
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tampaknya sedang menyesuaikan strategi dalam menghadapi Iran. Setelah tekanan militer tidak berhasil memaksa Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, Trump kini beralih ke pendekatan ekonomi sebagai alat untuk memperkuat posisi Washington.
Alih-alih segera meluncurkan serangan militer baru, Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan menunggu dampak dari inflasi dan kondisi keuangan yang semakin buruk di Iran. Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu (9/8), Trump menjelaskan bahwa pihaknya kini sengaja mengurangi intensitas pendekatan terhadap Iran sambil tetap membuka ruang negosiasi.
"Kami sedang meremehkannya. Kami hanya melakukan semi-negosiasi dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi yang besar dan fakta bahwa mereka tidak punya uang," kata Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan strategi Trump. Sebelumnya, opsi militer menjadi salah satu instrumen utama untuk menekan Teheran. Kini, tekanan ekonomi tampaknya menjadi senjata utama untuk memaksa Iran mengubah sikap.
Trump sebelumnya menunjukkan keyakinan bahwa kesepakatan dengan Iran dapat segera tercapai. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih jauh dari mudah. Iran tetap menolak membuka kembali Selat Hormuz tanpa mendapatkan sejumlah konsesi besar dari Washington.
Dalam situasi ini, Trump tampaknya memilih untuk tidak terburu-buru menggunakan kekuatan militer. Washington justru akan membiarkan masalah ekonomi Iran semakin berat sambil mempertahankan tekanan terhadap Teheran. Trump bahkan memperkuat pesan tersebut dengan mengunggah grafik di Truth Social yang menunjukkan penurunan nilai mata uang Iran, rial, sejak 2025 hingga sekarang.
Grafik itu diberi judul "Iran has no money" dan memuat tulisan "currency is trash". Pesan Trump cukup jelas: Washington ingin menunjukkan bahwa kemampuan ekonomi Iran menjadi salah satu titik lemah yang dapat ditekan tanpa harus segera membuka front militer baru.
Strategi tersebut pada dasarnya menempatkan ekonomi Iran sebagai medan perang berikutnya. Inflasi yang tinggi, pelemahan rial, sanksi serta terbatasnya akses Iran terhadap sumber keuangan internasional dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Teheran dan masyarakatnya.
Trump tampaknya berharap tekanan tersebut pada akhirnya membuat Iran lebih bersedia berkompromi, terutama terkait Selat Hormuz. Namun, Teheran justru masih mempertahankan tuntutan yang sangat berat. Iran meminta Amerika Serikat mencabut blokade laut dan sanksi, menarik pasukan AS dari kawasan, membayar kompensasi perang serta membebaskan aset Iran yang dibekukan.
Dengan tuntutan tersebut, kesepakatan cepat yang sebelumnya dibayangkan Trump semakin sulit terwujud. Pemilihan strategi ekonomi sebagai alat tekanan menunjukkan bahwa Washington lebih memilih mengandalkan kekuatan finansial daripada kekuatan militer dalam menghadapi Iran. Namun, apakah langkah ini akan berhasil atau justru memicu respons yang lebih keras dari Teheran tetap menjadi pertanyaan besar.