
Ketika Anda merasa lelah meski sudah cukup beristirahat, jangan langsung menganggapnya sebagai akibat dari kelelahan rutinitas. Kelelahan ekstrem yang tidak kunjung membaik bisa menjadi salah satu tanda awal penyakit autoimun.
Menurut Dede Nasrullah, pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), gejala awal penyakit autoimun sering kali tidak dikenali dan dianggap biasa. Hal ini menyebabkan banyak penderita baru memeriksakan diri setelah penyakit berkembang dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Gejala awal autoimun yang tidak terdeteksi ini sering kali disalahartikan sebagai kelelahan biasa. Banyak orang tidak menyadari bahwa kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan imun," ujar Dede di Surabaya, Senin (10/8).
Dede menjelaskan bahwa penyakit autoimun bukan hanya disebabkan oleh faktor genetik, tetapi juga kombinasi antara faktor keturunan dan lingkungan. Beberapa pemicu utama termasuk infeksi, stres kronis, serta pola hidup yang tidak sehat.
"Perempuan memiliki risiko empat kali lebih tinggi terkena penyakit autoimun karena pengaruh hormon estrogen yang kuat. Namun, laki-laki juga bisa mengalaminya dengan berbagai faktor penyebab yang berbeda," tambahnya.
Beberapa gejala umum yang muncul pada penderita autoimun meliputi:
- Kelelahan ekstrem yang tidak membaik meski sudah cukup beristirahat
- Nyeri dan kekakuan sendi, terutama pada pagi hari
- Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu di wajah
- Demam berulang
- Kerontokan rambut berlebihan
Gejala-gejala ini perlu diwaspadai jika berlangsung dalam waktu lama. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih parah.
Di Indonesia, beberapa jenis penyakit autoimun yang sering ditemukan antara lain:
- Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
- Rheumatoid Arthritis (RA)
- Psoriasis
- Gangguan autoimun kelenjar tiroid
- Diabetes Melitus Tipe 1
Menurut Dede, saat ini belum ada terapi yang mampu menyembuhkan penyakit autoimun secara total. Pengobatan fokus pada penekanan aktivitas sistem imun yang berlebihan agar gejala dapat dikendalikan.
"Penyakit ini tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi bisa dikelola dengan baik. Dokter biasanya memberikan obat penekan sistem imun dan antiinflamasi untuk membantu pasien tetap produktif dalam menjalani kehidupan sehari-hari," jelas Dede.
Selain pengobatan medis, penderita autoimun juga perlu menjaga gaya hidup sehat. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Mengelola stres secara efektif
- Cukup beristirahat
- Rutin berolahraga
- Menghindari rokok dan begadang
- Mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan berat badan berlebih
Kombinasi pengobatan tepat, kontrol kesehatan rutin, serta perubahan gaya hidup menjadi kunci dalam membantu penderita autoimun tetap produktif dan menjaga kondisi penyakit dalam masa remisi.