Drone Iran Hancurkan Pangkalan Militer AS di Irak

Serangan Militer Iran Menghancurkan Infrastruktur Militer AS di Irak


Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengumumkan bahwa hampir seluruh infrastruktur militer Amerika Serikat (AS) di Erbil, Irak, telah hancur akibat serangan terbaru yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Menurutnya, drone kiwari Iran menjadi senjata utama dalam operasi balasan tersebut. Pernyataan ini disampaikan kepada televisi pemerintah Iran dan dilaporkan oleh beberapa media internasional.

Akraminia menegaskan bahwa Iran kini sedang mengerahkan drone serang jenis baru yang lebih canggih dan memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dibandingkan model sebelumnya seperti Arash-2. Ia juga menyebut bahwa pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut mengalami kerusakan parah, dengan sebagian besar dari mereka kehilangan kemampuan operasional.

Selain itu, juru bicara IRGC mengklaim bahwa serangan Iran berhasil menghancurkan berbagai pesawat tempur AS yang berada di darat. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan bahwa 17 pesawat nirawak (drone) pengintai dan operasional, satu jet tempur F-15 di dalam hanggar, satu pesawat P-8, satu pesawat angkut C-17, serta delapan pesawat pengisi bahan bakar juga hancur.


Setelah melakukan serangan selama 13 hari, AS akhirnya berhenti menyerang semalam. Dalam dua pekan serangan yang melanggar gencatan senjata tersebut, setidaknya 55 warga Iran meninggal. Sementara itu, Pentagon mulai menurunkan jumlah personel militer AS yang secara resmi tercatat tewas dalam konflik dengan Iran. Angka korban jiwa berubah dari 18 menjadi 14, mengundang pertanyaan tentang cara pemerintahan Trump melaporkan korban jiwa di kalangan militer.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh New York Times, situs web Departemen Pertahanan mencatat 18 personel militer AS tewas selama perang tersebut. Namun, pada hari Jumat pagi, angka tersebut dikurangi menjadi 14. Jumlah personel yang diklasifikasikan tewas akibat tindakan musuh turun dari 11 menjadi tujuh orang.

Tiga pejabat militer AS mengungkapkan bahwa perubahan ini mencerminkan keputusan pemerintah untuk mengeluarkan empat anggota militer yang tewas pada akhir pekan sebelumnya dari daftar korban perang dengan Iran. Tiga dari prajurit tersebut tewas di Yordania, sementara satu lainnya meninggal di Irak utara. Menurut para pejabat, keempat kematian itu tidak disertakan karena terjadi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata pada bulan April, meskipun pertempuran antara AS dan Iran kembali terjadi sejak saat itu.


Joel Valdez, penjabat sekretaris pers Pentagon, memberikan penjelasan berbeda. Ia mengaitkan perubahan angka tersebut dengan "gangguan data sementara" dan "anomali situs." Valdez mengatakan bahwa pihaknya sedang berupaya mengatasi masalah tersebut dan tetap berkomitmen untuk memastikan keakuratan pelaporan jumlah korban.

"Departemen telah berupaya menjelaskan anomali tersebut kepada New York Times sebelum berita diterbitkan, namun karena kurangnya pemahaman mereka mengenai hal ini, mereka tetap menulis berita yang keliru," ujarnya.

Meski begitu, pada hari Kamis, Trump masih menyebutkan angka awal sebanyak 18 kematian. Saat membandingkan jumlah korban saat ini dengan korban dalam perang-perang AS sebelumnya, Trump mengatakan bahwa satu kematian saja "sudah terlalu banyak, namun jumlahnya mencapai 18."

Perbedaan pernyataan ini menimbulkan ketidakjelasan mengenai apakah angka yang lebih rendah dari Pentagon merupakan kesalahan teknis sementara atau perubahan yang disengaja pada kriteria yang digunakan untuk mengklasifikasikan kematian yang terkait dengan perang.

Lebih baru Lebih lama