-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Kemasan alat kontrasepsi berserakan di area ibadah Cirebon

Selasa, 18 Agustus 2026 | Agustus 18, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-19T03:00:48Z


CIREBON - Masjid Al-Hidayah yang terletak di Jalan Dukuh Semar, tepat di belakang Terminal Harjamukti, Kota Cirebon, menjadi perhatian masyarakat setelah kondisinya dinilai tidak terawat. Tempat ibadah yang disebut sebagai aset Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon ini tampak sepi dan lingkungan sekitarnya kurang diperhatikan.

Hera Damayanti, warga yang mengunjungi masjid tersebut, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tempat ibadah tersebut. Ia menemukan sampah-sampah yang diduga berkaitan dengan alat kontrasepsi di area sekitar masjid. Sampah berupa tisu dan kemasan alat kontrasepsi terlihat berserakan di area terbuka yang berjarak sekitar 5-7 meter dari bangunan masjid.

"Saya sebagai masyarakat, masyarakat Kota Cirebon, sangat prihatin dan sangat memohon bantuan pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kota Cirebon," ujar Hera saat ditemui di lokasi.

Menurut Hera, masjid tersebut diketahui merupakan bagian dari aset yang berkaitan dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon. Ia berharap Pemkot Cirebon dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi masjid tersebut. Ia juga membuka kemungkinan adanya bantuan dari pihak swasta maupun masyarakat untuk melakukan renovasi dan revitalisasi masjid.

"Kami sebagai masyarakat mengerti ketersediaan anggaran Pemda sudah tidak ada. Tapi apabila ada masyarakat Kota Cirebon ingin merevitalisasi, merenovasi, dan tetap fungsinya sebagai rumah ibadah yakni masjid, tolong diberikan kemudahan aksesnya," ucapnya.

"Jangan dipersulit," sambungnya.

Hera menilai, revitalisasi masjid tidak harus sepenuhnya mengandalkan anggaran pemerintah daerah. Menurut dia, jika ada masyarakat atau pihak swasta yang bersedia membantu pembiayaan, pemerintah cukup memberikan kemudahan dari sisi perizinan dan akses.


Sementara itu, kondisi Masjid Al-Hidayah juga tidak lepas dari peran Riza (36), yang selama sekitar 13 tahun menjadi marbot masjid tersebut. Riza mengatakan, setiap pagi dirinya berusaha membersihkan masjid. Namun, pada siang hingga sore hari, kondisi kebersihan tidak selalu bisa dipantau karena dirinya harus bekerja mencari nafkah sebagai pengemudi ojek.

"Bukannya kurang terawat. Saya sendiri itu semaksimal mungkin membersihkan setiap pagi. Adapun kalau sore atau siang kotor, karena saya tidak membersihkan, karena saya cari nafkah," kata Riza.

Berbeda dengan marbot yang mendapat gaji, Riza mengaku tidak memperoleh gaji tetap dari pekerjaannya sebagai marbot. "Kalau saya tidak ada gaji," ujarnya.

Ia menyebut, penghasilannya dari aktivitas di masjid berasal dari kotak amal. Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dirinya bekerja sebagai pengemudi ojek. "Penghasilan dari kotak amal. Kalau siang kotor, kalau sore kotor, ya saya kan kerja, saya ngojek. Kalau pagi saya nyapu, ngepel, sudah selesai," ucap dia.


Riza mengatakan, kondisi Masjid Al-Hidayah dahulu berbeda dibandingkan sekarang. Saat Terminal Harjamukti masih ramai, masjid tersebut ikut ramai didatangi masyarakat. Namun, setelah terminal ditutup, jumlah jemaah yang datang untuk salat lima waktu disebut berkurang.

"Saya itu di sini selama 13 tahun karena faktor terminal ditutup. Kalau terminalnya dibuka, itu kemungkinan ramai orang pada salat ke sini," jelas Riza.

Menurutnya, akses menuju masjid juga menjadi lebih sulit setelah terminal tidak lagi beroperasi. "Karena ditutup, kan akses jalannya kan tidak ada. Mau lewat memutar saja," katanya.

Meski demikian, Riza menyebut, aktivitas ibadah tertentu masih berlangsung. Salat Jumat, misalnya, masih diikuti cukup banyak jemaah. "Masih aktif, Jumatan juga ramai. Ya alhamdulillah, sampai subuh juga ada yang adzan, saya sendiri," ujar dia.

Namun, untuk salat pada waktu tertentu seperti Zuhur dan Asar, jumlah jemaah cenderung lebih sedikit. "Kurang ramai lah," ucap Riza.


Riza mengatakan, dirinya pada prinsipnya mendukung apabila ada pihak yang ingin membantu memperbaiki atau merenovasi Masjid Al-Hidayah. "Ya, mangga-mangga saja," kata Riza ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya pihak yang ingin melakukan renovasi.

"Mendukung," lanjutnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa masjid tersebut memiliki struktur Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Menurut Riza, pengelolaan DKM berkaitan dengan pihak Dinas Perhubungan. "Ada. Ada struktur DKM," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai aktivitas DKM, Riza menyebut struktur tersebut masih aktif. Di sisi lain, kondisi lingkungan sekitar masjid menjadi perhatian tersendiri. Berdasarkan pantauan di lokasi, area terbuka di sekitar masjid ditumbuhi rumput dan semak serta dipenuhi dedaunan kering. Pada salah satu titik yang berjarak sekitar 5-7 meter dari bangunan masjid, terlihat sampah tisu dan kemasan alat kontrasepsi berserakan di bawah pepohonan.

×
Berita Terbaru Update