Dosen IPM dan STIE Indonesia Malang Kembangkan Agroforestri Kopi Hijau di Singosari

Featured Image

Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Masyarakat dalam Pengembangan Pertanian Berkelanjutan

Tim dosen dari Institut Pertanian Malang (IPM) bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Malang (STIE IM) melakukan inovasi teknologi tepat guna di Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) 2025 Batch III yang bertujuan untuk mendorong penerapan sistem agroforestri kopi terpadu. Inisiatif ini berfokus pada peningkatan ketahanan ekonomi hijau bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonosoborejo.

Kegiatan yang berlangsung pada hari Kamis (30/10) dipimpin oleh Ibu Sri Sulastri, didampingi oleh anggota tim Diena Widyastuty dan Rayyan Sugangga serta beberapa mahasiswa. Hadir juga Bapak Ketua LPPM IPM, yaitu Bapak Muh. Agus Ferdian. Program ini mendapatkan dukungan pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025. Selain itu, Pak Kholil selaku Ketua KTH Wonosoborejo menjadi mitra utama dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Dalam sambutannya, Ketua LPPM IPM, Muh. Agus Ferdian menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, dosen tidak hanya bertugas mengajar dan melakukan penelitian, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menerapkan hasil risetnya agar bermanfaat bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat serta mendorong penerapan ilmu yang berdampak langsung pada ekonomi dan lingkungan lokal.

Teknologi Tepat Gunas untuk Pengolahan Sampah Organik

Teknologi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini berfokus pada pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos. Tujuannya adalah untuk menggantikan penggunaan pupuk kimia yang mahal dan berdampak negatif terhadap lingkungan. Sistem ini menggunakan mesin pencacah organik dan drum komposter untuk mempercepat proses dekomposisi sampah, khususnya seresah daun di area perkebunan kopi.

Ibu Sri Sulastri menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah organik menjadi kompos tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga menjaga kesuburan tanah secara alami. Pendekatan ini merupakan bagian dari strategi pertanian berkelanjutan yang sejalan dengan prinsip ekonomi hijau. Dengan demikian, petani dapat memperoleh manfaat jangka panjang baik dari segi ekonomi maupun lingkungan.

Peluncuran Laman Resmi dan Pelatihan Praktis

Selain praktik pembuatan kompos, kegiatan juga diisi dengan peluncuran laman resmi KTH Wonosoborejo (kthwonosoborejo.id). Platform ini diharapkan menjadi media informasi dan promosi produk kopi lokal (Kop Arjuno) hasil budidaya anggota kelompok. Sebanyak 15 anggota KTH mengikuti kegiatan pelatihan secara langsung, mulai dari sosialisasi teknologi hingga praktik lapangan.

Ketua KTH, Pak Kholil menyampaikan bahwa IPM dan STIE Indonesia Malang adalah pelopor perguruan tinggi yang melakukan kegiatan pengabdian di tempat mereka. Hal ini membantu pengembangan KTH Wonosoborejo. Ia juga menyebutkan bahwa penerapan teknologi tersebut memberikan manfaat nyata bagi petani. “Selama ini, daun dan sampah kebun kami anggap limbah. Setelah pelatihan ini, kami tahu nilainya besar untuk keberlanjutan usaha kopi kami,” ujarnya.

Sinergi Antara Perguruan Tinggi dan Masyarakat

Program ini menjadi salah satu contoh konkret sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun ketahanan ekonomi berbasis lingkungan. Dengan penerapan teknologi tepat guna, Kelompok Petani Hutan Wonosoborejo kini mampu memanfaatkan sumber daya lokal secara efisien. Hal ini mendukung produktivitas kopi serta memperkuat komitmen menuju pertanian berwawasan hijau dan berkelanjutan. Kehadiran perguruan tinggi dalam proyek ini menunjukkan potensi besar yang bisa dicapai melalui kolaborasi antar institusi dan masyarakat.

Lebih baru Lebih lama