![]() |
| Foto : Ilustrasi AI |
Oleh : Muhadis Eko Suryanto, SIP
Setiap Rabu terakhir pada bulan Safar, riak Gelombang Muara Mempawah tidak hanya membawa air pasang, melainkan juga membangkitkan kembali memori sejarah ratusan tahun silam. Ritual Robo-Robo yang dirayakan secara kolosal oleh masyarakat Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, bukanlah sebatas helatan adat atau ritus penolak bala (tolak bala) belaka. Lebih dari itu, Robo-Robo adalah tugu ingatan hidup (living monument) atas perjalanan sejarah Opu Daeng Manambon, sosok bangsawan Bugis yang meletakkan fondasi kedaulatan, tata pemerintahan, dan integrasi budaya di Bumi Galaherang.
1. Napak Tilas Perjalanan dan Pembentukan Tata Pemerintahan
Kedatangan Opu Daeng Manambon ke Mempawah pada abad ke-18 (sekitar tahun 1737 M / 1149 H) merupakan titik balik geopolitik yang krusial di kawasan pesisir Kalimantan Barat. Sebagai putra dari Opu Daeng Rilakka (satu dari lima bersaudara Bugis legendaris di Tanah Melayu), Opu Daeng Manambon membawa kultur bahari, kepemimpinan militer, serta visi politik yang matang.
Pernikahannya dengan Putri Kesumba (Utin Indrawati), putri dari Sultan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan yang juga cucu dari Raja Mempawah Pangeran Senggaok, menjadi simpul persatuan yang mengawinkan trah kekuasaan lokal dengan jaringan Bugis-Melayu. Ketika Opu Daeng Manambon menaiki takhta Kerajaan Mempawah dengan gelar Pangeran Mangkubumi Kesuma Wijaya, beliau merestrukturisasi sistem tata negara Mempawah:
Penyatuan Kultur: Memadukan kearifan lokal Melayu-Dayak dengan keterbukaan dan ketegasan hukum adat Bugis.
Pengembangan Sektor Ekonomi & Bahari: Menjadikan Mempawah sebagai pelabuhan niaga yang aman, terbuka bagi jalur perdagangan antar-pulau.
Penguatan Nilai-Nilai Islam: Mengintegrasikan hukum syariat dan nilai keislaman ke dalam sendi-sendi kehidupan istana dan rakyat.
Dalam literatur sejarah klasik Melayu-Bugis, Raja Ali Haji dalam kitab monumental Tuhfat al-Nafis mencatat peranan dan asal-usul persaudaraan Bugis tersebut dalam menancapkan pengaruh serta pemerintahan di wilayah Melayu dan Kalimantan:
"Maka Opu Daeng Manambon pun dipertuan di Mempawah... Maka sejahtera serta makmurlah negeri Mempawah itu sebab karunia Allah Ta'ala dan sebab adilnya serta kelakuannya yang baik..." - Raja Ali Haji, Tuhfat al-Nafis (1890)
2. Kaitan Erat Opu Daeng Manambon dan Ritual Robo-Robo
Pertautan antara Opu Daeng Manambon dan Robo-Robo berakar langsung dari momentum kepindahannya dari Kerajaan Matan menuju Sebukit Rama (Mempawah). Konon, pelayaran Opu Daeng Manambon bersama rombongannya disambut oleh rakyat Mempawah di muara sungai dengan penuh sukacita pada hari Rabu terakhir bulan Safar.
Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan pelayaran melintasi lautan luas serta doa memohon perlindungan bagi negeri yang baru dimasukinya, Opu Daeng Manambon beserta pengikutnya menggelar doa bersama dan pembagian makanan di tepi muara. Peristiwa bersejarah inilah yang kemudian diabadikan secara turun-temurun sebagai perayaan Robo-Robo.
Beberapa elemen kunci dalam ritual Robo-Robo merefleksikan nilai-nilai kepemimpinan Opu Daeng Manambon:
Tepung Tawar dan Doa Tolak Bala: Simbol penyucian diri dan permohonan perlindungan Ilahi agar negeri terhindar dari bencana dan penyakit.
Makan Saprahan: Tradisi duduk bersila dan makan bersama dalam satu hamparan tanpa memandang status sosial. Ini mencerminkan egalitariansme yang diusung Opu Daeng Manambon saat merajut persatuan masyarakat Mempawah yang heterogen.
Pelepasan Satwa/Air Doa ke Muara: Penanda keharmonisan antara manusia, alam bahari, dan Sang Pencipta.
Sebagaimana dicatat oleh pakar sejarah lokal Kalimantan Barat, Syahzaman dalam bukunya Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Kalimantan Barat (2006):
"Upacara Robo-Robo pada hakikatnya adalah napak tilas sejarah masuknya Pangeran Mangkubumi Opu Daeng Manambon ke Kerajaan Mempawah. Ia menjadi perpaduan antara ritus keagamaan, penghormatan kepada leluhur pendiri kerajaan, dan pesta rakyat yang mengukuhkan identitas budaya Melayu-Mempawah."
3. Epilog: Merawat Warisan di Era Modern
Melihat Robo-Robo dari kacamata kontemporer mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa ritual ini bukanlah sekadar nostalgik atas romantisme monarki masa lalu. Robo-Robo adalah media sublimasi budaya yang menjaga ingatan kolektif masyarakat Mempawah terhadap nilai-nilai luhur Opu Daeng Manambon: keberanian menjelajah, keterbukaan terhadap keberagaman, dan kepemimpinan yang berlandaskan spiritualitas.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan ritual Robo-Robo yang dihubungkan dengan jejak Opu Daeng Manambon menjadi jangkar identitas bagi generasi muda Mempawah. Menghayati Robo-Robo berarti menghayati kembali proses panjang pembentukan sebuah peradaban lokal yang inklusif dan berdaulat.
