PONTIANAK - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah menghasilkan emisi karbon sebesar 34,83 megaton antara 1 Januari hingga 26 Agustus 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, dengan kenaikan sebesar 28 kali lipat. Grafik akumulasi emisi karbon menunjukkan pola serupa dengan tahun 2015 yang terkenal sebagai masa El Nino super, yang menyebabkan bencana kabut asap Asia.
Sebagai informasi, ketika kebakaran terjadi, vegetasi yang terbakar akan melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan dalam tanah dan tumbuhan. Jumlah emisi karbon akan semakin besar jika kebakaran meluas ke lahan gambut, yang memiliki cadangan karbon yang sangat besar. Hal ini membuat kondisi karhutla menjadi sangat berbahaya bagi lingkungan dan iklim.
Data dari Fire Emissions Watch, layanan pemantauan atmosfer Uni Eropa Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), menunjukkan bahwa lonjakan emisi karbon di Indonesia terjadi pada bulan Agustus. Dari Januari hingga Juli, total emisi karbon hanya mencapai 8,25 megaton. Namun, setelah ditambahkan dengan emisi pada Agustus, jumlahnya meningkat menjadi 34,83 megaton. Artinya, emisi karbon meningkat sebesar 26,58 megaton dalam satu bulan saja.
Peningkatan yang signifikan ini memicu pertanyaan apakah krisis asap Asia pada tahun 2015 akan terulang kembali. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar dalam pelepasan karbon, yaitu sekitar 423 kiloton per hari pada Agustus. Wilayah lain seperti Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Selatan juga memberikan kontribusi yang cukup besar, masing-masing sebesar 199, 129, dan 73 kiloton per hari.
Dibandingkan dengan kebakaran di Gironde, Prancis pada Juli lalu, emisi karbon yang dihasilkan oleh kebakaran di Indonesia jauh lebih besar. Kebakaran di Gironde hanya menghasilkan sekitar 0,89 megaton karbon. Meskipun kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 42 ribu hektare dan disebut sebagai kebakaran tunggal terbesar kedua di Prancis sejak Perang Dunia II, dampaknya tidak sebesar yang terjadi di Indonesia.
Pergerakan akumulasi karbon dari kebakaran hutan di Indonesia tampak mirip dengan situasi pada tahun 2015. Pada periode yang sama, yaitu 1 Januari hingga 26 Agustus 2015, akumulasi karbon mencapai 47,68 megaton. Ketika musim kemarau berakhir pada November, jumlah karbon yang dilepaskan menembus angka 380 megaton.
Ribuan hektare lahan dan hutan masih terbakar di berbagai wilayah Indonesia. Menurut catatan SiPongi Kementerian Kehutanan, luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 202 ribu hektare antara Januari dan Juli 2026. Wilayah paling parah terkena kebakaran adalah Kalimantan Barat, dengan luasan sekitar 38,3 ribu hektare. Diikuti oleh Papua Selatan dengan 25,8 ribu hektare, Nusa Tenggara Timur dengan 19,5 ribu hektare, serta Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Selatan masing-masing sebesar 17,4 ribu hektare.
Meski jumlah kebakaran menurun dibandingkan tahun lalu, ribuan titik panas masih terdeteksi di seluruh Indonesia. Data SiPongi, yang merujuk pada pantauan satelit NASA-NOAA20, menunjukkan sekitar 2 ribu titik panas pada Jumat (28/8). Keberadaan titik panas ini menunjukkan bahwa kebakaran masih terjadi di beberapa daerah dan potensi risiko kabut asap tetap ada.