
Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami aktivitas yang sangat intens, Rabu (19/11). Kegiatan vulkaniknya meningkat dari tingkat Siaga (level III) ke Awas (level IV) dalam waktu singkat—tingkat tertinggi dalam klasifikasi gunung berapi di Indonesia. Terjadi erupsi besar saat ini.
Kemarin hari Rabu, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa mengeluarkan material hingga 2.000 meter dari puncaknya. Selanjutnya, awan panas letusan meluncur sejauh 13 kilometer ke arah tenggara dan selatan.
Sampai saat ini, ratusan penduduk mengungsi untuk menghindari Semeru yang sedang memuntahkan abu.Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikanPada malam Rabu, terdapat tiga desa di dua wilayah kecamatan yang terkena dampak.
Wilayah ini terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Desa tersebut adalah Desa Supit Urang dan Desa Oro-Oro Ombo yang berada di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.
Berikut adalah informasi yang telah diketahui mengenai letusan Gunung Semeru:
Ratusan jiwa mengungsi
Kurang lebih seribu penduduk mengungsi akibat letusan Gunung Semeru. Menurut laporan Basarnas, lebih dari 950 orang dari Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro berada di berbagai titik pengungsian.
Di Kecamatan Pronojiwo, masyarakat yang tinggal di tempat sementara di SD 04 Supiturang, Balai Desa oro-oro Ombo, Masjid Ar-Rahmah, dan SD Sumberurip.
Di Kecamatan Candipuro, para pengungsi juga tinggal di rumah kepala desa Sumbermujur dan kantor kecamatan.
"Pengumpulan data masih terus dilakukan," tulis Basarnas.
Selain itu, beberapa warga dievakuasi ke Balai Desa Penanggal. Namun pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat masih melakukan pendataan di lapangan.
Rokhmad, seorang jurnalis dari Lumajang yang meliput untuk BBC News Indonesia, berada di salah satu tempat pengungsian di Masjid Jami' Nurul Jadid, Kecamatan Pronojiwa.
"Tadi malam terdapat 300 jiwa [pengungsi] di sini. Mereka hanya menggunakan tikar sebagai alas. Belum ada bangunan tenda pengungsian," ujar Rokhmad.
Namun, pada hari Kamis pagi, sebagian besar pengungsi kembali ke rumah mereka untuk "mengambil barang-barang".
Awalnya masyarakat tidak dievakuasi. Mereka dianjurkan untuk menyelamatkan diri sendiri. Terdengar suara sirine [peringatan erupsi Semeru], mereka saling membantu secara bersamaan.
Korban luka bakar
Tidak ada laporan mengenai korban jiwa, tetapi menurut informasi dari Badan SAR Nasional, paling sedikit tiga orang mengalami cedera akibat semburan awan panas.
Dua korban awan panas merupakan sepasang suami istri dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Mereka jatuh di jembatan Gladak Perak dan dibawa ke Rumah Sakit Pasirian, Kabupaten Lumajang.
"Korban mengalami luka bakar sekitar 20 persen setelah jatuh saat melewati jembatan Perak yang licin dan tertutup abu panas akibat letusan Gunung Semeru yang diikuti aliran awan panas," ujar Sekda Lumajang Agus Triyono, sebagaimana dilaporkanAntara.
Menurutnya, kendaraan bermotor yang dikendarai korban tergelincir karena jalan licin dan tertutup abu vulkanik Semeru.
"Namun, koordinasi cepat petugas di lapangan berhasil mengungsikan korban tanpa ada keterlambatan, sehingga korban dirujuk ke RS Pasirian," tambah Agus.
Ia menyebutkan bahwa korban telah menerima pertolongan awal di Puskesmas Candipuro dan ditangani secara medis terkait luka bakar.
Namun karena memerlukan perawatan yang lebih intensif, korban akhirnya dirujuk ke RS Pasirian.
Seorang korban luka lainnya adalah Dimas, penduduk Desa Supit Urang, Kabupaten Lumajang. Dimas mengalami luka bakar tingkat 1 (lapisan kulit permukaan) dan saat ini sedang dirujuk ke Puskesmas Pasirian.
Tujuh hari masa darurat
Pemerintah Kabupaten Lumajang mengakhiri status darurat bencana alam setelah terjadinya letusan Gunung Semeru.
Penetapan ini ditandatangani oleh bupatinya, Indah Amperawati, melalui Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/595/KEP/427.12/2025.
Status darurat berlaku selama 7 hari, dari 19 hingga 25 November 2025, sebagai tindakan cepat dan terkoordinasi dalam menghadapi dampak letusan.
Dengan status ini, berarti pemerintah daerah mampu menggerakkan tim SAR, medis, dan logistik dengan cepat.
Status ini juga memungkinkan penggunaan dana darurat tanpa proses administratif yang rumit, termasuk penggunaan sumber daya dan peralatan serta pembukaan posko darurat.
- Gunung Semeru meletus: Kumpulan foto letusan dan dampaknya
- Gunung Semeru meletus: Terjadi korban jiwa akibat 'tidak adanya' sistem peringatan dini bagi masyarakat serta tata ruang yang tidak memadai
- Gunung Semeru: 'Selama masyarakat tinggal di jalur awan panas letusan, ancaman kematian tetap ada'
Fokus utamanya adalah penyelamatan jiwa dan mengurangi dampak bencana.
"Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status darurat bencana akibat letusan Gunung Semeru selama 7 hari," ujar Indah, sebagaimana dilaporkanDetik.
Dalam surat pernyataan tersebut, pemerintah dan masyarakat meningkatkan waspada terhadap perkembangan serta dampak dari letusan Gunung Semeru.
"Selanjutnya mengambil langkah pencegahan dengan melindungi diri di lokasi yang aman sementara waktu guna menghindari dampak letusan sambil menunggu perkembangan selanjutnya," katanya.
2.800 kali meletus sepanjang tahun 2025
Semeru merupakan sebuah gunung yang masih aktif. Ia mengalami gempa terus-menerus sepanjang hari.
Badan Vulkanologi dan Pencegahan Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan selama tahun 2025 hingga saat ini, gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang mengalami2.802 kali letusan.
Hasil pengamatan visual pada hari Rabu, 20 November, "Gunungapi [Semeru] terlihat jelas hingga tertutup kabut 0 - II. Asap kawah tidak terlihat. Cuaca mendung, angin lemah menuju utara, tenggara, dan selatan".
Letusan Gunung Semeru sempat menjadi perhatian di akhir tahun 2021. Pada masa itu, pihak berwenang mencatat jumlah korban jiwa yang terjadimencapai 51 jiwadan lebih dari 10.000 orang mengungir.
Artikel ini akan terus diperbaharui.