
Seri balap MotoGP Qatar musim ini berada dalam ketidakpastian akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kesempatan para pembalap Indonesia untuk tampil di sirkuit yang sudah sangat dikenal bisa hilang.
Beberapa tahun terakhir, Sirkuit Lusail di Qatar menjadi tempat yang sangat berkesan bagi dua pembalap muda Indonesia, Mario Suryo Aji (Moto2) dan Veda Ega Pratama (Moto3). Mereka menunjukkan potensi luar biasa saat berkompetisi dalam ajang Road to MotoGP.
Mario Aji memulai perjalanannya pada 2018 dengan finis kedua dalam balapan pertama Asia Talent Cup Qatar. Balapan ini sebenarnya menjadi debutnya di ajang yang kini disebut Moto4 Asia Cup. Bahkan hanya sehari setelah merayakan ulang tahun ke-14, Mario hampir memenangkan balapan karena finis bersebelahan dengan mendiang Haruki Noguchi, yang berhasil meraih posisi pertama.
Veda Ega Pratama mengikuti jejak Mario pada 2022. Sebelumnya, ia tampil sebagai wild card di Mandalika pada tahun sebelumnya. Pada seri Qatar yang menjadi awal dari kalender Asia Talent Cup, Veda finis ketiga dalam race kedua. Performanya mencuri perhatian, terutama karena usianya yang masih 13 tahun dan tubuhnya yang relatif mungil.
"Sensasional, maksud saya tubuhnya cukup kecil, bagaimana mungkin dia bisa bertahan di atas motornya," ujar Matt Dunn, komentator Asia Talent Cup.
Akun media sosial Asia Talent Cup juga memberikan reaksi positif terhadap penampilan Veda. "Ini Veda Ega Pratama atau Marc Marquez? Penyelamatan yang luar biasa dari pembalap Indonesia," tulis caption cuplikannya.
Sayangnya, penggemar balap harus bersabar lebih lama untuk melihat sejauh mana kemampuan Mario Aji dan Veda Ega Pratama berkembang di trek di tengah padang pasir.
Penyelenggaraan MotoGP Qatar menghadapi banyak ketidakpastian sejak perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran pecah pada Februari lalu. Solusi penundaan ke paruh kedua musim, yaitu seri ke-20 pada 6-8 November 2026, juga tidak pasti karena adanya ancaman kesepakatan damai yang tidak bertahan lama.
Beberapa ajang balap dunia lainnya telah lebih dulu bergerak. Contohnya Formula 1, yang memindahkan venue GP Bahrain yang seharusnya digelar pada Oktober nanti ke Malaysia. Meski demikian, balapan tetap bertajuk GP Bahrain, namun sirkuitnya berada di Sepang, Malaysia.
Menurut Motorsport.com, Direktur Olahraga MotoGP SEG, Carlos Ezpeleta, tidak menutup kemungkinan solusi serupa untuk GP Qatar. Namun, skenario yang lebih mungkin adalah membatalkan GP Qatar tanpa perlu mencari penggantinya.
"Tentu, fakta bahwa kami satu keluarga dengan F1 di bawah naungan Liberty Media memiliki arti bahwa isu ini berada dalam perhatian kami," katanya.
Namun, situasi berbeda untuk MotoGP. Dari aspek komersial, musim dengan 21 seri jauh lebih baik daripada 22 seri. Ezpeleta juga menyebut tantangan mencari sirkuit yang siap untuk menggelar balapan MotoGP di Eropa pada periode itu.
Jadwal MotoGP Qatar hanya berjarak dua pekan dari double header penutup musim di Portugal (20-22 November) dan Valencia (27-29 November). MotoGP SEG memasang tenggat hingga akhir bulan ini untuk membuat keputusan terkait status GP Qatar. Pertimbangannya bukan hanya untuk musim ini saja.
Musim depan, GP Qatar direncanakan sebagai seri kedua dalam kalender. Sedangkan MotoGP 2027 akan dimulai pada 5-7 Maret dengan Sirkuit Buriram di Thailand kembali menjadi tuan rumah seri pembuka untuk ketiga kalinya secara beruntun.
"Sejujurnya saya berharap kami bisa pergi kesana dan itulah yang sedang menjadi fokus kami," ujar Ezpeleta soal GP Qatar.