-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

CIA buka 71 dokumen rahasia, jejak peringatan sebelum 9/11 terungkap

Sabtu, 12 September 2026 , 14.11 WIB Last Updated 2026-09-12T09:45:34Z

JAKARTA - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) membuka 71 dokumen pengarahan rahasia presiden yang memperlihatkan bagaimana intelijen AS melacak Osama bin Laden dan Alqaidah selama bertahun-tahun sebelum serangan 11 September 2001.


Dokumen tersebut mengungkap bahwa kekhawatiran mengenai serangan di wilayah Amerika Serikat, pembajakan pesawat, hingga kemungkinan penggunaan pesawat bermuatan bahan peledak telah muncul jauh sebelum empat pesawat dibajak pada pagi 9/11.


CIA mendeklasifikasi dokumen-dokumen tersebut pada Jumat, 11 September 2026, bertepatan dengan peringatan 25 tahun serangan yang menewaskan hampir 3.000 orang. Badan tersebut menyebutnya sebagai pelepasan terbesar President's Daily Brief (PDB) terkait 9/11 yang pernah dilakukan CIA.


PDB merupakan salah satu produk intelijen paling sensitif pemerintah Amerika. Laporan tersebut disusun komunitas intelijen untuk presiden dan sejumlah kecil pejabat paling senior pemerintahan.


Direktur CIA John Ratcliffe menyebut pelepasan 71 dokumen tersebut sebagai "tindakan transparansi yang luar biasa". Lebih dari 100 halaman analisis CIA yang sebelumnya dirahasiakan kini dapat dibaca publik, sebagaimana diberitakan sejumlah media Amerika.


Dokumen-dokumen itu tidak menunjukkan bahwa pemerintah Amerika telah mengetahui secara spesifik waktu, lokasi, dan metode serangan 11 September. Namun, arsip tersebut memperlihatkan semakin kuatnya sinyal ancaman Bin Laden dan jaringan Alqaidah dalam beberapa tahun menjelang serangan.


Jejak itu bahkan dapat ditelusuri setidaknya hingga Februari 1998. Salah satu PDB bertanggal 13 Februari 1998 berjudul "Terrorists Seeking WMD Capability". Dokumen yang disiapkan pada masa pemerintahan Presiden Bill Clinton tersebut membahas upaya Bin Laden dan kelompok ekstremis lainnya memperoleh kemampuan senjata pemusnah massal.


Beberapa bulan kemudian, perhatian intelijen Amerika terhadap Bin Laden semakin intensif. Laporan April 1998 menggambarkan keengganan Taliban menyerahkan Bin Laden yang saat itu berada di Afghanistan.


Menurut laporan tersebut, Taliban memandang Bin Laden sebagai "tamu" dan masih mengingat dukungannya ketika Afghanistan menghadapi pendudukan Soviet. Kondisi tersebut membuat Taliban enggan mengawasi atau membatasi kegiatannya secara ketat.


Pada Juni 1998, CIA telah menyusun laporan mengenai kemungkinan target serangan anti-Amerika oleh Bin Laden. Sebulan kemudian, laporan lain secara eksplisit membahas informasi bahwa Bin Laden merencanakan serangan di dalam Amerika Serikat.


Analisis Juli 1998 menyebut masuk akal jika Bin Laden memberikan prioritas tinggi terhadap serangan di wilayah Amerika. Intelijen juga mencatat ketertarikannya pada penggunaan agen kimia dan biologis.


Yang lebih mencolok muncul beberapa bulan kemudian. Pada September 1998, salah satu pengarahan intelijen menyebut pilihan yang disukai Bin Laden adalah menyerang Amerika di wilayahnya sendiri, termasuk Washington. Dokumen itu bahkan memunculkan kemungkinan bahwa jaringan tersebut dapat menerbangkan pesawat bermuatan bahan peledak ke sebuah kota di Amerika.


Peringatan mengenai pesawat kembali muncul pada Desember 1998. Sebuah PDB membahas persiapan jaringan Bin Laden untuk membajak pesawat Amerika dan melakukan serangan lainnya. Intelijen melaporkan sejumlah konspirator telah berhasil melewati pemeriksaan keamanan ketika melakukan semacam uji coba di sebuah bandara New York yang tidak disebutkan namanya.


