-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Unggahan medsos ungkap cara masyarakat menghadapi cuaca panas ekstrem

Jumat, 28 Agustus 2026 , 19.28 WIB Last Updated 2026-08-29T06:10:21Z
Unggahan medsos ungkap cara masyarakat menghadapi cuaca panas ekstrem


Dengan semakin sering dan intensnya cuaca panas ekstrem di berbagai daerah, penting bagi masyarakat untuk memahami komunitas yang mengalami kesulitan serta jenis bantuan apa yang mereka butuhkan. Hal ini menjadi kunci dalam melindungi kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Sebuah studi baru dari UC Irvine menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin tersembunyi dalam percakapan sehari-hari di media sosial. Dalam studinya, para peneliti menganalisis 24.598 unggahan terkait cuaca panas di X dari berbagai wilayah di California antara tahun 2016 hingga 2022. Mereka menemukan bahwa tempat tinggal, moda transportasi yang digunakan, serta ketersediaan fasilitas yang dimiliki masyarakat sangat memengaruhi cara mereka menceritakan cuaca panas ekstrem, termasuk bagaimana mereka menggambarkan dampaknya pada kehidupan sehari-hari atau cara mereka mengatasinya.

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Communications ini menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi alat pelengkap yang berguna untuk memahami pengalaman masyarakat saat menghadapi panas ekstrem, sekaligus membantu merancang bantuan kesehatan publik yang lebih tepat sasaran.


Panas ekstrem adalah ancaman kesehatan masyarakat yang terus meningkat, di mana kondisi tempat tinggal, penghasilan, dan jenis pekerjaan menjadi penentu seberapa rentan seseorang terhadap panas. Alih-alih hanya melihat angka suhu atau daftar penyakit akibat panas, tim peneliti dari UC Irvine mempelajari bagaimana orang-orang menceritakan dampak panas pada kehidupan sehari-hari serta cara mereka bertahannya.

Para peneliti mengelompokkan unggahan media sosial ke dalam dua kategori: cara bertahan seperti minum air yang cukup, memakai AC, pergi berenang, atau menggeser jam olahraga. Dan yang kedua adalah dampak pada kehidupan seperti masalah kesehatan, pekerjaan yang terganggu, acara yang dibatalkan, kekhawatiran pada hewan peliharaan atau tanaman, hingga pembengkakan biaya rumah tangga.

Mereka kemudian mencocokkan pola unggahan tersebut dengan data wilayah terkait penghasilan, kondisi rumah, transportasi, dan keberadaan pohon atau ruang hijau. Hasilnya menunjukkan bahwa jenis tempat tinggal menentukan seberapa sering orang membahas cara bertahan, sementara pengguna transportasi aktif seperti pejalan kaki atau pesepeda lebih sering mengunggah soal dampak panas pada hidup mereka.


Peneliti mencatat bahwa pengguna transportasi aktif terpapar panas secara langsung saat berpergian, menjadikan pembenahan infrastruktur transportasi sebagai bagian penting untuk melindungi warga dari suhu yang terus naik. Sementara wilayah dengan jumlah warga yang tinggal di rumah rentan seperti karavan (RV), mobil van, dan perahu, 15 persen lebih kecil kemungkinannya membuat unggahan positif soal cuaca panas dibanding daerah lain.

Daerah ini juga 22 persen lebih jarang mengunggah cara bertahan dari panas. Temuan ini sangat penting karena rumah jenis ini biasanya memiliki peredam panas yang buruk dan bisa menjadi sangat panas sampai tingkat yang membahayakan saat cuaca ekstrem.

Para peneliti menyebut pola ini sebagai peluang untuk memberikan edukasi kesehatan yang lebih tepat sasaran mengenai keamanan panas di dalam ruangan, khususnya bagi warga yang tinggal di hunian yang sulit dijaga suhunya agar tetap aman.


Para peneliti melihat media sosial bukan sebagai pengganti sistem pemantauan kesehatan resmi yang sudah ada, melainkan sebagai sumber informasi tambahan yang bisa membantu pejabat pemerintah memahami dampak panas ekstrem pada warga saat kejadian sedang berlangsung. Studi menemukan bahwa jumlah unggahan tentang cuaca panas akan meningkat seiring berjalannya kenaikan suhu bulanan.

Karena percakapan online dapat merekam pengalaman langsung mulai dari kerepotan akibat rumah yang terlalu panas, perubahan rute bepergian, hingga acara yang dibatalkan, media sosial bisa mengungkap berbagai dampak panas yang sulit ditangkap hanya melalui data resmi biasa.


Menggabungkan informasi dari media sosial ini dengan data tempat tinggal, transportasi, dan kondisi ekonomi warga pada akhirnya dapat membantu lembaga kesehatan masyarakat memetakan wilayah mana saja yang paling membutuhkan imbauan atau bantuan penanganan panas. Sebagai contoh, kawasan yang memiliki banyak rumah rentan akan sangat terbantu dengan edukasi yang berfokus pada cara menjaga suhu ruangan agar tetap aman.

Sementara itu, wilayah yang padat pengguna jalan kaki, pesepeda, atau penumpang angkutan umum membutuhkan perencanaan transportasi yang ramah cuaca panas serta perlindungan dari paparan panas saat berjalan, bersepeda, atau menunggu bus.

Di tengah ancaman gelombang panas yang diprediksi makin sering dan parah, temuan ini dapat membantu pejabat kesehatan publik keluar dari pola imbauan yang itu-itu saja, dan beralih ke strategi komunikasi yang dirancang sesuai dengan pengalaman nyata warga di lapangan.

×
Berita Terbaru Update