Siapa sangka, dari kedalaman laut Selat Sunda yang gelap dan mendidih, sebuah 'raksasa baru' lahir membawa pertunjukan alam paling mengerikan sekaligus memukau sepanjang awal abad ke-20.
Kemunculan Gunung Anak Krakatau pada rentang waktu 1927 hingga 1928 menjadi fenomena alam luar biasa yang memikat perhatian para pejabat tinggi kolonial Hindia Belanda. Rasa penasaran itu memicu Gubernur Jawa Barat, Willem Pieter Hillen, beserta istrinya untuk memimpin langsung rombongan ekspedisi menuju Selat Sunda pada 20/01/1928.
Berangkat dari Tanjung Priok pada Jumat malam menggunakan kapal uap pemerintah Wega, rombongan yang juga didampingi Residen Banten Putman Cramer, para peneliti, dan wartawan ini bertekad menyaksikan dari dekat momen bersejarah setelah letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
Aktivitas vulkanik kawah bawah laut Anak Krakatau berada dalam fase sangat intens selama pekan ketiga bulan 01/1928. Berdasarkan catatan harian peneliti Dr. Stehn, terjadi ratusan gelombang letusan saban harinya di area tersebut. Pada 15/01/1928 saja, terhitung ada 217 letusan dalam empat jam pengamatan, dan angkanya melonjak drastis menjadi 380 letusan pada 16/01/1928.
Bahkan, peningkatan erupsi terus berlanjut hingga puncak lontaran material mencapai ketinggian fantastis 1.200 meter di udara pada Sabtu pagi, 21/01/1928.
Pelayaran kapal Wega menyuguhkan pemandangan visual yang menakjubkan sekaligus menegangkan bagi seluruh penumpang sejak pertengahan bulan 01/1928. Dari balik Pulau Panjang dan Pulau Terpencil, rombongan menyaksikan gumpalan uap tebal berminyak membumbung tinggi akibat dorongan energi dahsyat dari dasar laut.
Tak lama berselang, massa hitam pekat berisi bongkahan lava pijar bermassa gas menyembur deras, membuat air laut di sekitarnya mendidih bergelombang dan berubah warna dari biru pucat, kehijauan, hingga kuning belerang.
Pemandangan malam hari di sekitar Pulau Panjang memberikan atmosfer yang jauh lebih Mencekam dan dramatis bagi rombongan pelancong tersebut. Ketika kegelapan merayap pada kisaran tanggal 20/01/1928 hingga 21/01/1928, area kawah bawah laut berlanjut melontarkan bom-bom magnesium alami berupa batu lava pijar yang meledak terang di udara.
Sinar putih menyilaukan dan lautan cahaya merah membakar permukaan air, menciptakan lanskap magis yang mengoreksi ingatan publik atas kebangkitan kembali kekuatan Krakatau di Selat Sunda.
