Dua Satpam Berujung Tragis: Satu Tewas di Purwakarta, Satu Bersujud di Bundaran HI


Di Indonesia, profesi satuan pengamanan (satpam) sering kali dipandang sebelah mata. Meskipun dengan gaji yang tidak seberapa, mereka memiliki tanggung jawab besar sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan. Ironisnya, dua insiden berbeda di Purwakarta dan Jakarta menunjukkan betapa beratnya beban yang dijalani oleh para satpam.


Sumarna, 40 tahun, petugas keamanan objek vital Waduk Jatiluhur, ditemukan tak bernyawa mengambang di kawasan Tanggul Kayat, Kampung Kembang Kuning, Purwakarta pada Jumat (24/7) pagi. Sebelum tewas, korban diketahui sempat menegur sekelompok orang yang melakukan vandalisme di area tersebut.

Dugaan ini semakin kuat setelah beredarnya rekaman status WhatsApp yang diduga diunggah Sumarna. Dalam video itu, ia memperlihatkan coretan di jalan area tanggul dan mengeluhkan aksi tak bertanggung jawab tersebut. Keberadaannya mulai memicu tanda tanya sejak Kamis (23/7) malam ketika pos jaganya ditemukan kosong melompong.

Rekan kerjanya hanya menemukan sepeda motor korban dan sebuah handy talky (HT) yang tergeletak di atas perahu. Nahas, jasad Sumarna akhirnya ditemukan esok paginya, masih mengenakan seragam lengkap dengan kondisi kedua tangan terborgol.

Terkait insiden ini, Kasat Polair Polres Purwakarta, AKP Jamal Nasir menegaskan bahwa tim gabungan langsung bergerak ke lokasi. "Kami bersama personel gabungan segera melakukan penyisiran, membantu proses evakuasi korban, mengamankan area, serta berkoordinasi dengan Satreskrim," ujarnya.

Pihak kepolisian juga mengimbau publik untuk tidak berspekulasi. "Kami mengajak masyarakat untuk menunggu hasil penyelidikan resmi. Saat ini Satreskrim Polres Purwakarta masih melakukan pendalaman terhadap seluruh fakta," tegas Kasi Humas Polres Purwakarta, IPTU Tini Yutini.


Jika Sumarna harus kehilangan nyawa, nasib berbeda namun tak kalah menyesakkan dialami Fiktor Harefa, satpam proyek MRT Jakarta. Pada Rabu (22/7), ia menegur mobil Toyota Alphard yang diduga menerobos lampu merah di pelican crossing Bundaran HI.

Tindakan spontan Fiktor yang memukul kaca mobil untuk memberi peringatan justru berujung panjang. Tiga pria di dalam mobil mewah tersebut ternyata adalah anggota aktif Polda Jawa Barat. Perselisihan kemudian berlanjut ke Pospol Thamrin, tempat dugaan intimidasi itu terjadi.

Menurut kuasa hukum Fiktor, Wiradarma Harefa, kliennya diminta melakukan push-up dan diancam akan dilaporkan agar dipecat. Ancaman pemecatan itu membuat Fiktor ketakutan hingga terpaksa bersujud. "Karena dari pengemudi itu merasa bahwa dia salah, tanpa diminta dia memang melakukan begitu ya (sujud). Itu tidak ada paksaan," jelas Wiradarma.


Kasus arogansi oknum aparat ini akhirnya dimediasi di Polsek Metro Menteng pada Jumat (24/7) malam. Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak sepakat untuk berdamai secara kekeluargaan.

Kendati demikian, Braiel memastikan proses hukum dugaan pelanggaran lalu lintas dan indisipliner tetap berlanjut. "Terkait dengan dugaan perbuatan arogansi dari rekan pengemudi maupun penumpang, malam ini juga akan ditindaklanjuti dari Bid Propam Polda Jawa Barat," tegasnya. Ketiga oknum tersebut kini telah diamankan oleh Paminal Bid Propam Polda Jabar.

Trauma akibat insiden ini tampaknya membekas kuat pada Fiktor. Setelah bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pada Sabtu (25/7), Fiktor yang merupakan warga asal Nias itu memutuskan untuk meninggalkan ibu kota. Ia berencana melanjutkan hidup dan pekerjaannya sebagai petugas keamanan di Bandung, Jawa Barat.

Lebih baru Lebih lama