-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Prediksi Awan Kumulonimbus di Indonesia, 29 Agustus-4 September 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 , 09.30 WIB Last Updated 2026-08-29T06:20:19Z
Prediksi Awan Kumulonimbus di Indonesia, 29 Agustus-4 September 2026


JAKARTA - Awan kumulonimbus sering menjadi perhatian utama dalam prediksi cuaca, terutama saat suhu panas dan lembap menghiasi permukaan bumi. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi iklim tetapi juga bisa berdampak signifikan pada aktivitas manusia, termasuk penerbangan dan kegiatan luar ruangan.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awan kumulonimbus dikenal sebagai "Raja Awan" karena ukurannya yang sangat besar. Awan ini menjulang vertikal dari dasar atmosfer hingga menembus puncak troposfer di ketinggian 15 kilometer atau lebih. Bentuknya menyerupai menara tinggi dengan bagian atas melebar seperti kepala jamur.

Proses pembentukan awan ini sangat cepat, hanya sekitar 30 menit, dan bisa bertahan selama 1 hingga 2 jam. Awalnya, awan ini terbentuk dari akumulasi uap air lembap di atmosfer yang tidak stabil. Dalam studinya, Prima Ayu Kholiviana dkk (2022) menjelaskan bahwa pertumbuhan awan vertikal ini sangat dipengaruhi oleh pergeseran angin vertikal (vertical wind shear).

Ketika mencapai fase dewasa, awan ini akan melewati batas pembekuan dan memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kilat, badai guruh, angin kencang, hingga hujan es. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada terhadap dampak yang ditimbulkan, mulai dari banjir akibat hujan deras hingga turbulensi ekstrem bagi penerbangan.

Prediksi Pertumbuhan Awan Kumulonimbus 29 Agustus - 4 September 2026

Bagi Anda yang berencana bepergian dengan pesawat atau beraktivitas di luar ruangan pada periode 29 Agustus hingga 4 September 2026, BMKG telah merilis peta prakiraan awan kumulonimbus melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Haji Muhammad Sidik. Prakiraan berbasis komputer ini membagi wilayah potensi awan badai menjadi dua kelompok besar agar lebih mudah dipahami masyarakat.

Pertumbuhan Awan Kumulonimbus Sangat Padat/Masif

Di zona merah ini, awan kumulonimbus diprediksi menutupi lebih dari 75 persen area langit. Wilayahnya meliputi:

  • Laut Bali
  • Laut Banda
  • Maluku
  • Samudra Hindia barat Bengkulu
  • Samudra Hindia barat Lampung
  • Samudra Hindia selatan Banten

BMKG pusat juga memprediksi potensi FRQ serupa di Sumatera Barat dan Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai untuk periode 30 Agustus hingga 5 September 2026.

Pertumbuhan Awan Kumulonimbus Sedang/Berkelompok

Pada kategori ini, awan kumulonimbus tumbuh berkelompok dan menutupi sekitar 50 hingga 75 persen area langit. Wilayahnya meliputi:

  • Aceh
  • Bali
  • Banten
  • Bengkulu
  • DI Yogyakarta
  • Gorontalo
  • Jambi
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan
  • Kepulauan Riau
  • Laut Jawa
  • Papua Tengah
  • Riau
  • Sulawesi Selatan
  • Sumatera Utara

Untuk mendeteksi awan berbahaya ini secara real-time, BMKG mengandalkan citra satelit Himawari-9. Satelit ini memiliki fitur Himawari-9 IR Enhanced untuk mengukur suhu puncak awan. Selain itu, kolaborasi dengan JMA menghasilkan produk Himawari-9 RDCA (Rapid Developing Convective Area) yang mampu mengidentifikasi awan cumulus berpotensi tumbuh menjadi cumulonimbus dalam waktu 1 jam ke depan.

Dengan melihat sebaran potensi pertumbuhan awan ini, masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap dampak yang ditimbulkan. Tetap pantau informasi cuaca resmi dari BMKG sebelum beraktivitas.

×
Berita Terbaru Update