-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Raja Tanpa Takhta: 6 Legenda Putra Indonesia yang Tak Pernah Masuk Peringkat Dunia

Senin, 24 Agustus 2026 , 07.00 WIB Last Updated 2026-08-24T06:20:58Z

Legenda Bulu Tangkis Indonesia yang Tak Pernah Menduduki Peringkat 1 Dunia

Keberhasilan Jonatan Christie dalam memastikan posisi peringkat satu dunia Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada Selasa, 25 Agustus 2026, kembali menempatkan bendera Indonesia di puncak sektor tunggal putra setelah lebih dari dua dekade. Jojo berhasil mencatatkan namanya sebagai tunggal putra kelima Indonesia yang resmi menduduki peringkat puncak sejak sistem pemeringkatan komputerisasi diperkenalkan pada awal era 1990-an. Namun, catatan administratif modern BWF tersebut belum merangkum seluruh kisah para legenda Merah Putih.

Jauh sebelum era komputerisasi, Garuda telah melahirkan deretan legenda raksasa yang mendominasi jagat bulu tangkis dunia secara faktual lewat torehan prestasi historis dan gelar-gelar ikonik. Meskipun nama mereka secara administratif tidak pernah tercatat dalam lembaran ranking berbasis komputer, kualitas dan dominasi mereka diakui secara global sebagai pemain nomor satu tanpa tanding pada zamannya.

Berikut adalah daftar lengkap para legenda tunggal putra Indonesia dengan prestasi luar biasa yang secara administratif/sistem tidak pernah duduk di peringkat 1 dunia resmi, diurutkan secara kronologis berdasarkan era kejayaannya:

1. Tan Joe Hok

Tan Joe Hok adalah pelopor kejayaan bulu tangkis Indonesia di panggung internasional. Berjaya di era 1950–1960-an, Tan Joe Hok secara faktual adalah tunggal putra terbaik dunia pertama yang dimiliki Indonesia. Sosok ini sekaligus membuka mata dunia akan kekuatan Merah Putih di peta dunia tepok bulu angsa hingga detik ini.

Tan Joe Hok adalah putra bangsa pertama yang menjuarai All England pada 1959. Ia juga memenangi Medali Emas Asian Games 1962 di Jakarta. Di sektor berego, ia membawa Indonesia menjadi Juara Piala Thomas tiga kali beruntun (1958, 1961, 1964).

2. Ferry Sonneville

Di era yang sama dengan Tan Joe Hok, ada nama Ferry Sonneville. Dominasi dan kehebatan keduanya di lapangan membuat Ferry dan kompatriotnya itu dijuluki The Big Two tunggal putra dunia. Berdarah Belanda, Ferry dikenal memiliki kecerdasan taktik yang tinggi. Kepiawaiannya ikut sumbangsih membawa Indonesia menjuarai Piala Thomas pada 1958, 1961, dan 1964. Di ajang All England 1959, Ferry hanya mampu melangkah hingga babak final, sebelum ditaklukkan oleh Tan Joe Hok di partai puncak.

3. Rudy Hartono

Aktif di tahun 1968–1976, tidak berlebihan rasanya untuk menyebut Rudy Hartono sebagai salah satu penguasa lapangan bulu tangkis dunia paling dominan. Meskipun tidak memiliki angka ranking resmi karena berkarir di era pra-komputerisasi BWF, Rudy Hartono sudah mencatatkan namanya di Rekor Guinness sebagai satu-satunya tunggal putra yang menembus final All England 10 kali beruntun dan memenangkannya sebanyak 8 kali.

Tak cuma itu, ia juga tercatat menjadi Juara Dunia IBF 1980, peraih medali emas Olimpiade 1972 saat bulu tangkis menjadi cabang olahraga demonstrasi, dan membawa Indonesia 4 kali menjadi Juara Piala Thomas (1970, 1973, 1976, 1979).

4. Liem Swie King

Saat nama Rudy Hartono mulai turun, Liem Swie King muncul sebagai suksesornya di periode 1978–1981. Punya gaya main yang eksplosif, Liem Swie King mungkin adalah sosok yang paling bertanggungjawab dalam mengubah wajah bulu tangkis dunia menjadi lebih cepat dan agresif. King tercatat pernah menjuarai All England sebanyak 3 kali (1978, 1979, 1981). Ia juga tergabung dalam tim Piala Thomas sebanyak tiga kali, yakni pada 1976, 1979, dan 1984, di mana Indonesia menjuarai ketiga ajang tersebut. Tak berhenti di situ, King juga menyabet dua medali emas Asian Games 1978 di nomor tunggal putra dan beregu putra.

5. Icuk Sugiarto

Pada masanya, Icuk Sugiarto dikenal sebagai raja reli dengan ketahanan fisik luar biasa serta pertahanan yang sangat rapat. Ia merebut predikat pemain terbaik dunia setelah memenangkan All Indonesian Final melawan Liem Swie King di Kejuaraan Dunia 1983. Ayah dari Tommy Sugiarto itu juga tercatat pernah menjadi Juara Piala Dunia Bulu Tangkis sebanyak tiga kali (1985, 1986, 1988). Icuk juga ikut andil membawa Indonesia menjuarai Piala Thomas 1984 dan medali emas Asian Games 1986 di nomor beregu.

6. Alan Budikusuma

Suami Susy Susanti ini memang aktif bermain di awal era komputerisasi BWF di mana sistem ranking modern sudah diterapkan. Walaupun sejarah mencatat namanya sebagai tunggal putra Indonesia pertama yang menjuarai Olimpiade di Olimpiade Barcelona 1992, namun posisi poin mingguannya selalu berada di bawah bayang-bayang dua kompatriotnya yang tak kalah tangguh saat itu, yakni Ardy Wiranata dan Joko Suprianto. Dua nama inilah yang justru saat itu kerap bergantian menguasai peringkat 1 dunia.

Walau tak pernah menjadi ranking 1 dunia, reputasi Alan Budikusuma sebagai pemain tangguh di turnamen-turnamen akbar berformat multi-event dan kejuaraan-kejuaraan besar lainnya jelas tidak bisa diremehkan. Selain Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma tercatat menjadi Juara Piala Dunia Bulu Tangkis 1993. Ia juga menjadi juara di sejumlah turnamen terbuka tingkat tinggi, seperti China Open 1991, German Open 1992, dan Malaysia Open 1995. Alan Budikusuma juga membawa Indonesia menjadi Juara Piala Thomas sebanyak dua kali (1994, 1996).

×
Berita Terbaru Update