GAZA - Kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza kembali tercoreng oleh aksi militer. Serangkaian serangan udara dan tembakan drone Israel menewaskan sedikitnya enam warga Palestina serta melukai puluhan orang lainnya, termasuk anak-anak, pada Selasa.
Di tengah jatuhnya korban sipil, pihak Israel mengklaim bahwa aksi tersebut ditujukan untuk mengincar seorang komandan senior Hamas.
Kekerasan kembali meletus di sejumlah kawasan Jalur Gaza pada Selasa, memicu kekhawatiran atas rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sejak Oktober tahun lalu.
Laporan medis yang dikutip dari Anadolu menyebutkan bahwa rentetan serangan militer Israel tidak hanya menyasar area pemukiman, tetapi juga area pengungsian warga sipil di wilayah utara, tengah, hingga selatan Gaza.
Salah satu insiden mematikan terjadi di Gaza utara ketika sebuah drone Israel menembaki kerumunan warga yang mengungsi di Kamp Halawa, sebelah timur Jabalia. Insiden ini mengakibatkan dua orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Para korban selamat segera dilarikan ke rumah sakit lapangan di Al-Shifa dan Al-Saraya untuk mendapatkan perawatan darurat. Tak lama setelah itu, serangan drone terpisah menghantam bagian atap sebuah rumah di Jalan Al-Nafaq, kawasan Al-Tuffah, Kota Gaza, yang merenggut satu nyawa serta melukai beberapa warga.
Suasana mencekam juga menyelimuti kawasan Al-Nasr di Kota Gaza bagian barat. Sebuah drone bunuh diri dilaporkan berputar-putar di udara sebelum akhirnya meremukkan sebuah unit apartemen hingga memicu kebakaran hebat.
Sumber medis di Rumah Sakit Al-Shifa mengonfirmasi telah menerima dua jenazah warga Palestina dan sejumlah korban luka-luka, termasuk anak-anak. Saksi mata mengungkapkan bahwa serangan mendadak tersebut sempat memicu kepanikan luar biasa di antara warga sekitar.
Sumber lokal mengidentifikasi dua korban tewas dalam serangan di Al-Nasr tersebut sebagai Izz al-Din al-Beik dan Muhannad Abu Foul. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz merilis pernyataan bersama yang mengklaim bahwa al-Beik merupakan komandan brigade Hamas untuk wilayah Gaza utara. Meski demikian, pihak Hamas belum memberikan respons atau konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.
Aksi penyerangan tidak berhenti di situ. Di Gaza tengah, seorang warga Palestina tewas tertembak oleh tentara Israel di Jalan Salah al-Din, sebelah timur Deir al-Balah. Pada saat yang sama, militer Israel melancarkan operasi pembongkaran dan penghancuran bangunan secara masif di area yang mereka kuasai di kawasan tersebut.
Sementara itu, di dekat Klinik Al-Fakhoura, Kamp Pengungsi Jabalia, tembakan menyasar kerumunan warga hingga menyebabkan seorang warga kritis.
Kabar duka juga datang dari Jalur Gaza selatan. Seorang wanita bernama Rania Saada dilaporkan meninggal dunia setelah bertahan dari luka parah akibat tembakan pasukan Israel yang menargetkan tenda-tending pengungsian di Al-Mawasi, Rafah, beberapa hari sebelumnya.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dirilis pada Selasa menunjukkan bahwa berbagai pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel telah merenggut 1.422 nyawa warga Palestina dan melukai 4.996 orang lainnya.
Secara keseluruhan, sejak eskalasi konflik pecah pada 8 Oktober 2023, operasi militer Israel di Gaza telah menelan lebih dari 74.000 korban jiwa, menyebabkan lebih dari 175.000 orang luka-luka, serta merusak sekitar 90 persen fasilitas dan infrastruktur di wilayah tersebut.
