B50 Segera Diterapkan, Proyeksi Harga CPO Global Meningkat


NUSA DUA, BALI — Kebijakan pemerintah Indonesia yang menaikkan rasio campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 kembali menjadi perhatian global. Langkah ini dinilai memiliki dampak signifikan terhadap pasokan minyak sawit untuk negara-negara pengimpor utama, seperti India.

CEO Westbury Group, Abdul Rasheed Jan Mohammad, menyampaikan bahwa kebijakan B50 berpotensi memengaruhi pasokan minyak sawit bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor CPO dari Indonesia. Ia mengatakan, jika kebijakan ini benar-benar diimplementasikan, maka pasokan akan terkendala, yang bisa menyebabkan fluktuasi harga di pasar regional maupun global.

“Namun, hal ini kembali kepada apakah Indonesia benar-benar ingin menerapkan B50 atau tidak,” ujarnya dalam konferensi 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) di Bali, Jumat (14/11/2025).

Rasheed juga menyoroti pertanyaan tentang prioritas penggunaan minyak sawit dalam negeri, apakah untuk kebutuhan pangan atau bahan bakar. Hal ini semakin kompleks mengingat harga minyak mentah saat ini sedang melemah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa permintaan CPO diperkirakan meningkat selama musim perayaan, termasuk Tahun Baru Imlek, Ramadan, dan Idulfitri. Peristiwa ini bertepatan dengan musim produksi rendah antara November 2025 hingga Maret 2026.

Menurutnya, minyak mentah tetap menjadi komoditas politik, dan harganya bervariasi berdasarkan situasi geopolitik. Meski demikian, secara keseluruhan harga minyak mentah masih stabil hingga lemah.

Rasheed menambahkan bahwa harga minyak mentah tetap dipengaruhi oleh faktor politik dan geopolitik. Selain itu, perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan negara lain juga dapat memengaruhi arah pasar jangka pendek maupun panjang.

Sementara itu, stok minyak sawit Malaysia pada Oktober 2025 berada di level 2,46 juta ton. Dia memperkirakan mulai November persediaan akan turun karena memasuki bulan-bulan produksi rendah antara November—Maret.

“Kita mungkin masih melihat tingkat stok yang sama pada November, atau sedikit lebih tinggi, tetapi mulai Desember saya pikir stok ini akan turun karena tingkat produksi rendah dan kami memperkirakan kinerja ekspor yang lebih baik,” tambahnya.

Dia memproyeksikan, indeks harga minyak sawit Malaysia (MDEX) akan bergerak di kisaran 4.100–4.300 ringgit Malaysia pada Desember—Januari, dan 4.200–4.500 ringgit Malaysia pada Januari—Maret 2026.

Lebih baru Lebih lama