Dokumen tersebut juga menyatakan sejumlah anggota jaringan Bin Laden telah memperoleh pelatihan pembajakan. Rangkaian laporan itu menjadi penting bila dibaca dari perspektif 25 tahun kemudian. Pada 11 September 2001, 19 anggota Alqaidah membajak empat pesawat komersial. Dua pesawat diterbangkan ke menara World Trade Center di New York, satu menghantam Pentagon, sedangkan pesawat keempat jatuh di Pennsylvania setelah penumpang melawan para pembajak.


Namun, dokumen yang baru dibuka memperlihatkan bahwa ancaman pesawat dan pembajakan sebenarnya sudah masuk dalam radar intelijen Amerika beberapa tahun sebelumnya.


Pada 1999, perhatian CIA juga tertuju pada upaya jaringan Bin Laden memperoleh material yang dapat digunakan untuk membuat "dirty bomb", yakni senjata konvensional yang mengandung material radioaktif.


Intelijen AS menyatakan anggota jaringan tersebut melakukan eksperimen menggunakan bahan peledak untuk meningkatkan daya rusaknya.


Pengarahan kepada Presiden George W. Bush pada awal 2001 juga masih menyoroti Bin Laden. Salah satu fokusnya adalah percobaan jaringan tersebut menggunakan metode sederhana untuk membuat dan menggunakan agen biologis.


Tetapi, pada pertengahan 2001, perhatian bergeser semakin jelas kepada kemungkinan serangan di Amerika Serikat.


Sebuah laporan pada Agustus 2001 menyebut Bin Laden tetap berkomitmen melakukan serangan teroris di dalam AS. Para analis mengingatkan bahwa serangan Alqaidah terhadap kedutaan besar AS di Afrika pada 1998 menunjukkan organisasi tersebut mampu merencanakan operasi selama bertahun-tahun dan tidak mudah dihentikan oleh kegagalan.


Lebih penting lagi, intelijen saat itu mencatat adanya "aktivitas mencurigakan" di Amerika yang konsisten dengan persiapan pembajakan atau bentuk serangan lainnya.


Aktivitas tersebut mencakup pengintaian terhadap gedung-gedung federal di New York.


Dokumen Agustus 2001 itu juga menyebut FBI sedang menjalankan sekitar 70 penyelidikan penuh di seluruh Amerika yang dianggap memiliki hubungan dengan Bin Laden.


Temuan itu memperlihatkan paradoks yang kemudian menjadi salah satu persoalan terbesar dalam evaluasi pasca-9/11: pemerintah AS memiliki sejumlah potongan informasi mengenai Bin Laden, Alqaidah, pembajakan, dan kemungkinan serangan di Amerika, tetapi tidak berhasil merangkainya menjadi peringatan operasional yang mampu mencegah serangan.


Koleksi CIA tidak berhenti pada dokumen sebelum 9/11. Salah satu dokumen bertanggal 12 September 2001 memberikan gambaran mengenai informasi awal yang diterima pemerintah hanya sehari setelah serangan.


Seorang sumber disebut mengindikasikan bahwa operasi tersebut telah direncanakan selama sekitar dua tahun. Sumber itu juga menyebut Gedung Capitol AS sebagai salah satu target serangan.


Pesawat United Airlines Flight 93 diyakini menuju Washington sebelum jatuh di dekat Shanksville, Pennsylvania. Penumpang dan awak pesawat melawan para pembajak setelah mengetahui pesawat lain telah digunakan untuk menyerang World Trade Center dan Pentagon.


Dokumen lain yang berasal dari beberapa pekan sebelum serangan menggambarkan salah satu kekuatan operasional Alqaidah: kelompok itu memiliki struktur pengambilan keputusan yang fleksibel dan definisi target yang cukup luas.


Karakter tersebut memungkinkan para perencana operasi menyesuaikan rencana dengan perubahan situasi tanpa kehilangan tujuan utama serangan.


Meski banyak peringatan yang terdengar mengkhawatirkan ketika dibaca setelah serangan terjadi, dokumen-dokumen baru tersebut tidak serta-merta membuktikan CIA sudah mengetahui rencana 9/11 dan gagal bertindak.


Associated Press, yang menelaah dokumen tersebut, mencatat arsip yang dilepas tidak tampak menghasilkan terobosan besar mengenai bagaimana serangan direncanakan ataupun sejauh mana pejabat Amerika saat itu memahami detail plot tersebut.


