
Harga emas dunia saat ini masih berada dalam tren pelemahan, meskipun terdapat ketidakpastian geopolitik yang semakin meningkat di berbagai belahan dunia. Meski emas sering dianggap sebagai aset aman (safe haven), logam mulia ini kini menghadapi tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta ekspektasi kenaikan suku bunga yang tinggi di Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data dari Trading Economics per 31 Juli, harga emas berada di level US$ 4.042,97 per ons troi. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 1,47% dalam sehari dan melemah hingga 6,41% secara year-to-date (YtD). Hal ini menjadi pertanda bahwa pasar sedang mengalami dinamika yang cukup signifikan.
Di tengah situasi ini, para pelaku pasar perlu memperhatikan beberapa sentimen utama yang diperkirakan akan memengaruhi pergerakan harga emas hingga akhir tahun. Salah satu faktor utama yang memengaruhi adalah meningkatnya eskalasi konflik geopolitik, terutama antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Menurut Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, konflik ini justru mendorong penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi kurang menarik, sehingga mengalami tekanan.
Selain itu, konflik geopolitik juga meningkatkan risiko inflasi di AS. Situasi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi. Bahkan, ada kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi kembali meningkat.
Meski dalam jangka pendek menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS, Ariston menilai prospek fundamental emas masih cukup kuat. Salah satu penopangnya adalah aksi pembelian emas oleh berbagai bank sentral dunia sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa. Emas juga dipandang sebagai salah satu aset safe haven selain dolar AS, sehingga minat investor untuk membeli emas tetap tinggi di masa seperti sekarang ini.
Permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) juga diperkirakan tetap terjaga selama ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global masih berlangsung. Oleh karena itu, Ariston menyarankan investor domestik untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan investasi berdasarkan fluktuasi harga jangka pendek. Ia menilai strategi investasi secara berkala atau Dollar-Cost Averaging (DCA) masih menjadi pilihan yang tepat karena mampu mengurangi risiko volatilitas harga.
Dalam jangka panjang, harga emas masih memiliki kecenderungan bergerak naik seiring tingginya permintaan sebagai aset pelindung nilai. Untuk prospek hingga akhir 2026, Ariston memperkirakan harga emas dunia masih akan bergerak dalam rentang yang relatif stabil. Meski demikian, volatilitas diperkirakan tetap tinggi mengikuti perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
"Hingga akhir tahun bisa berada kisaran US$ 3.800–US$ 4.300," ujar Ariston.