-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Sejarah rumah bordil di bawah kendali militer Jepang dengan aturan khusus

Senin, 24 Agustus 2026 , 18.59 WIB Last Updated 2026-08-24T12:00:18Z



Tempat hiburan yang dikelola oleh dinas militer Jepang pertama kali muncul di Shanghai pada tahun 1932. Tempat ini, yang kita kenal sebagai jugun ianfu, terdiri dari para wanita yang dikumpulkan dari wilayah-wilayah yang diduduki tentara Jepang, termasuk Indonesia.



Tempat hiburan yang diatur oleh dinas militer Jepang pertama kali berdiri di Shanghai, Tiongkok, setelah pecahnya perang antara Jepang dan Tiongkok. Salah satu perwira tinggi Jepang, Letjen Okamura Yasuji, dalam memoarnya yang diterbitkan pada tahun 1970, mengakui bahwa dirinya adalah salah satu pendukung pembentukan "lembaga" hiburan untuk keperluan militer.

Pada masa itu, dilaporkan adanya 223 kejadian perkosaan terhadap wanita lokal oleh tentara Jepang. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Okamura meniru praktik yang digunakan oleh pelaut. Ia kemudian meminta gubernur Nagasaki mengirimkan sejumlah wanita penghibur ke Shanghai. Akibatnya, angka perkosaan menurun secara signifikan. Sejak saat itu, lembaga hiburan yang dikoordinasi secara militer mulai berkembang.


Dalam perkembangannya, para wanita penghibur (jugun ianfu) sebagian besar direkrut dari daerah koloni Jepang yang tersebar di Asia, termasuk Indonesia. Mereka dipilih untuk memberikan layanan hiburan bagi anggota militer Jepang.

Struktur tempat hiburan biasanya terdiri dari 10 bangunan kayu, termasuk sebuah bilik yang dihuni oleh seorang pengawas. Kompleks tersebut dikelilingi pagar. Setiap bilik kayu dibagi menjadi 10 kamar dengan nomor di pintu masing-masing. Ini merupakan tipe standar di hampir semua pusat hiburan tentara Jepang.


Untuk mengatur pengelolaan dan transaksi hiburan, dibuatlah peraturan yang dalam perkembangannya dimodifikasi sesuai dengan situasi setempat. Peraturan ini terungkap dalam buku karangan Ito Keiichi, Soldier's History of the Army (1969). Beberapa isi peraturan tersebut antara lain:

  • Tempat hiburan hanya diperuntukkan bagi anggota militer Jepang dan stafnya.
  • Para pengunjung harus membeli tiket di resepsionis, beserta kondom yang harus dipakai.
  • Harga tiket 2 yen bagi anggota militer maupun staf sipil.
  • Tiket hanya berlaku untuk sekali kunjungan. Bila tidak dipakai bisa ditukar dan uang kembali. Tiket yang sudah diberikan kepada seorang wanita penghibur tidak dapat berlaku lagi.
  • Pemegang tiket hanya dilayani di kamar sesuai dengan nomor kamar yang tertera di tiket. Lama pelayanan hanya 30 menit.
  • Tiket harus diserahkan kepada wanita penghibur yang bersangkutan.
  • Dilarang membawa minuman beralkohol.
  • Pengunjung diwajibkan meninggalkan kamar segera setelah mendapatkan pelayanan.
  • Yang tidak mengindahkan/melanggar peraturan akan ditolak.
  • Jam pelayanan; pukul 10.00–17.00 untuk staf sipil dan pukul 13.00–20.00 untuk militer.


Tempat hiburan ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan sosial dan psikologis para wanita yang terlibat. Mereka sering kali dipaksa bekerja tanpa pilihan, karena tekanan politik dan ekonomi. Meskipun demikian, sistem ini tetap bertahan selama beberapa dekade, terutama selama Perang Dunia II.

Selain itu, sistem ini juga mencerminkan bagaimana pihak militer Jepang menggunakan institusi formal untuk mengontrol dan mengatur kebutuhan seksual para tentara mereka. Hal ini menjadi bagian dari sejarah kelam yang masih menjadi topik diskusi dan penelitian hingga saat ini.

×
Berita Terbaru Update