Refleksi Subuh Gubernur Kalbar: Syukuri Nafas Gratis Sebelum Menjadi Tagihan Rumah Sakit

Foto : Humas Pemprov

SINGKAWANG – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengajak umat Islam untuk melakukan redefinisi atas makna syukur dengan mengedepankan nikmat kesehatan dan nafas di atas materi. Hal tersebut menjadi poin sentral dalam kultum subuh yang disampaikannya di Masjid Agung Kota Singkawang, Selasa (3/3). Gubernur menekankan bahwa oksigen yang dihirup manusia setiap detik secara cuma-cuma adalah bentuk "hutang syukur" yang nilainya tak terhingga jika dikonversi secara matematis.

Pesan ini disampaikan melalui refleksi personal yang emosional saat dirinya terpapar COVID-19 beberapa tahun silam. Gubernur mengisahkan bagaimana biaya penggunaan oksigen selama tiga hari perawatan di rumah sakit bisa menembus angka Rp3 juta. Pengalaman tersebut dijadikannya pijakan untuk mengingatkan jemaah agar tidak hanya terpaku pada rezeki berupa harta, namun lupa mensyukuri fungsi organ tubuh yang bekerja tanpa henti.

"Coba kita berhitung secara matematis, betapa besarnya hutang syukur manusia jika oksigen yang kita hirup selama puluhan tahun harus dibayar dengan materi," ungkap Ria Norsan di hadapan jemaah subuh.

Selain perihal syukur, Gubernur memberikan panduan etis dalam menjalani kehidupan sosial dan spiritual. Ia menyarankan agar masyarakat menggunakan sudut pandang "melihat ke bawah" untuk urusan duniawi guna menumbuhkan rasa cukup dan menghindari kesombongan. Sebaliknya, dalam aspek ibadah, ia mendorong jemaah untuk "melihat ke atas" dengan menjadikan semangat orang-orang yang lebih taat sebagai motivasi peningkatan kualitas diri.

Memasuki fase pengampunan di bulan suci Ramadhan, Ria Norsan mengingatkan pentingnya implementasi Al-Qur'an sebagai pedoman hidup sesuai mandat QS. At-Tahrim ayat 6 tentang menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ia menegaskan bahwa Ramadhan adalah fase "bonus besar-besaran" di mana pahala amalan wajib dilipatgandakan hingga 70 kali lipat.

Sebagai penutup tausiyahnya yang khusyuk, Gubernur memberikan peringatan keras mengenai hakikat kematian yang bersifat rahasia dan tidak terduga. Ia mengajak seluruh jemaah untuk terus berbenah diri sebelum waktu pengabdian di dunia berakhir. "Bisa jadi hari ini kita mengantar orang yang meninggal, besok mungkin giliran kita yang diantar orang," pungkasnya. (arya)

Lebih baru Lebih lama