
MediaHarianDigital-Pemerintah menegaskan bahwa memperkuat kesehatan ekosistem harus mengacu pada solusi yang didorong oleh masyarakat. Pernyataan ini disampaikan oleh Deputi Menteri Koordinator Bidang Aksesibilitas dan Keamanan Pangan Nani Hendiarti dalam acara COP30.
"Melindungi hutan tidak hanya tentang menanam pohon, tetapi juga memastikan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mendapatkan manfaat nyata," kata Nani Hendiarti.
Nani menjelaskan bahwa Indonesia bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dalam pengembanganNature and Climate Partnershipyang meliputi perlindungan keragaman hayati, penguatan hutan sosial, pengelolaan yurisdiksi, serta sistem pendanaan yang kreatif.
Di forum yang sama, APP Group menyampaikan komitmen untuk memperkuat solusi iklim yang berbasis alam serta merehabilitasi hutan tropis dengan pendekatan lanskap yang terpadu. Direktur APP Group Suhendra Wiriadinata menegaskan bahwa keberlanjutan merupakan bagian dari strategi perusahaan.
Industri kertas dan pulp hanya mampu berkembang di ataslanskapyang sehat. Oleh karena itu, pemasaran dalam restorasi, teknologi pemantauan, dan kerja sama lintas pihak menjadi strategi bisnis untuk memperkuat ketahanan rantai pasok, mengurangi risiko operasional, serta menciptakan kepercayaan pasar internasional terhadap produk Indonesia," ujar Suhendra Wiriadinata.
Melalui platform keberlanjutan Regenesis, APP Group menyalurkan sekitar US$30 juta setiap tahun selama sepuluh tahun untuk pemulihan lingkungan, perlindungan keragaman hayati, pengelolaan lahan gambut, serta pengembangan karbon biru. Inisiatif ini mendukung tujuan nasional FOLU Net Sink 2030 dan penguatan pasar karbon Indonesia melalui IDXCarbon.
Efisiensi rehabilitasi hutan tropis, berdasarkan pandangan para pemangku kepentingan, memerlukan kombinasi pendekatan ilmiah, pengakuan sosial, serta dukungan dana jangka panjang.
Di sisi lain, Direktur WWF Indonesia Aditya Bayunanda menekankan pentingnya memilih lokasi yang memiliki nilai ekologis dan sosial yang tinggi.
"Pilihlah wilayah yang memiliki habitat penting, keanekaragaman hayati tinggi, atau daerah dengan berbagai layanan lingkungan, bukan hanya karbon, tetapi juga air dan budaya yang perlu dijaga. Wilayah-wilayah tersebut memberikan manfaat tambahan dan memperkuat posisi perusahaan secara global," kata Aditya Bayunanda.
Pandangan sejalan diungkapkan oleh Theme Leader CIFOR–ICRAF, Beria Leimona, yang menganggap keberhasilan kerja sama sangat tergantung pada partisipasi masyarakat.
"Selain solusi yang didasarkan pada sains, kita juga harus memperhatikan aspek keabsahan. Mendengarkan pengetahuan ekologi masyarakat setempat serta melibatkan warga dalam proses negosiasi merupakan kunci untuk keberlanjutan. Pada akhirnya, kolaborasi yang nyata berlandaskan pemberdayaan," ujar Aditya Bayunanda.
Inisiatif kolaboratif ini diperkuat dengan peluncuran Tropical Forests Forever Facility (TFFF) di Paviliun Indonesia, yang melibatkan pemerintah Indonesia, Brasil, Uni Emirat Arab, sektor energi, lembaga internasional, serta sektor swasta.
Di sisi kebijakan nasional, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Laksmi Wijayanti menekankan perlunya pendanaan inovatif dalam upaya pemulihan ekosistem.
"Kita memerlukan kerja sama, kreativitas, dan kepercayaan. Pendanaan karbon serta pendanaan campuran bisa menjadi jembatan antara dana global dan tindakan lokal. Jika dilaksanakan dengan integritas, mekanisme ini berpeluang memulihkan jutaan hektar lahan, mendukung penghidupan masyarakat, serta memperkuat kredibilitas solusi iklim yang berbasis alam," kata Laksmi Wijayanti.
Kepala Perwakilan Keberlanjutan APP Group, Elim Sritaba, menegaskan bahwa tata kelola iklim tidak dapat diandalkan hanya pada satu metode. Masalah iklim saat ini tidak dapat diselesaikan dengan satu pendekatan saja. Diperlukan penggabungan antara ilmu pengetahuan, sistem tata kelola yang baik, serta kerja sama yang seimbang dengan masyarakat dan pemerintah.
"Melalui kerangka Regenesis, kami berupaya memastikan bahwa setiap keputusan diambil dengan mengacu pada bukti ilmiah, namun tetap mempertimbangkan kondisi sosial yang ada di lapangan. Inilah dasar yang membuat tindakan iklim dapat dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan," tegas Laksmi Wijayanti.