah bilang gerah demi anak dan istri," ungkap Andi tulus saat berbincang hangat bersama Tribun Jabar. Bagi pria bersahaja ini, derita menahan panas di balik kostum seram menguap begitu saja tatkala mengingat tanggung jawabnya di rumah. "Hidup laki-laki itu untuk bekerja dan menafkahi keluarga."
Perjuangan Andi dan kawan-kawan tidak diraih dalam semalam. Dulu, para cosplayer hantu ini harus kucing-kucingan dan kejar-kejaran dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Lembar hitam trauma diusir dari trotoar mendorong mereka berbenah. Melalui wadah tiga komunitas besar yang menaungi sekitar 37 anggota aktif, mereka mengajukan permohonan resmi ke dinas terkait. Kini, keberadaan "hantu-hantu" Asia Afrika resmi diakui pemerintah sebagai salah satu daya tarik wisata ikonik Kota Bandung.
Karakter yang dimainkan pun terorganisasi secara rapi. Komunitas menentukan pembagian peran agar tidak ada karakter yang bertabrakan. Selain Nenek Lampir yang dilakoni Andi, ada pula cosplayer yang kebagian peran sebagai Pocong, Kuntilanak, hingga Wewe Gombel.
Cerita lain datang dari Alga (23), anak muda yang sehari-hari berkostum Wewe Gombel. Bagi Alga, jalanan Asia Afrika adalah ruang penuh kejutan. Dari sini, ia bisa mengantongi rezeki yang tak menentu. Saat akhir pekan atau libur panjang tiba, pundi-pundi rupiah mengalir deras dari kemurahan hati wisatawan.
"Kalau lagi ramai, alhamdulillah penghasilan bisa ratusan ribu. Bikin tersenyum, berasa seperti gaji Pegawai Negeri Sipil," kelakar Alga diselingi tawa renyah. Meski begitu, Alga menegaskan bahwa komunitasnya tidak pernah memasang tarif. Mereka menerima uang seikhlasnya dari para pengunjung yang mengajak berfoto—mulai dari pecahan Rp2.000, Rp5.000, hingga wisatawan dermawan yang memberi Rp50.000.
Jika ada cosplayer yang memaksa atau mematok harga, Alga memastikan itu dilakukan oleh oknum di luar komunitas resmi. Namun, mengais rezeki di jalanan tak jarang menyisakan pahit. Pandangan sebelah mata dari sebagian masyarakat masih kerap menggores hati mereka. Alga meluruskan bahwa mereka selalu menjaga etika dan menjauhi kontak fisik tanpa persetujuan penonton. "Kami tidak pernah menyentuh atau memegang pengunjung, kecuali kalau orangnya sendiri yang minta diperagakan adegan lucu, seperti pura-pura dicekik untuk foto," terang Alga.
Perjuangan dan keunikan kisah hidup para "hantu" Asia Afrika ini rupanya menarik perhatian industri perfilman tanah air. Tak lama lagi, kisah jerih payah dan suka duka mereka akan diangkat ke layar lebar melalui film layar lebar bertajuk Conjuring Bandung. Film bergenre horor-komedi yang memadukan romansa dan dinamika kehidupan cosplayer ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026 mendatang. Melalui film tersebut, publik tak hanya diajak tertawa atau terkejut oleh aksi konyol para hantu Asia Afrika, tetapi juga diajak menyelami keteguhan hati para pejuang rupiah di balik topeng seram mereka.
Di balik kostum yang mengintimidasi, ada senyum hangat, tawa kebersamaan, dan helaan napas lega seorang ayah yang berhasil membawa pulang rezeki halal untuk keluarganya.