Siapa sangka, di balik dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia justru mencatatkan lonjakan drastis pada jumlah populasi orang super kaya.
Laporan terbaru Wealth Report 2026 yang dirilis Knight Frank mencatat bahwa jumlah individu berpenghasilan sangat tinggi atau Ultra-High-Net-Worth Individuals (UHNWI) di Tanah Air telah menembus angka 3.833 orang pada 2026.
Angka ini mencerminkan kenaikan tajam sebesar 36,6% dibandingkan periode 2021 yang berada di angka 2.805 orang, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia di peringkat ke-8 se-Asia di bawah negara-negara seperti China, India, Jepang, Singapura, Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Kategori UHNWI versi Knight Frank mengacu pada individu yang mengantongi kekayaan bersih minimal US$ 30 juta atau setara dengan Rp 534,36 miliar (asumsi kurs Rp 17.812,1 per US$).
Laporan Wealth Sizing Model yang rilis pada Minggu (20/9/2026) tersebut juga memproyeksikan lompatan luar biasa untuk lima tahun mendatang. Pada periode 2026 hingga 2031, jumlah jutawan super di Indonesia diperkirakan melonjak hingga 82% menjadi 6.966 orang.
Laju pertumbuhan spektakuler ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan populasi orang super kaya tercepat di dunia, melampaui negara-negara berkembang dan maju lainnya seperti Arab Saudi (+63%), Polandia (+63%), Vietnam (+59%), serta Australia (+59%).
Tidak hanya pada kategori UHNWI, tren pertumbuhan ini juga terlihat nyata pada kelompok miliarder. Indonesia mencatat keberadaan 33 miliarder pada 2026 dan diproyeksikan bertambah pesat sebesar 48,5% menjadi 49 orang pada 2031, yang menempatkan posisi Indonesia di urutan ke-12 secara global.
Lonjakan akumulasi kekayaan ini bukan terjadi tanpa alasan; kebijakan percepatan hilirisasi komoditas dan optimalisasi pengolahan sumber daya alam domestik dinilai berhasil membuka rantai nilai baru yang memberikan keuntungan besar bagi para pelaku usaha lokal.
Daya tahan pasar dalam negeri yang disokong oleh besarnya populasi usia produktif turut menjadi motor penggerak utama dalam menjaga daya beli masyarakat lintas sektor, mulai dari manufaktur, properti, hingga industri jasa keuangan. Selain itu, pesatnya penyerapan teknologi digital serta derasnya arus investasi modal swasta (private equity) kian menyuburkan ekosistem bisnis nasional.
Faktor-faktor inilah yang melahirkan generasi pengusaha baru di tanah air. Meski demikian, para pelaku usaha dan pemerintah tetap dituntut waspada terhadap ancaman tantangan global, seperti gejolak harga energi, pergerakan suku bunga acuan, dan penyesuaian regulasi perpajakan internasional.