
YOGYAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah daerah di Indonesia mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem panjang di tengah dominasi musim kemarau. Berdasarkan pemantauan BMKG, sekitar 79,9 persen Zona Musim (ZOM) atau 559 ZOM di Indonesia mengalami musim kemarau. Di beberapa wilayah, kondisi kering bahkan berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa hujan.
DI Yogyakarta tercatat sebagai wilayah dengan HTH ekstrem paling panjang, yakni mencapai 110 hari. Selain DI Yogyakarta, dua provinsi di Pulau Jawa juga mencatat HTH ekstrem panjang yang hampir menyamai angka tersebut. BMKG mencatat Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing mengalami HTH selama 109 hari.
Berikut sejumlah daerah dengan HTH ekstrem panjang berdasarkan pemantauan BMKG:
- DI Yogyakarta: 110 hari
- Jawa Tengah: 109 hari
- Jawa Timur: 109 hari
- NTT: 97 hari
- NTB: 94 hari
- Bali: 92 hari
- Jawa Barat: 89 hari
- Banten: 88 hari
- Sulawesi Selatan: 81 hari
- Maluku: 73 hari
- Bangka Belitung: 72 hari
- Kalimantan Selatan: 68 hari
- Kalimantan Tengah: 68 hari
- Sulawesi Barat: 68 hari
- Sulawesi Tenggara: 67 hari
- Sulawesi Utara: 67 hari
- Maluku Utara: 65 hari
Data tersebut menunjukkan durasi hari tanpa hujan yang cukup panjang terjadi di berbagai wilayah, terutama di Pulau Jawa dan kawasan Nusa Tenggara.
Meski kemarau mendominasi sebagian besar Zona Musim, BMKG menyebut kondisi cuaca dan musim di Indonesia tidak seragam. Sejumlah wilayah masih mengalami musim hujan, antara lain sebagian Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua.
Dengan demikian, kondisi kemarau tidak dapat disamaratakan untuk seluruh wilayah dalam satu provinsi. Perbedaan kondisi tersebut juga terlihat dari adanya daerah yang mengalami HTH ekstrem panjang, sementara wilayah lain masih mendapatkan hujan.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah yang mengalami kondisi kering untuk tetap menghemat penggunaan air. Sementara bagi masyarakat di wilayah yang sering mengalami hujan, BMKG mengingatkan pentingnya memastikan saluran air atau selokan tetap bersih. Hal tersebut diperlukan agar aliran air tetap lancar dan tidak terganggu oleh sampah maupun penyumbatan.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap aman dan siaga menghadapi kondisi cuaca dan iklim di wilayah masing-masing. Dengan informasi yang diberikan, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah-langkah pencegahan sesuai dengan kondisi yang terjadi di sekitar mereka.