Aracord (RONY) Alami Kerugian Hingga Kuartal III-2025, Ini Rekomendasi Sahamnya

Kinerja RONY Tahun 2025 Dinilai Masih Memprihatinkan

Pada tahun 2025, kinerja PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY) masih menunjukkan penurunan yang signifikan. Hingga kuartal III-2025, perseroan yang bergerak di sektor energi dan logistik ini masih mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp 4 miliar. Pendapatan yang diperoleh juga tergolong rendah, sehingga memperlihatkan bahwa perusahaan belum berhasil meningkatkan performa secara keseluruhan.

Menurut analis senior Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, kontraksi kinerja RONY terjadi baik dari sisi top line maupun bottom line. Margin negatif yang dalam menunjukkan bahwa skala usaha perusahaan masih tidak cukup untuk menutupi beban operasional yang besar.

“Secara tahunan, kinerja RONY belum menunjukkan perbaikan fundamental yang signifikan. Tahun 2025 bisa dikatakan sebagai tahun konsolidasi yang belum berhasil,” ujar Sukarno.

Potensi Pertumbuhan yang Belum Terwujud

Meskipun RONY memiliki rencana untuk mengembangkan bisnisnya ke sektor logistik dan kelistrikan, serta merancang proyek infrastruktur, potensi tersebut masih sebatas rencana. Sampai saat ini, belum ada indikasi nyata dari laporan keuangan yang menunjukkan realisasi dari strategi diversifikasi tersebut.

Sukarno menjelaskan bahwa peluang pertumbuhan memang ada, terutama dari pengembangan bisnis logistik dan energi. Namun, saat ini masih belum terlihat dalam bentuk nyata. Investor disarankan untuk lebih waspada terhadap risiko eksekusi proyek, likuiditas, transaksi afiliasi, serta volatilitas harga saham yang tinggi akibat likuiditas perdagangan yang tipis.

Tantangan di Tahun 2026

Menghadapi tahun 2026, pasar akan menantikan realisasi target operasional RONY untuk membuktikan adanya perubahan model bisnis yang dijanjikan oleh manajemen. Tanpa perbaikan kinerja yang konkret, prospek RONY dinilai masih penuh ketidakpastian.

Dari segi valuasi, Sukarno menilai bahwa saham RONY relatif mahal untuk sebuah perusahaan yang masih membukukan rugi. Saat ini, RONY diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) sekitar 2,11 kali.

“Valuasi tersebut belum mencerminkan kondisi fundamental. Pergerakan harga saham RONY saat ini lebih didorong oleh sentimen daripada kinerja keuangan,” tegas Sukarno.

Performa Saham di Akhir Tahun 2025

Pada penutupan perdagangan Selasa (30/12/2025), yang juga menjadi hari perdagangan terakhir tahun 2025, saham RONY ditutup melemah sebesar 3,13% ke level Rp 3.720 per saham. Penurunan ini menunjukkan bahwa investor masih meragukan kemampuan perusahaan untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik di masa depan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, kinerja RONY pada tahun 2025 masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan. Meskipun ada rencana strategis untuk diversifikasi bisnis, hal tersebut belum terbukti dalam laporan keuangan. Dengan valuasi yang relatif tinggi dan kinerja yang masih rugi, investor perlu lebih berhati-hati dalam mengevaluasi potensi saham RONY. Di tahun 2026, kinerja operasional dan realisasi rencana bisnis akan menjadi faktor penting yang akan menentukan prospek perusahaan.

Lebih baru Lebih lama