
MediaHarianDigital - Mata uangsering dianggap hanya sebagai alat transaksi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, nilai mata uang mencerminkan lebih dari sekadar peran sebagai alat pembayaran. Perubahan nilainya menggambarkan kondisi ekonomi, stabilitas politik, hingga tingkat kepercayaan pasar internasional terhadap suatu negara.
Peristiwa penurunan nilai mata uang menjadi isu yang memerlukan perhatian serius ketika mengalami penurunan drastis. Dampaknya tidak hanya terlihat di pasar keuangan, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat umum. Harga barang kebutuhan pokok meningkat tajam, kemampuan beli menurun, serta ketidakstabilan ekonomi yang berlarut menjadi akibat yang sulit untuk dihindari.
Mengerti Kurs Mata Uang dengan Mudah
Secara umum, kurs mata uang menggambarkan berapa jumlah unit mata uang domestik yang diperlukan untuk mendapatkan satu dolar Amerika Serikat (USD). Semakin tinggi angka yang dibutuhkan, semakin melemah posisi mata uang tersebut dalam perdagangan internasional. Oleh karena itu, perbandingan terhadap dolar AS sering digunakan sebagai indikator kekuatan atau kelemahan mata uang suatu negara.
Sebagai contoh, ketika 1 USD setara dengan 1.000 unit mata uang lokal, keadaan ini dapat dianggap cukup stabil. Namun, bila kurs mengalami lonjakan hingga ratusan ribu bahkan jutaan unit per dolar AS, hal ini menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang berat.
Dominasi mata uang dolar Amerika Serikat sebagai alat tukar global tidak dapat dipisahkan dari perjanjian internasional setelah Perang Dunia II yang diatur melalui Kesepakatan Bretton Woods. Sejak saat itu, dolar AS menjadi mata uang cadangan utama dunia dan alat transaksi utama dalam perdagangan antar negara. Sampai saat ini, berdasarkan data Bank untuk Penyelesaian Internasional (BIS), sebagian besar transaksi lintas batas masih mengandalkan dolar AS.
Daftar Kurs Mata Uang Paling Rendah di Dunia
Mengutip laporan Forbes, terdapat beberapa mata uang yang memiliki nilai sangat rendah dibandingkan dolar AS. Berikut daftar mata uang paling lemah di dunia berdasarkan nilai tukar nominalnya:
1. Iranian Rial (IRR)
Rial Iran (IRR) menduduki posisi paling lemah di dunia jika dibandingkan dengan dolar Amerika Serikat. Diketahui, 1 USD setara dengan sekitar 42.000 rial. Kekuatan mata uang Iran yang rendah disebabkan oleh tekanan ekonomi yang besar, inflasi yang tinggi, serta adanya sanksi internasional yang terus berlangsung.
2. Lebanese Pound (LBP)
Pound Lebanon (LBP) berada pada posisi berikutnya dengan kurs sekitar 89.550 pound untuk 1 USD. Penurunan nilai tukar ini disebabkan oleh krisis perbankan, inflasi tinggi, serta ketidakstabilan politik yang terjadi di Lebanon dalam beberapa tahun terakhir.
3. Vietnamese Dong (VND)
Mata uang Vietnam (VND) juga termasuk dalam daftar mata uang yang memiliki nilai tukar tinggi terhadap dolar Amerika Serikat. Saat ini, 1 USD setara dengan sekitar 26.283 dong Vietnam. Keadaan ini dipengaruhi oleh kebijakan moneter, tingkat inflasi, serta pergerakan pertumbuhan ekonomi di Vietnam.
4. Laotian Kip (LAK)
Kurs mata uang Kip Laos (LAK) tercatat sekitar 21.604 kip untuk 1 USD. Penurunan nilai tukar mata uang ini disebabkan oleh utang luar negeri yang tinggi, keterbatasan cadangan devisa, serta ketergantungan besar terhadap impor.
5. Mata Uang Leone Sierra Leone (SLL)
Mata uang Sierra Leone, yaitu Sierra Leonean leone (SLL), termasuk dalam daftar mata uang paling lemah di dunia dengan nilai tukar sekitar 23.165 leone untuk 1 USD. Hal ini disebabkan oleh inflasi yang tinggi, struktur ekonomi yang masih terbatas, serta ketergantungan pada barang impor.
6. Indonesian Rupiah (IDR)
Mata uang Indonesia (IDR) juga termasuk dalam daftar mata uang yang paling lemah jika dilihat dari nilai nominalnya terhadap dolar AS. Saat ini, 1 USD setara dengan sekitar Rp16.868. Tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh ketidakpastian global, inflasi internasional, serta kekhawatiran akan perlambatan ekonomi, meskipun Indonesia tetap menjadi negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara.
7. Uzbekistani Som (UZS)
Nilai tukar uang Uzbekistan (UZS) sekitar 12.045 som untuk setiap 1 dolar AS. Kurs yang rendah ini disebabkan oleh proses reformasi ekonomi, pembukaan pasar mata uang, serta inflasi dalam negeri yang masih cukup tinggi.
8. Guinean Franc (GNF)
Mata uang Guinean franc (GNF) diketahui memiliki kurs sekitar 8.717 franc untuk setiap 1 USD. Penurunan nilai mata uang Guinea disebabkan oleh inflasi, ketergantungan pada ekspor barang mentah, serta perubahan pendapatan negara yang tidak stabil.
9. Paraguayan Guarani (PYG)
Mata uang Paraguay, guarani (PYG), memiliki kurs sekitar 6.784 guarani untuk setiap 1 dolar AS. Kurs yang rendah ini terjadi karena struktur ekonomi Paraguay yang berfokus pada sektor pertanian dan ekspor barang mentah.
10. Malagasy Ariary (MGA)
Mata uang resmi Madagaskar, Ariary (MGA), memiliki kurs sekitar 4.541 ariary untuk setiap 1 dolar AS. Kekuatan mata uang ini melemah karena adanya inflasi, kurangnya pengembangan industri lokal, serta ketergantungan besar terhadap impor kebutuhan pokok.