Foto : Ilustrasi AI
YOGYAKARTA – Bulan Mei 2026 menjadi momentum krusial bagi para pengamat langit seiring dengan hadirnya puncak fenomena hujan meteor Eta Aquarid yang diprediksi mencapai intensitas tertinggi pada tanggal 6 hingga 7 Mei 2026. Fenomena ini merupakan kelanjutan dari rangkaian peristiwa astronomi setelah berakhirnya hujan meteor Lyrid pada April lalu. Sebagai sisa debu dan batuan dari komet legendaris 1P/Halley, Eta Aquarid akan menawarkan pemandangan "bintang jatuh" yang paling optimal bagi penduduk di belahan Bumi selatan, termasuk Indonesia.
Kehadiran Eta Aquarid tidak lepas dari jejak orbital Komet Halley. Setiap kali komet ini memasuki tata surya bagian dalam, ia melepaskan partikel es dan batuan yang kemudian menetap di jalur orbit Bumi. Berdasarkan catatan sejarah:
Identifikasi: Astronom Edmund Halley pertama kali memprediksi orbit komet ini pada 1705.
Siklus: Komet Halley mengorbit Matahari setiap 76 tahun sekali; terakhir terlihat pada 1986 dan diprediksi kembali pada 2061.
Radiant: Nama "Eta Aquarid" diambil dari titik pancarannya di rasi bintang Aquarius, khususnya dekat bintang Eta Aquarii.
Secara teknis, hujan meteor ini memiliki kecepatan luncur mencapai 65,4 km per detik. Wilayah di belahan Bumi selatan dan area di sekitar garis khatulistiwa memiliki keunggulan visual dibandingkan belahan Bumi utara. Pada puncaknya, pengamat di wilayah tropis dapat menyaksikan hingga 50 meteor per jam, sementara di belahan utara frekuensinya lebih rendah, yakni berkisar 10–30 meteor per jam.
Meskipun telah aktif sejak 19 April, periode terbaik untuk pengamatan jatuh pada tiga hari pertama di bulan Mei:
5 Mei 2026: Terlihat mulai pukul 01.11 hingga 04.53 WIB.
6 Mei 2026: Terlihat mulai pukul 01.11 hingga 04.47 WIB.
7 Mei 2026: Puncak paling ideal terjadi pada pukul 01.56 hingga 04.57 WIB, dengan batas akhir kenampakan pukul 05.13 WIB.
Untuk memaksimalkan pengalaman visual tanpa alat bantu (teleskop tidak disarankan karena membatasi bidang pandang), berikut langkah-langkah yang direkomendasikan:
Lokasi: Pilih area yang minim polusi cahaya (jauh dari perkotaan).
Adaptasi Mata: Berikan waktu 15–30 menit agar mata terbiasa dengan kegelapan.
Peralatan: Gunakan senter cahaya merah atau mode malam pada gawai untuk menjaga sensitivitas pupil mata.
Posisi: Gunakan kursi malas atau alas duduk yang nyaman untuk memantau langit secara menyeluruh, tidak hanya terpaku pada rasi Aquarius.
