Takdir Lucu Sepak Bola: Zidane, Italia, dan Luka Lama yang Kembali Bersemi di Prancis


Sepak bola sering kali menawarkan momen yang tak terduga dan penuh drama. Hal ini kini akan dialami oleh Zinedine Zidane, yang baru saja diumumkan sebagai pelatih tim nasional Prancis. Dengan debutnya sebagai pelatih, Zidane akan menghadapi tantangan besar dalam melanjutkan warisan legendaris yang telah dibangun oleh Didier Deschamps.

Zidane akhirnya mewujudkan impian lamanya setelah hampir bertahun-tahun menunggu kesempatan untuk mengisi kursi pelatih Prancis. Ia secara resmi diperkenalkan oleh Federasi Sepak Bola Prancis sebagai pelatih Les Bleus, menggantikan Deschamps yang telah memimpin selama 14 tahun. Kini, Zidane harus membawa Prancis berjaya di berbagai turnamen, termasuk meruntuhkan dominasi Spanyol sebagai juara bertahan di Euro dan Piala Dunia.

Meski memiliki skuad yang kuat dan generasi emas, Zidane masih menghadapi tantangan berat. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah debutnya sebagai pelatih di laga kandang. Jika melihat jadwal terdekat, dua laga pertama Prancis di UEFA Nations League akan dilaksanakan di luar kandang. Laga perdana akan melawan Turki di Kocaeli Stadium, Izmit pada 26 September 2026. Tiga hari kemudian, Prancis akan bertanding melawan Belgia di markas mereka.

Laga tandang beruntun ini menjadi ujian awal bagi Zidane sebagai suksesor Deschamps. Baru setelah itu, ia akan bisa merasakan sensasi melatih di kandang sendiri. Dan di sana, skenario tak terduga akan tercipta, karena lawan pertamanya akan menjadi Italia.


Laga melawan Italia akan menjadi debut Zidane di laga kandang sebagai pelatih. Ini bukan sekadar pertandingan biasa, karena Italia merupakan tim yang pernah menyisakan kenangan buruk bagi Zidane. Final Piala Dunia 2006 antara Prancis dan Italia menjadi salah satu momen ikonik dalam sejarah sepak bola. Saat itu, Zidane menanduk dada Marco Materazzi dengan kepalanya, yang akhirnya membuat wasit mengeluarkan kartu merah baginya.

Kejadian tersebut memengaruhi hasil pertandingan, di mana Prancis kalah adu penalti. Zidane pun menutup karier profesionalnya tanpa gelar Piala Dunia. Kini, Zidane berdiri di pinggir lapangan sebagai pelatih, mencoba membangun kejayaan baru bagi Prancis di hadapan lawan yang sama.

Dahulu, Zidane datang sebagai kapten, keluar dengan kartu merah, dan menyaksikan Italia berpesta. Kini, ia berada di posisi yang berbeda. Meskipun telah meraih segalanya sebagai pelatih bersama Real Madrid, memimpin Timnas Prancis adalah urusan hati. Bertemu Italia di awal kepemimpinannya memberikan narasi balas dendam yang elegan, bukan dengan amarah, melainkan dengan taktik dan kemenangan di atas lapangan hijau.

Apakah takdir lucu ini akan berujung manis bagi Zidane di depan pendukungnya sendiri, atau justru Italia kembali menjadi mimpi buruk yang memutar nostalgia lama? Semua akan terjawab dalam pertandingan mendatang.

Lebih baru Lebih lama