-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dokter Diduga Hina Pasien BPJS, RSUP Sardjito Beri Penjelasan

Selasa, 04 Agustus 2026 | Agustus 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-05T03:40:15Z


Media sosial Threads kini sedang dibanjiri oleh unggahan dari seorang pasien yang mengaku menggunakan layanan BPJS Kesehatan. Dalam unggahannya, pemilik akun menceritakan pengalamannya harus menunggu selama 8 jam di sebuah rumah sakit untuk mendapatkan kamar. Ia tidak menyebutkan secara eksplisit nama rumah sakit tersebut, tetapi pengalaman ini menjadi viral dan memicu berbagai respons dari netizen.

Unggahan tersebut mendapat banyak komentar yang bernada sinis dan merendahkan. Beberapa netizen bahkan memberikan saran yang tidak pantas, seperti menyuruh pemilik akun untuk menderita serangan jantung agar bisa segera ditangani oleh rumah sakit. Ada juga yang mengatakan agar ia memotong nadi agar cepat mendapat perawatan.

Salah satu netizen yang memberikan komentar tersebut diduga adalah seorang dokter yang bekerja di RSUP Sardjito Sleman dan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Akun @erudarahaadinii menilai bahwa pemilik akun tidak memiliki otak karena curhatannya itu. Hal ini memicu kontroversi yang semakin membesar.

Beberapa hari setelah unggahan tersebut viral, diketahui bahwa kerabat dari pemilik akun mengumumkan bahwa pemilik akun telah meninggal dunia. Mereka meminta agar komentar-komentar cibiran yang muncul di media sosial tidak dilanjutkan.

RSUP Sardjito Jelaskan Bukan Pegawai
Manajer Hukum dan Humas RSUP dr. Sardjito, Banu Hermawan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan penelusuran terkait unggahan tersebut. Menurutnya, dokter yang memberikan komentar bukanlah pegawai resmi RSUP Sardjito, melainkan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

"Yang bersangkutan memang merupakan salah satu peserta didik. Jadi, bukan pegawai RSUP dr. Sardjito. Dia adalah murni peserta didik," ujar Banu saat dihubungi wartawan, Selasa (4/8).

Dokter berinisial EPR tersebut merupakan peserta PPDS dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).

RSUP Sardjito Koordinasi dengan FKKMK UGM
Terkait kasus ini, pihak RSUP Sardjito akan berkolaborasi dengan FKKMK UGM dalam menangani masalah tersebut. Banu menjelaskan bahwa karena yang bersangkutan adalah peserta didik, maka kolaborasi antara dua institusi ini sangat penting.

"Karena ini peserta didik, kami akan lakukan kolaborasi dalam penanganan permasalahan ini," katanya.

"Dengan adanya upload-an seperti ini, kami cukup kaget. Namun demikian, kami tidak bisa menjustifikasi kondisi tersebut sehingga kita akan melakukan klarifikasi bersama terlebih dahulu," tambahnya.

Banu menegaskan bahwa baik RSUP Sardjito maupun FKKMK UGM berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat.

Pihaknya juga memiliki Tim Pendidikan Bermartabat yang terdiri dari perwakilan dari RSUP dr. Sardjito dan FKKMK UGM. Tim ini akan bekerja sama untuk memanggil dan meminta klarifikasi kepada yang bersangkutan.

"Nah, tim ini nanti yang akan bergerak bersama. Jadi bukan kok parsial Sardjito bergerak sendiri, UGM bergerak sendiri, itu tidak. Tapi kami adalah satu kesatuan di mana tim yang ada, Tim Pendidikan Bermartabat inilah yang nanti akan memanggil, meminta klarifikasi kepada yang bersangkutan," pungkasnya.

×
Berita Terbaru Update