Sebagian dokumen juga masih mengalami penyuntingan atau redaksi untuk melindungi identitas sumber dan informasi sensitif lainnya.


Nilai penting arsip itu justru terletak pada kemampuannya memperlihatkan bagaimana pemahaman intelijen AS terhadap ancaman Alqaidah berkembang sedikit demi sedikit.


Pada 1998, CIA sudah mencatat kemungkinan serangan di Amerika dan ketertarikan jaringan Bin Laden terhadap pembajakan. Pada 2001, badan intelijen melihat meningkatnya indikasi bahwa sebuah operasi besar sedang disiapkan.


Tetapi, antara mengetahui adanya ancaman dan mengetahui secara tepat siapa yang akan menyerang, kapan, di mana, dan dengan cara apa terdapat kesenjangan besar.


Kesenjangan itulah yang kemudian menjadi pusat penyelidikan Komisi 9/11.


Setelah serangan, penyelidikan bipartisan menemukan masalah serius dalam pertukaran informasi antara lembaga-lembaga pemerintah, terutama CIA dan FBI.


Informasi yang dimiliki satu badan tidak selalu mengalir secara efektif kepada badan lain. Akibatnya, potongan-potongan intelijen yang apabila digabungkan mungkin memberikan gambaran ancaman lebih jelas tetap tersebar di berbagai institusi.


Temuan tersebut kemudian mendorong restrukturisasi besar sistem keamanan nasional Amerika.


Pemerintah AS membentuk posisi Director of National Intelligence untuk mengoordinasikan komunitas intelijen. National Counterterrorism Center juga dibentuk untuk menyatukan analisis mengenai ancaman terorisme domestik maupun internasional.


Serangan 9/11 selanjutnya mengubah hampir seluruh arsitektur keamanan Amerika. Washington membentuk Department of Homeland Security, memperketat keamanan penerbangan, memperluas kemampuan pengawasan, dan melancarkan perang global melawan teror.


Amerika kemudian menginvasi Afghanistan untuk menggulingkan Taliban yang memberikan perlindungan kepada Alqaidah. Bin Laden akhirnya ditemukan dan dibunuh pasukan khusus AS di Abbottabad, Pakistan, pada 2011.


Namun, 25 tahun kemudian, pertanyaan tentang apa yang diketahui pemerintah sebelum serangan tetap memiliki daya tarik besar.


CIA bukan satu-satunya lembaga yang membuka arsip pada peringatan seperempat abad 9/11.


Arsip Nasional Amerika Serikat pada Jumat, 11 September 2026, juga merilis dokumen baru yang berasal dari pekerjaan National Commission on Terrorist Attacks Upon the United States atau Komisi 9/11.


Dokumen tersebut mencakup ringkasan PDB serta catatan wawancara dengan pejabat tinggi keamanan nasional dari pemerintahan Bill Clinton dan George W. Bush.


Komisi 9/11 bekerja antara 2002 dan 2004 untuk menyelidiki persiapan serangan, respons pemerintah, serta kelemahan sistem keamanan nasional yang memungkinkan operasi Alqaidah lolos dari deteksi.


Gedung Putih merujuk pada pelepasan dokumen Arsip Nasional tersebut ketika dimintai tanggapan mengenai deklasifikasi CIA.


Kini, 25 tahun setelah menara World Trade Center runtuh, dokumen-dokumen rahasia itu memberi kesempatan kepada publik membaca ancaman sebagaimana ia terlihat sebelum sejarah memberikan jawabannya.


Tidak ada satu laporan yang menyatakan empat pesawat akan dibajak pada 11 September 2001 dan digunakan sebagai senjata.


Namun, jejak intelijen yang kini terbuka menunjukkan sesuatu yang tetap mengusik seperempat abad kemudian: jauh sebelum 9/11, pemerintah Amerika telah mengetahui Bin Laden menginginkan serangan di tanah AS, telah mempertimbangkan pembajakan sebagai ancaman, dan bahkan pernah menerima analisis mengenai kemungkinan pesawat digunakan untuk menghantam sebuah kota Amerika.


Potongan-potongan peringatan itu ada. Yang tidak pernah terbentuk tepat waktu adalah gambaran lengkap mengenai bencana yang akan datang.

×
Berita Terbaru Update