-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Dampak cuaca kering Berau mulai ganggu penerbangan, satu maskapai minta ini

Senin, 24 Agustus 2026 , 16.43 WIB Last Updated 2026-08-25T03:55:19Z




BERAU - Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), sedang menghadapi kondisi hidrometeorologi kering yang berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Kekeringan ekstrem yang disebabkan oleh kelangkaan curah hujan dalam jangka waktu lama ini telah memicu kebakaran hutan dan mengganggu aktivitas penerbangan serta pelayaran.

Pada pagi hari, rendahnya jarak pandang membuat salah satu maskapai, yaitu Batik Air, harus melakukan penyesuaian jadwal penerbangan. Hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan penerbangan, terutama dalam kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Kalimarau, Berau, Patah Atabri, menyatakan bahwa secara umum kondisi penerbangan masih terkendali. Namun, ada evaluasi terhadap jadwal penerbangan Batik Air rute Jakarta-Berau akibat kondisi jarak pandang yang kurang memadai.

Selama dua hari berturut-turut, yaitu Jumat (21/8) dan Sabtu (22/8), penerbangan Batik Air rute Jakarta-Berau mengalami divert atau pengalihan pendaratan ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan. Pengalihan tersebut dilakukan karena jarak pandang di Bandara Kalimarau hanya berada di kisaran 1.500 meter. Dengan kondisi tersebut, pendaratan dinilai belum aman sehingga pesawat harus menunggu hingga kondisi cuaca memungkinkan.

Pesawat yang dialihkan ke Balikpapan kemudian menunggu sampai kondisi memungkinkan untuk melakukan pendaratan di Kalimarau. Langkah ini merupakan bagian dari prosedur keselamatan penerbangan ketika kondisi cuaca dan jarak pandang tidak memenuhi batas yang dipersyaratkan.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Batik Air mengajukan penyesuaian waktu penerbangan atau re-time untuk penerbangan Minggu (23/8/2026). Jadwal yang biasanya tiba pukul 08.15 Wita digeser menjadi pukul 10.15 Wita. Perubahan ini dilakukan untuk memberikan ruang terhadap perbaikan kondisi jarak pandang pada pagi hari. Dengan penerbangan yang tiba lebih siang, diharapkan potensi delay maupun divert dapat diminimalisasi.

Meski demikian, penyesuaian jadwal tersebut belum tentu diberlakukan secara berkelanjutan. Keputusan re-time tetap berada pada maskapai dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta jadwal penerbangan lanjutan atau connecting flight. “Ini permintaan sesekali,” ujar Patah.

Untuk penerbangan berikutnya, pihak bandara masih menunggu keputusan dari maskapai. Biasanya, informasi mengenai perubahan jadwal disampaikan pada malam hari sebelum penerbangan berlangsung.

Patah menjelaskan, kebutuhan jarak pandang untuk pendaratan dan lepas landas memiliki batas berbeda. Pendaratan (landing) membutuhkan visibilitas yang lebih tinggi, yakni minimal sekitar 3.500 meter, sedangkan untuk lepas landas (take off) minimal sekitar 1.600 meter.

Dengan kondisi tersebut, penerbangan pagi Super Air Jet sejauh ini tidak terlalu terganggu. Pihak UPBU Kalimarau tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan berharap kondisi segera membaik sehingga siklus penerbangan kembali berjalan normal.


Sementara itu, sektor pelayaran di Berau juga belum mengalami dampak signifikan. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas II Tanjung Redeb, Lister Martupa Gurning, menyatakan bahwa lalu lintas kapal masih berjalan dan belum mengalami gangguan berarti. Sampai saat ini lalu lintas kapal tidak terlalu berdampak.

Namun, sejumlah kapal harus menunggu kondisi pasang yang sesuai sebelum melaksanakan kegiatan pelayaran. Kondisi pasang surut yang tinggi menjadi perhatian karena berkaitan dengan keselamatan kapal, terutama untuk mencegah risiko kandas.

Lister mengatakan, pengaturan aktivitas kapal menjadi lebih penting dalam kondisi tersebut. Operator dan pihak kepanduan diminta menyesuaikan pergerakan kapal dengan kondisi pasang surut. “Perhatikan pasang surut agar tidak terjadi kandas,” tegasnya.

Menurutnya, dampak yang dirasakan sejauh ini lebih kepada perlambatan dan penyesuaian waktu kegiatan kapal. Karena itu, langkah mitigasi terus dilakukan agar kondisi tersebut tidak menghambat kelancaran arus kapal maupun distribusi barang. “Imbauan selalu disampaikan kepada operator dan pemanduan,” katanya.

×
Berita Terbaru Update