Latihan Militer Indonesia-China Memicu Kekhawatiran Taiwan, Ini Penjelasan TNI AL


Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mengklaim bahwa latihan bersama dengan China yang berlangsung di perairan sebelah timur Taiwan adalah kegiatan rutin dan tidak terkait dengan latihan perang. Pernyataan ini disampaikan setelah Taiwan menyatakan keberatan atas kegiatan tersebut, yang mereka anggap sebagai tindakan provokatif.

China menyebut latihan tersebut sebagai navigation exercise atau latihan navigasi. Kegiatan ini mencakup komunikasi maritim, manuver formasi, serta pengisian ulang logistik di laut. Dalam pernyataannya, China menekankan bahwa latihan tersebut menunjukkan kemauan kedua negara untuk bekerja sama dan menjaga perdamaian kawasan.

Sementara itu, TNI AL sebelumnya menyampaikan bahwa kapal perang Indonesia, KRI I Gusti Ngurah Rai, melakukan passing exercise dengan negara-negara tertentu dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke Rusia. Juru bicara TNI AL Tunggul menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tradisi umum dalam dunia kemaritiman ketika sebuah kapal perang melintas di wilayah maritim negara lain.

"Kegiatan ini merupakan tradisi universal angkatan laut yang dilakukan saat melintas melalui wilayah maritim negara lain," ujar Tunggul kepada Reuters, tanpa secara langsung menyebut China.


Pemerintah Taiwan merespons keras latihan tersebut. Dewan Urusan Daratan Taiwan atau Mainland Affairs Council menyebut kegiatan tersebut sebagai "provokasi militer". Taiwan meminta, Beijing segera menghentikan apa yang disebutnya sebagai tindakan berbahaya.

Menurut Taiwan, kegiatan tersebut merupakan upaya China untuk menciptakan kesan kepada masyarakat internasional bahwa Beijing memiliki yurisdiksi atas perairan di sebelah timur Taiwan. Seorang pejabat senior keamanan Taiwan mengatakan kepada Reuters bahwa China telah menggambarkan interaksi passing exercise yang sebenarnya rutin dilakukan sebagai operasi bersama yang memiliki signifikansi militer.

"Angkatan laut dari berbagai negara melakukan hal ini secara rutin, dan Taiwan juga tidak terkecuali," kata pejabat tersebut.


China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meskipun Taiwan memiliki pemerintahan sendiri. Beijing juga tidak mengakui klaim kedaulatan Taiwan. Pada Juni lalu, China mulai melakukan patroli penjaga pantai di lepas pantai timur Taiwan. Langkah tersebut memicu kemarahan Taipei serta kekhawatiran dari Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat.

Pejabat intelijen militer Taiwan Wu Tien-jen mengatakan, kapal Indonesia sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang melalui Jepang dan tidak secara khusus datang untuk mengikuti latihan tersebut. Ia mengatakan, kapal Indonesia berada sekitar 70-80 mil laut dari Taiwan, di wilayah Samudra Pasifik.

"Secara militer, ini tidak memberikan dampak langsung terhadap Taiwan. Namun, kegiatan ini memiliki signifikansi geopolitik," kata Wu.


China sendiri menyebut latihan tersebut sebagai hal yang normal dan wajar. Media pemerintah China, Global Times, mengutip pakar militer Zhang Junshe yang mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan hak kedaulatan China atas perairan di sebelah timur Taiwan.

"Pengundangan kapal asing untuk melakukan latihan di perairan yang berada di bawah yurisdiksi China sepenuhnya normal dan masuk akal," kata Zhang.

Latihan tersebut berlangsung ketika Taiwan tengah menggelar latihan militer tahunan Han Kuang, yang mensimulasikan skenario menghadapi serangan China. Di sisi lain, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, sebagaimana sebagian besar negara.

Namun, Taiwan menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 300.000 pekerja migran asal Indonesia. Pemerintah Taiwan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan wilayah tersebut dan berulang kali mengecam tekanan militer dari China.

Lebih baru Lebih lama